Anirban Lahiri berharap menemukan kembali performanya melalui ajang Genesis Invitational yang dimulai Kamis (17/2) ini.
Dua hal yang Anirban Lahiri harap bisa kembali tajam pekan ini ialah permainan iron dan short game-nya. Ia memang membutuhkan dua aspek tersebut untuk memulai serangkaian ajang PGA TOUR, dimulai dari The Genesis Invitational, ajang yang digelar oleh Tiger Woods.
Pegolf India berusia 34 tahun itu mengakui bahwa performanya saat ini masih jauh dari harapan. Sejak awal tahun ini, ia masih berjuang mencari keberuntungannya dan berharap kali ini bisa menemukannya di Riviera Country Club yang bersejarah. Hadiah total US$12 juta atau sekitar Rp172 milyar itu mungkin bisa menjadi dorongan baginya. Terlebih mengingat ajang ini menjadi satu dari tiga turnamen yang mendapat peningkatan status pada PGA TOUR.
”Saya mungkin bermain bagus untuk beberapa aspek, namun mendapatkan hasil keseluruhan yang mengecewakan,” ujar Juara Indonesian Masters 2014 ini. ”Rasanya saya mendapatkan beberapa hal positif terlepas dari seperti apa permainan yang saya mainkan tahun ini, dan sudah jelas saya mesti banyak latihan. Saya mesti terus mempertajam permainan, putting dan scrambling.
”Dari Riviera sampai beberapa turnamen berikutnya, kami akan bermain di lapangan-lapangan yang sangat menuntut dan membutuhkan kualitas pukulan kelas elit. Saya melatih putting dan permainan iron, dan berusaha untuk tetap sabar dan fokus. Saya sudah mendapat ganjaran akibat tidak bermain dengan sabar sebelumnya.”
Dari tiga turnamen yang ia mainkan tahun 2022 ini, Lahiri sempat dua kali lolos cut, dan terpaksa hanya main dua hari pada ajang WM Phoenix Open pekan lalu setelah hanya bermain dengan skor 70 dan 75. Langkahnya sering tertahan antaran satu putaran yang terlalu biasa. Statistiknya pada kategori Strokes Gained: Approcah the Green dan Putting menempatkannya, masing-masing, di peringkat 208 dan 193, yang jelas bukan posisi yang bagus.
Pekan ini menjadi kunjungan pertamanya ke Riviera, lapangan yang pekan ini dimainkan sepanjang 6.695 meter pad 71, dalam tiga tahun. Lapangn ini juga bakal menjadi lokasi gelaran Olimpiade Los Angeles 2028.
”Tahun 2028 memang masih lama. Saya cukup beruntung bisa mengenakan seragam tiga warna negara dalam dua kesempatan (Rio 2016 dan Tokyo 2020) dan sudah tentu Paris (2024) menjadi target saya dan saya secara aktif mengincarnya.”
”Sungguh fantastis bisa kembali. Sejauh ini Riviera menjadi lapangan favorit saya yang kami mainkan dalam jadwal reguler di luar ajang Major. Saya jatuh cinta kepada lapangan ini sejak pertama kali main di sini,” ujar Lahiri, yang finis T64 pada tahun 2017 dan T26 tahun 2018. Kala itu turnamen ini masih bernama Genesis Open.
”Sebelumnya, saya sempat main bagus dan punya sejumlah kenangan lular biasa. Saya menyukai lapangan gaya lama. Menyenangkan dan mengasyikkan, dan kami berada di area yang luar biasa dan segalanya tentang turnamen ini terlihat mengagumkan. Desainnya sudah bertahan untuk jangka waktu yang lama, ketika kami memainkan lapangan golf sepanjang 6.450, 7.040 meter. Jika melihat karto skor di sini, sepertinya lapangan ini pendek, tapi ketika Anda berada di sini, ceritanya menjadi lain.
”Saya pikir lapangan ini unik dari segi beragamnya embusan angin dari laut, dan bagaimana karakter lapangan ini berubah. Ketika kondisinya keras pada akhir pekan, memukul ke green menjadi sangatlah krusial. Layout-nya luar biasa dan Anda harus tetap fokus. Tidak ada keringanan dan Anda mesti memukul setiap club dalam tas Anda. Mengingat ajang ini bersifat undangan, nilainya lebih seperti sebuah insentif bagi kami.”
Olimpiade 2028 mungkin masih lama, dan Lahiri akan berusia 41 tahun saat itu. Namun, ia tidak ingin melepaskan momen itu dan ingin kembali mewakili negaranya. Apalagi ia sadar betapa besar dampak Olimpiade itu untuk mempromosikan golf di India.
”Tahun 2028 memang masih lama. Saya cukup beruntung bisa mengenakan seragam tiga warna negara dalam dua kesempatan (Rio 2016 dan Tokyo 2020) dan sudah tentu Paris (2024) menjadi target saya dan saya secara aktif mengincarnya,” ujar Lahiri.
”Pastilah akan fantastis jika bisa mendapat kesempatan untuk melakukannya lagi pada tahun 2028. Saya tentu tidak akan semuda sekarang, tapi kalau bisa tetap bugar dan sehat, siapa yang menolak untuk kembali, dan mengegnakan warna oranye, kunyit, dan hijau lagi? Golf sebagai cabang olahraga Olimpiade sungguh luar biasa, terutama bagi negara golf yang minoritas, seperti India.”
Pekan ini, sepuluh pegolf teratas dunia menurut Official World Golf Ranking, dipimpin oleh pegolf No.1 Dunia Jon Rahm dan Juara FedExCup Patrick Cantlay telah siap bertanding pada pekan ini. Mereka akan berusaha untuk mencegah Max Homa untuk mempertahankan gelarnya.


