Bermodalkan rasa percaya diri, Tony Finau kembali ke panggung juara pada THE NORTHERN TRUST, sekaligus memimpin klasemen FedExCup.
Selama 1.975 hari, Tony Finau tak pernah goyah. Ketika umat pers beralih dari memujinya hingga mempertanyakannya, tak sekali pun ia berkedip. Sama juga ketika para penggemarnya yang dulu bersemangat untuk memprediksi Finau akan menjadi salah satu nama besar, lalu kini mulai mempertanyakan apakah ia memiliki nyali untuk bisa menang pada hari Minggu.
Bagi Finau, tidak ada yang pernah berubah. Dia tahu apa yang ia butuhkan untuk bisa menang. Sama halnya dengan ia mengetahui bahwa ia memiliki semua atribut itu.
”Saya terus mempercayai diri sendiri. Pada dasarnya seperti itu,” ujar Finau. ”Saya pikir rasa pencapaian itu jauh lebih besar bagi diri sendiri. Saya sudah berlatih luar biasa keras, tidak hanya pada permainan, tapi juga pada tubuh saya untuk menempatkan diri pada posisi seperti ini dan pada akhirnya saya tahu kalau saya bakal berhasil.”
Berkat upayanya, dan mungkin membuatnya lega juga, kemenangan itu akhirnya terjadi. Prestasi itu bahkan mungkin terjadi pada salah satu panggng terbesar. Permainannya pada putaran final THE NORTHERN TRUST, ajang pertama FedExCup Playoff, sudah cukup untuk memberinya kemenangan play-off pertama atas Cameron Smith, setelah pimpinan klasemen sebelumnya, yang merupakan pegolf No.1 Dunia, Jon Rahm tergelincir di hole-hole terakhir.
Kemenangan ini memberikan gelar pertamanya sejak Puerto Rico Open 2016. Dan yang lebih penting lagi, ia kini berada di posisi teratas klasemen FedExCup, menuju ajang pekan ini, BMW Championship. Kemenangan itu jelas memberikan momen paling signifikan dalam kariernya yang masih terus berkembang.
”Kalah itu berat, dan sungguh berat mengalami kekalahan di depan dunia,” ujar Finau. ”Saya sudah mengalaminya beberapa kali tahun ini; dalam beberapa play-off hal tersebut terjadi pada saya. Semua itu membuat saya lebih lapar. Jika semua hal itu tidak melunturkan semangat, Anda akan menjadi lebih lapar. Kalian terus bertanya kepada saya, ’Kapan Anda akan menang lagi?’ Dan pertanyaan itu membuat saya lebih lapar lagi.”
Pegolf berusia 31 tahun ini, antara adil atau tidak, sudah menjadi poster pada tiap kisah bernada ”Bagaimana Seandainya?” dan ”Apa yang Terjadi?” selama lima tahun terakhir. Meskipun ada begitu banyak pemain pada PGA TOUR yang menempati posisi serupa—hampir, tapi tak cukup tangguh untuk meraih kemenangan—justru Finaulah yang paling banyak menerima kritikan.
””Saya tahu kalau kemenangan itu sudah dekat; permainan saya pada setiap hari Minggu memberi tahu kalau saya sudah makin dekat, ….”
Sudah jelas sebagian besar kritik itu juga lantaran serangkaian kemampuannya sendiri. Sebelum tahun ini, Finau berada di jajaran sepuluh besar dalam jarak driving pada empat dari lima musim terakhir—pengecualiannya terjadi pada musim 2019-2020 ketika ia finis T13—dan dia ada di jajaran 20 besaar untuk rata-rata skor dalam lima musim terakhir. Ia juga kerap berada di jajaran atas pada kategori Strokes Gained: Tee to Green sejak 2017, rata-rata finis di posisi 14 pada kurun waktu tersebut.
Statistik yang sangat solid itu membawanya 40 kali finis di sepuluh besar sejak kemenangan pertamanya pada Puerto Rico Open—musim ini sendiri ia sudah tujuh kali di sepuluh besar—8 kali finis di tempat kedua (dengan Louis Oosthuizen yang mencapai posisi itu lebih banyak) dan tampil pada Presidents Cup dan Ryder Cup.
Sepertinya ia sudah memiliki semuanya. Kecuali kemenangan.
”Begitulah adanya dalam olahraga ini. Ketika Anda tak kunjung menuntaskannya (dengan kemenangan), seiring berjalannya waktu, mereka takkan membuat Anda luput dari keraguan,” ujarnya lagi. ”Jadi, saya tahu, buat saya, saya mesti membuktikan kalau orang-orang sudah keliru dengan meraih kemenangan. Begitulah pada dasarnya dan begitulah olahraga ini.
”Saya tahu kalau kemenangan itu sudah dekat; permainan saya pada setiap hari Minggu memberi tahu kalau saya sudah makin dekat, dan ketika melihat skor-skor saya, saya melakukan putt penentu. Hanya saja terkadang permainan ini memang lucu. Banyak orang yang berhasil dengan jumlah pukulannya atau apapun itu. Rasanya saya malah kurang beruntung pada sebagian besar permainan di hole-hole terakhir untuk memenangkan sebuah turnamen golf.”
Namun, biarlah pesan ini menjadi milik semua orang, dari sesama pegolf PGA TOUR sampai pegolf akhir pekan di lapangan di kota Anda. Suara-suara dan narasi-narasi di luaran sana tidaklah berarti ketika berurusan dengan keberhasilan seseorang. Rasa percaya diri dan keyakinan diri yang tak pernah goyah, itulah yang paling penting. Jika tidak percaya, tanyakan saja kepada Finau.
”Saya belum pernah meraih kemenangan yang mungkin memiliki jenis keyakinan dan percaya diri seperti itu, tapi Anda harus memilikinya,” ujarnya. ”Saya harus yakin kalau saya bermain dan mengalahkan (Justin Thomas) hari ini, saya bisa mengalahkan Jon Rahm. Saya harus meyakini hal itu, dan saya melakukannya, dan akan terus melakukan hal serupa, dan itulah satu-satunya alasan saya berdiri di sini sebagai seorang juara.
”Saya terus meyakini diri sendiri, tak soal bagaimana hasilnya, dan berusaha melakukan yang terbaik.”


