Fan Shuangshuang menandai kembalinya ia ke panggung kompetisi dengan permainan cemerlang 6-under 66 untuk memimpin klasemen Women’s China Open.

Fan Shuangshuang punya alasan kuat mengapa ia bisa meninggalkan hole 18 di Enhance Anting Golf Club, di Shanghai dengan senyuman. Skor 6-under 66 yang ia bukukan pada putaran pertama Women’s China Open itu tak hanya menempatkannya sebagai pimpinan klasemen sementara, tapi juga menegaskan kondisinya yang sudah jauh lebih baik sejak mengambil jeda dari kompetisi selama enam bulan.

Pegolf berusia 22 tahun ini mengemas sembilan birdie dengan satu bogey di 14 hole pertamanya, sebelum akhirnya mendapat double bogey di hole 15. Dengan tanpa tambahan birdie di tiga hole terakhirnya, ia pun harus rela memiliki keunggulan dua stroke dari pegolf remaja asal Kanada Anna Huang, yang mengemas skor 4-under 68.

Papan klasemen hari pertama ini juga diramaikan oleh sederet pegolf Thailand. Kultida Pramphun membukukan skor 69 sehingga menduduki posisi ketiga bersama Lin Xinen, Pan Rungxi, dan pegolf berusia 15 tahun Zhou Shiyuan yang telah mengoleksi tiga gelar CLPG Tour. Adapun Sherman Santiwiwattanaphong, yang menduduki peringkat kedua Order of Merit, Chonlada Chayanun, dan Phisitkhwan Pooratanaopa sama-sama membukukan skor 70 untuk berbagi tempat di peringkat ketujuh.

Juara bertahan Ji Yuai mengawali misinya dengan skor 71 dan terpaksa menutup hari pertama dengan terpaut lim stroke. Adapun pegolf berusia 16 tahun, Xu Ying, yang beralih profesional pada pekan ini setelah menjadi pegolf individu terbaik pada Piala Espirito Santo dari ajang World Amateur Team Championship di Singapura, juga membukukan skor 71.

 

Anna Huang, Round 1 Women’s China Open 2025.
Pegolf Kanada Anna Huang, yang baru beralih profesional, menampilkan permainan tanpa bogey untuk duduk sendirian di tempat kedua dengan skor 68. Foto: SPORTFIVE.

 

Bagi Fan, Women’s China Open pekan ini menjadi ajang CLPG Tour ketiga musim ini. Ia terpaksa jeda dari kompetisi lantaran alasan kesehatan. Akan tetapi, permainannya tadi sama sekali tak menunjukkan kecanggungan sama sekali. Permainan putter yang tajam ikut membantunya mengawali pekan ini dengan sangat meyakinkan.

”Ini putaran turnamen pertama saya setelah sekian lama. Rasanya sangat gugup ketika mengawalinya, tapi permainan iron saya cukup bagus dan ikut memampukan saya untuk main lebih baik. Putting saya biasanya juga tidak begitu bagus, tapi hari ini banyak yang masuk, dan kedi saya juga banyak membantu membaca green. Saya juga mendapat ucapan keberuntungan juga,” jelas Fan.

Fan mengawali pekan ini tanpa berharap banyak mengingat jeda enam bulan yang terbilang panjang itu. Ia juga menunjukkan sikap positif dan mengabaikan satu-satunya skor besar di hole 15 itu. ”Memang kurang bagus, tapi saya masih main 6-under dan melihat skor itu, saya tidak merasa gugup,” ujarnya lagi.

”Saya sudah beberapa kali mengikuti Women’s China Open ini (sejak 2019) dan mendapat pengalaman yang luar biasa karena bisa bermain dengan Feng Shanshan dan Yin Ruoning (pada putaran ketiga) dan pengalaman itu sungguh mengagumkan. Memang saya belum sejago mereka, tapi momen itu mendorong saya untuk berlatih lebih keras. Saya berusaha bermain ke AS (lewat Epson Tour) dalam dua tahun terakhir, tapi hasilnya kurang bagus.”

 

Sherman Santiwiwattanaphong, Round 1 Women’s China Open 2025.
Kemenangan pada Women’s China Open pekan ini bakal membuka peluang Sherman Santiwiwattanaphong untuk kembali menjuarai Order of Merit CLPG Tour. Foto: SPORTFIVE.

 

Sementara itu, meskipun jauh dari rumahnya di Vancouver, Kanada, Anna Huang, bermain seperti di negeri sendiri. Ia lekas mengabaikan bogey di hole pertamanya dan mencatatkan lima birdie untuk menutup putaran pertama dengan berada sendirian di tempat kedua.

Remaja berusia 16 tahun ini menjadi buah bibir setelah memenangkan dua gelar Ladies European Tour secara berturut-turut di Spanyol dan Perancis bulan lalu. Prestasinya itu membuatnya menjadi remaja keempat yang sukses meraih kemenangan di sirkuit Eropa tersebut. Kini ia membidik kemenangan profesional pertamanya di Asia.

”Saya kira pukulan saya sangat bagus. Kualitas pukulannya bagus, terutama dengan iron, di mana saya bisa mengantarkan beberapa pukulan dengan sangat dekat dan memudahkan membuat birdie,” jelasnya. ”Secara mental saya kira saya lebih yakin dengan permainan saya sehingga banyak membantu permainan secara keseluruhan serta membukukan skor rendah. Itulah kuncinya.”

Bagi Sherman Santiwiwattanaphong, jajaran atas klasemen sepertinya sudah menjadi tempat yang lumrah bagi pegolf Thailand ini. Enam birdie dengan empat bogey mewarnai kartu skornya hari ini. Pegolf berusia 28 tahun, yang sempat menikmati berkiprah di panggung LPGA Tour ini kini menduduki peringkat kedua pada Order of Merit CLPG Tour. Tidaklah mengherankan jika ia berharap bisa kembali menjuarai Order of Merit, seperti yang ia lakukan dua tahun lalu.

 

Patricia Sinolungan, Round 1 Women’s China Open 2025.
Patricia Sinolungan harus memperbaiki permainannya untuk menjaga peluangnya bermain penuh pada ajang Women’s China Open pekan ini, menyusul skor 76 pada putaran pertama. Foto: SPORTFIVE.

 

Salah satu sorotan dari permainannya hari ini terlihat lewat chip-in birdie di hole 8. ”Saya menikmati bermain di sini. Saya ingin bermain golf dengan senang. Lapangannya bagus, saya sangat menyukainya. Memang ada yang bagus ada yang jelek. Finis dengan 2-under tentunya bagus,” ujar pegolf yang telah meraih tiga gelar profesional ini.

”Saya mengincar kemenangan kedua saya (di China), tapi tak berniat membebani diri sendiri. Saya hanya berusaha untuk menikmati permainan golf saya. Kalau bisa menampilkan permainan terbaik, kemenangan kedua saya pasti segera terjadi.”

Sementara itu, satu-satunya wakil Indonesia pada pekan ini, Patricia Sinolungan, harus menutup putaran pertamanya dengan skor 4-over 76. Untuk sementara ia berada di posisi T62.

Ia sempat bermain dengan baik dan mencatatkan even par di tiga hole pertamanya, yang ia mulai dari hole 10. Dua bogey berturut-turut di hole 13 dan 14, serta double bogey di hole 17 praktis memberatkan langkahnya.

Patricia mulai bermain lebih baik ketika memasuki sembilan hole terakhirnya. Birdie di hole 3 membuka peluang untuk mencatatkan skor yang lebih baik. Sayangnya, bogey di hole 9 memaksanya mengakhiri putaran pertama dengan skor 76.