Abraham Ancer menyebutkan peran sang ayah yang kerap menemukan jalan baginya untuk menjadi lebih baik. Jerih payah sang ayah itu seakan terjawab dengan keberhasilannya menjuarai World Golf Championships-FedEx St. Jude Invitational.
Oleh Abraham Ancer
Astaga, sungguh membutuhkan waktu beberapa lama sampai kemenangan ini bisa saya resapi. Saya berusaha untuk menyerapnya pada seremoni di green hole 18 dan keadaannya sungguh sulit dipercaya. Apalagi hal ini merupakan sesuatu yang sudah saya kerjakan sejak masih kecil. Benar-benar sebuah mimpi yang menjadi kenyataan bisa memenangkan ajang PGA TOUR dan bisa melakukannya di panggung sebesar World Golf Championships-FedEx St. Jude Invitational tentulah terasa sangat, sangat keren.
Putaran final itu sungguh tidak masuk akal dan saya pikir saya membutuhkan skor yang sangat rendah agar punya peluang. Ternyata sembilan hole terakhir itu bagaikan ujian untuk bertahan hidup. Mungkin saya cukup beruntung, tapi ada beberapa kesalahan dalam sejumlah turnamen terakhir, yang saya pikir saya sudah berbuat cukup untuk bisa menang dan saya tetap tidak menang. Kali ini semuanya berjalan sesuai harapan dan saya sungguh bersyukur. Pukulan kedua dan putt terakhir di hole 18 pada play-off itu persis sesuai dengan bayangan saya dan berjalan dengan sempurna!
Tahun ini dan beberapa musim sebelumnya saya pernah nyaris menang. Saya tidak ingin berpikir, ya Tuhan, saya sungguh menantikannya, dan tak ingin memberi tekanan ekstra pada diri sendiri. Jadi, saya tetap sabar dan tidak mengubah apapun. Saya hanya berusaha bermain golf lebih baik dan tetap tenang. Jelas ada beberapa pekan buruk yang bisa menggagalkan Anda, dan mungkin Anda mulai mencari hal-hal yang tidak semestinya, tapi saya belajar pada tahun pertama saya di sini (PGA TOUR) dan menampilkan permainan golf yang buruk, dan cukup bersyukur sekarang bahwa saya mempelajari semuanya dengan cara yang benar.
Ketika masih kecil, saya sudah ingin menjadi pegolf profesional. Rasanya impian itu sangat jauh sampai Anda terus berlatih mengejarnya dan melihat apa yang bakal terjadi, namun perasaan itu selalu ada dalam diri saya. Ada hal kecil yang kerap mengingatkan kalau saya bisa melakukannya, dan sering kali dalam karier ketika saya bertumbuh, saya merasa perjalanan ini sungguh berat. Entahlah saya bisa mendekati PGA TOUR.
Namun, sedikit demi sedikit saya menjadi lebih baik tiap tahunnya dan banyak hal yang terbuka bagi saya untuk bisa berada di posisi saya sekarang. Misalnya, ketika saya beranjak kuliah dari sekolah menengah atas, sekolah ke Odessa Junior College dan memainkan permainan golf yang sangat bagus, lalu pindah ke University of Oklahoma. Rasanya saya memainkan golf yang bagus pada saat yang tepat dalam situasi-situasi tersebut. Ini karier yang sulit diterima akal dan olahraga yang juga gila di mana ada begitu banyak yang (mampu bermain dengan) luar biasa dan entah bagaimana mereka tidak bisa menembus (PGA TOUR). Dan ada mereka yang orang kira tidak begitu hebat dan mereka menemukan jalannya dan ada di sini.

Ayah saya, secara harfiah, melakukan semuanya bagi saya ketika saya tumbuh dewasa. Bahkan ketika kami kesulitan keuangan, ia akan mencari jalan tanpa mengeluhkan skor saya. Baginya, tidak masalah saya main berapa. Ia mengantar saya mengikuti berbagai turnamen, dan sekarang begitu tahu berapa biaya perjalanannya, saya tidak tahu bagaimana ia bisa mencukupinya. Ia selalu menemukan jalan agar saya bisa berkesempatan untuk menjadi lebih baik, dan agar bisa bermain.
Tidaklah mudah tumbuh besar di Reynosa, Meksiko, dan menembus PGA TOUR. Peluangnya sangat kecil. Namun, saya bersyukur pada semua usaha ayah karena ia bekerja keras supaya saya bisa bermain di sini, dan saya berharap ia bersama saya merayakan keberhasilan ini. Saya tahu ia selalu bersama saya sepanjang putaran, tapi meskipun terkesan egois, saya sungguh teramat ingin dia berada di sini.
Ketika play-off, saya bisa merasa kalau dia berada di lapangan sepanjang waktu. Sepanjang turnamen, entah mengapa saya merasa sangat tenang. Mungkin saya merasa lebih gugup pada presentasi trofi daripada ketika memainkan play-off. Rasanya saya sudah siap; rasanya ia berada di sana bersama saya. Jelas ia akan luar biasa bangga dan saya tahu ia luar biasa bangga dan akan mengadakan pesta besar di sana.
Kemenangan ini sungguh besar. Saya tahu Meksiko kini berada dalam sorotan yang lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya, dan bakal menjadi jauh lebih baik. Semoga kemenangan ini menginspirasi lebih banyak anak untuk mencoba dan bermain golf dan belajar tentang olahraga ini dan sekadar menumbuhkan olahraga ini secara umum.
Saya sangat bersemangat ketika berhubungan dengan negara saya. Carlos Ortiz sudah menampilkan permainan golf yang sungguh bagus dan rasanya kami sudah melakukan pekerjaan kami dengan baik, tapi masih ada (prestasi lain) yang bakal tiba. Ada banyak pemain tangguh di sana yang lapar untuk menuju PGA TOUR dan dalam benak saya, saya tidak ragu, kalau kami tak hanya bakal berdua di sini, tapi juga empat atau lima dan semoga lebih banyak lagi (yang bermain pada PGA TOUR) dalam tahun-tahun mendatang.
CATATAN
Abraham Ancer menjadi pegolf Meksiko pertama yang memenangkan ajang World Golf Championships dan pegolf Meksiko keempat yang menjuarai ajang PGA TOUR. Ia juga menjadi pegolf Meksiko pertama yang bermain bagi Tim Internasional pada Presidents Cup 2019. Anda bisa menyaksikan Abraham dan ajang PGA TOUR melalui GOLFTV powered by PGA TOUR.


