Richard Bland akhirnya meraih gelar European Tour perdananya dalam usia 48 tahun setelah menjuarai Betfred British Masters hosted by Danny Willett kemarin (15/5).
Belum lagi ia melihat putting-nya masuk ke lubang, Richard Bland berbalik dan melepas ekspresinya untuk merayakan birdie di hole 18 itu. Luapan emosi itu sangatlah wajar, mengingat hole par 5 itu, dan juga par 5 lainnya di Brabazor Course di The Belfry dimainkan lebih panjang daripada biasanya lantaran hujan yang mewarnai putaran final itu memberi kesulitan tambahan bagi para pemain.
”Kami memainkan tiga hole terakhir dalam cuaca yang terburuk. Saya pikir kalau kondisinya masih seperti ini, semua hole par 5 akan dimainkan lebih panjang lagi. Hole-hole itu tidak akan mudah memberikan birdie. Dan bisa memasukkan putt (birdie) di hole terakhir itu, sepertinya saya tidak melihatnya masuk, tapi saya tahu bolanya akan masuk sekitar satu kaki dari lubang, lalu berputar untuk merayakannya sebelum bolanya masuk. Pasti konyol rasanya kalau bolanya tidak masuk, untungnya bolanya masuk,” ujar Bland.
Birdie di hole 18 itu menjadi birdie keenamnya pada putaran final, yang sekali lagi berhasil ia mainkan tanpa bogey. Birdie dari jarak sekitar 8,5 meter itu pulalah yang membawanya ke posisi teratas dengan torehan 13-under 275. Toh ia terpaksa menunggu sekitar 90 menit untuk memastikan nasibnya.
Betfred British Masters hosted by Danny Willett pekan itu merupakan ajang European Tour ke-478 dalam kariernya. Jelas penantian 90 menit tersebut akhirnya terbukti menjadi penantian yang jauh lebih singkat, terutama setelah ia akhirnya sukses mewujudkan kemenangan yang sudah sangat lama ia impikan.
Putaran final di Brabazon Course di The Belfry kemarin memang berlangsung sangat dramatis. Bland menampilkan permainan luar biasa untuk bisa mewujudkan kemenangan ini. Setelah sebelumnya berhasil menyingkirkan pegolf Finlandia Mikko Korhonen, yang akhirnya harus puas finis di posisi T3 dengan 12-under 276, Bland harus menghadapi Guido Migliozzi.
Pegolf muda yang usianya separuh dari Bland itu juga bermain tanpa bogey sepanjang putaran final. Pegolf Italia ini sebenarnya memiliki peluang di dua hole terakhirnya untuk memastikan kemenangan. Setelah mencatatkan birdie ketiga dan keempatnya di hole 15 dan 16 untuk menyamakan skornya dengan Bland, Migliozzi hanya bisa mendapat par di dua hole terakhirnya sehingga play-off harus dilakukan.
Pada hole tambahan inilah Bland kembali menunjukkan keberaniannya. Setelah pukulan tee-nya harus berakhir di posisi yang sulit, ia memilih memainkan 5-wood, yang ternyata sukses mengantarkan bolanya ke green untuk dua putt.
Adapun Migliozzi, yang memukul bolanya 46 meter jauh di depan Bland berhasil mengantarkan bolanya ke sisi kanan green, namun gagal memasukkan birdie putt-nya. Lalu ketika ia akhirnya gagal memasukkan putt untuk par, Bland memastikan kemenangan dengan pukulan keempatnya untuk meraih kemenangan yang menentukan dalam kariernya, menyusul bertahun-tahun hanya nyaris menang.
”Mungkin kemenangan ini baru bisa meresap setelah beberapa hari. Untuk gelar inilah saya berlatih selama 20 tahun. Untuk bisa menang di lapangan dan mencoba dan membuktikan diri sendiri, untuk itulah kami semua berlatih,” ujar Bland.
”Akhinya, saya bisa dicoret dari daftar pemain yang paling banyak bertanding tanpa meraih kemenangan. Insentif besar bagi saya ialah saya ingin bermain dalam 500 turnamen, dan kemenangan ini memungkinkan saya melakukannya, sesuatu yang bisa saya banggakan nantinya. Bisa bermain dalam 500 ajang European Tour jelas menjadi bukti karier yang bagus.”
”Senang rasanya bisa mengumpulkan sumbangan itu. … bisa mengumpulkan £19.000 untuk Prostate Cancer UK jelas merupakan langkah yang sangat murah hati yang bisa Betfred berikan.” — Danny Willett.
Sebelum meraih trofi pertamanya ini, Bland harus mengalami banyak hal dalam kariernya. Setelah debut European Tour pada The Open 1998, ia harus berkali-kali kembali ke Challenge Tour, sampai akhirnya menjadi lulusan tertua Tour tersebut dalam usia 46 tahun.
Namun, bukan hanya Bland yang merasakan kesuksesan pada pekan itu. Tuan rumah turnamen ini, Danny Willett, juga menganggapnya sebagai pekan yang berhasil. Juara Masters 2016 ini memuji tim di The Belfry yang mempertahankan kondisi lapangan tetap prima dalam kondisi cuaca yang tidak ramah.
Selain itu, ia juga berhasil mengumpulkan £19.000 (sekitar Rp380 juta) untuk Prostate Cancer UK. Sumbangan tersebut diberikan oleh sponsor utama ajang ini, Betfred, yang telah berkomitmen menyumbangkan £1.000 untuk tiap birdie yang dibukukan oleh Willett.
”Senang rasanya bisa mengumpulkan sumbangan itu. Saya berusaha mendapatkan eagle di hole 17 untuk bonus tambahan. Sayangnya, sepertinya tidak ada yang bisa meraih hole-in-one, tapi bisa mengumpulkan £19.000 untuk Prostate Cancer UK jelas merupakan langkah yang sangat murah hati yang bisa Betfred berikan,” ujarnya.
Adapun Jazz Janewattananond menjadi wakil Asia terbaik pada ajang ini. Juara Indonesian Masters 2019 ini membukukan tujuh birdie dengan satu bogey untuk menorehkan skor total 9-under 279 dan finis T11.


