Intercollegiate Golf Series mendapat kejutan berarti usai gelaran perdana kompetisi junior 23-25 November lalu.

Meskipun belum bisa diikuti oleh perwakilan dari seluruh Indonesia, edisi perdana Intercollegiate Golf Series terbukti menghadirkan kompetisi yang berarti bagi 29 peserta yang mengikutinya. Sepanjang 54 hole, para peserta harus bermain dengan mengandalkan diri mereka sendiri. Sambil sesekali mengandalkan alat pengukur jarak untuk memastikan pilihan club yang tepat, sebanyak 17 pegolf putra dan 12 pegolf putri ini berjuang semaksimal mungkin untuk mencatatkan hasil terbaik.

Bianca Naomi Amina Laksono dan Randy Arbenata Mohamad Bintang sukses menjadi yang terbaik dalam seri perdana yang dimainkan di Damai Indah Golf PIK Course tersebut. Adapun tuan rumah penyelenggaraan seri pertama ini, Ciputra Golfpreneur Foundation (CGF)—yang bersama Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung dan Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember menggelar Seri I—yang menurunkan delapan atletnya, juga layak berbangga dengan sejumlah hasil positif dari atlet-atlet binaannya.

Bianca jelas mencatatkan prestasi terbaik bagi CGF setelah meraih predikat terbaik, dengan Sania Talita Wahyudi yang sempat meramaikan persaingan kelompok Girls A, meski kemydian finis di tempat ketiga. Adapun Rayhan Abdul Latief meraih tempat kedua di kelompok putra. Dua atlet CGF lain yang turun di kelas Girls B, Caithlyn Darlene Ong dan Richtier Joelle Hanslkie, masing-masing menempati posisi kedua dan ketiga. Selain mereka yang berprestasi, masih ada Markus Maximus Soenarjo, Reicherin Giftrudy Hanslkie dan Cynthia Valerie Ong yang bakal menuai pengalaman berharga dalam kompetisi skala nasional ini.

Tak kalah menakjubkan ialah semangat seluruh peserta yang ikut berpartisipasi. Sejumlah orangtua sempat ragu untuk mendaftarkan putri-putra mereka lantaran seluruh peserta diwajibkan membawa sendiri tas golfnya dan bertanding tanpa kedi. Selain itu, beberapa atlet juga sebelumnya bertanding pada ajang Indonesian Junior Golf yang dimainkan di Semarang, persis tiga hari sebelum IGS I ini berlangsung.

Sebagian terlihat berhasil menyesuaikan kondisi dan tampil prima, sebagian lainnya harus bertanding dengan kelelahan. Meskipun pada akhirnya, ajang ini tidak diikuti oleh sejumlah atlet terbaik di bawah usia 19 tahun, toh kualitas permainan yang dihadirkan sudah cukup menghadirkan drama yang kerap mewarnai kompetisi level tinggi.

Dalam edisi perdana ini, IGS tak hanya mendapat pengakuan dari Persatuan Golf Indonesia, tapi juga Junior Golf Tour of Asia (JGTA). Artinya, mereka yang bermain dengan baik berhak mendapatkan poin para Junior Order of Merit JGTA.

 

Para pemenang IGS I Junior Competition
IGS menjadi salah satu ajang yang bisa dimanfaatkan para atlet usia di bawah 19 tahun, namun upaya pembinaan perlu digiatkan untuk meningkatkan jumlah atlet. Foto: Ciputra Golfpreneur Foundation.

 

Tak cukup sampai di situ, IGS I ini turut mendapat kejutan tambahan. Minimnya kompetisi selama ini turut menjadi pertimbangan World Amateur Golf Ranking (WAGR) untuk memberikan poin kepada dua pemain yang finis di jajaran teratas dari kelas putri dan putra.

Pengakuan dari WAGR ini ikut mengubah peringkat para pemain Indonesia di jajaran peringkat dunia tersebut. Kemenangan di PIK Course hari Kamis (25/11) itu menempatkan Bianca di peringkat 3130 pada WAGR. Baginya, prestasi ini menjadi istimewa lantaran untuk pertama kalinya ia berhasil mendapatkan poin WAGR.

Sementara, bagi Rayhan, finis di tempat kedua di belakang Randy kini menempatkannya sebagai pegolf amatir No.1 Indonesia, menggantikan Jonathan Xavier Hartono. Rayhan kini menghuni peringkat 325 menyusul serangkaian hasil positif yang ia dapatkan tahun 2021 ini.

Kehadiran IGS jelas memberi kesempatan ekstra bagi para pegolf junior untuk berkompetisi. Namun, hal ini tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Kompetisi tanpa pembibitan dan pembinaan yang sehat juga tidak akan berdampak positif bagi masa depan golf di Indonesia.

Pasalnya, pembinaan bukanlah semata-mata menyediakan turnamen untuk berkompetisi. Upaya-upaya yang menyasar ke akar rumput atau grassroot untuk golf selama ini belum terstruktur dengan baik. Bahkan peningkatan partisipasi golf belakangan ini lebih sebagai dampak dari pandemi daripada langkah strategis yang diupayakan oleh induk olahraga golf itu sendiri—belakangan ini jumlah partisipasi tersebut juga cenderung berkurang seiring aktivitas sekolah dan perkantoran yang berangsur-angsur pulih.

Ini berarti, variasi kompetisi yang ada mesti mendapat upaya ekstra pula untuk menghadirkan atlet-atlet yang kelak akan berkompetisi dari tiap kompetisi yang dijadwalkan. Dengan demikian, kita bisa mendapatkan anak-anak potensial yang kelak mampu mengisi jurang-jurang yang ada saat ini.