George Gandranata mengakhiri penantian tanpa gelarnya selama empat tahun terakhir dengan mengalahkan Almay Rayhan Yagutah pada Indonesian Tourism Golf Pro Series 17.
Visualisasi putting dan mentalitas matchplay yang memaksa diri untuk mengejar birdie di 18 hole terakhir menjadi kunci bagi George Gandranata untuk mampu memaksa Almay Rayhan Yagutah untuk memainkan dua hole play-off dan tampil sebagai jawara untuk kedua kalinya di Lotus Lakes Golf Club.
Bertanding tanpa memainkan putaran latihan membuat pegolf berusia 37 tahun ini harus mengandalkan ingatannya ketika bertanding di lapangan yang dulu bernama Karawang International Golf Club ini. Berbekal itu pulalah ia menorehkan dua skor dengan putaran 71 dan membuatnya menghadapi 18 hole pamungkas dengan terpaut dua stroke dari Almay, yang mencatatkan skor 70-70.
Meski berhasil meminimalisasi bogey di kartu skornya pada putaran kedua, George juga mengalami kesulitan untuk mencatatkan lebih banyak birdie. Persis pada malam menjelang putaran final, ia bertanya pada diri sendiri, ”Apakah saya ingin menang? Tentu saja saya masih mau menang! Jadi, saya melakukan visualisasi putting karena pukulan sedang bagus,” jelasnya.

Birdie yang ia ciptakan di hole 2 par 5 sempat membuat jaraknya dengan Almay menjadi satu stroke, sampai dua bogey di hole 4 dan 6 membuatnya kembali tertinggal. Namun, ia tidak menyerah begitu saja.
Berbekal pengalaman memaksakan driver di hole 7 pada hari pertama, pada putaran ketiga George memilih memainkan 3-wood sehingga menyisakan jarak sekitar 118 meter. ”Saya bilang, saya tidak peduli mereka birdie atau par, pokoknya saya mesti main bagus. Saya memvisualisasikan pukulan dan posisi ini membuat saya bisa main agresif, jadi saya memainkan 9-iron, membidik ke tengah dan kalau bolanya draw, pasti akan menempel, dan bolanya draw dan berhenti sangat dekat dengan lubang,” tuturnya.
Setelah melakukan chipping dan memasukkan putt birdie di hole 8, di hole berikutnya ia kembali menghadapi situasi serupa di hole 7. Meskipun kemudian berhasil mengantarkan bolanya hingga berjarak 2 meter dari lubang, ia mengaku merasa gugup. ”Saya tahu kalau tidak birdie, peluang (untuk menang) tidak banyak. Jadi, mantranya adalah saya tidak peduli kalau saya gugup, saya harus bisa membuat birdie,” jelasnya.
Tiga birdie berturut-turut itu berhasil membuatnya menyamai catatan 4-under milik Almay, yang hingga sembilan hole pertama justru harus mencatatkan satu bogey dan satu birdie. Dan ketika Almay kembali unggul satu stroke berkat birdie di hole 10, George berhasil kembali menuai birdie di hole 12 setelah akurasi permainan iron dan perhitungannya membaca angin berhasil membuatnya melakukan tap-in untuk birdie.

Setelah keduanya sama-sama mencatatkan birdie di hole 14, George kembali unggul satu stroke berkat birdie ketujuhnya di hole 15. Sayangnya, rentetan birdie itu berhenti dan Almay menyamakan kembali menyamakan kedudukan menjadi 7-under dan keduanya harus kembali ke hole 18 par 5.
Sadar bahwa jarak pukul menjadi salah satu keunggulan Almay, George kembali menerapkan mentalitas bermain matchplay dan menargetkan eagle untuk bisa mengalahkan rekannya yang jauh lebih muda darinya itu.
Setelah bermain imbang dengan birdie di hole play-off pertama itu, keduanya kembali ke tee box dan menghadapi posisi yang berbeda di sekitar green. George yang memainkan rescue justru memukul jauh melewati pin hingga ke sisi belakang green. Sebaliknya, Almay berada di posisi George sebelumnya, di mana bolanya berada di luar, di depan green.
”Saya tahu chipping di posisi itu tidak gampang. Posisi bola saya sebelumnya ada di situ dan chipping saya mendekati hole, sementara Almay malah kurang. (Dan ketika melakukan putting) kalau dia tidak memasukkan bola, dia membuang kesempatan ini. Dan saya bertekad untuk memasukkan bola dan akhirnya berhasil!” ujarnya puas. Dan kemenangan ini turut mengakhiri penantian empat tahun sejak terakhir mengangkat trofi pada 2019.

Tentu saja keberuntungan tidak lepas darinya. Misalnya saja di hole 11, di mana pukulan tee dan pukulan keduanya justru mengarah ke kanan. Beruntung bolanya tidak berakhir di bunker. Kemudian di hole 14 ketika pukulan tee-nya kembali ke kanan, bolanya sempat jatuh ke bunker, namun bolanya memantul keluar dan berhenti di area rough. Kemudian di hole play-off pertama, keberuntungan lagi-lagi membuat bola tee off George berhasil keluar dari bunker.
Meski demikian, George menegaskan apa yang ia harapkan sehari sebelumnya. Ketika lawannya bermain dengan sangat baik, ia justru berhasil tampil lebih baik lagi. Skor 5-under 67 pada putaran reguler membuat George menyamai skor terendah putaran final, yang juga ditorehkan oleh Indra Hermawan. Lalu ia juga berhasil bermain lebih baik pada dua hole play-off.
”Sejujurnya kurang adil juga ya (main ke sini tanpa melakukan putaran latihan. Cuma saya pikir ini berkah tersembunyi. Kalau tidak ada tugas di Lampung, tadinya saya mau melakukan putaran latihan pada hari Senin. Dan karena dari luar kota, Emily (putri George) menanyakan saya terus. Dan setelah melihat kalau perjalanan sekitar satu jaman, akhirnya saya memutuskan pergi-pulang,” tutur George, yang akhirnya mengangkat trofi dalam status sebagai seorang ayah.
Sementara itu, meskipun harus menunda kemenangan untuk kedua kalinya secara berturut-turut, Almay mengaku menuai hasil positif dalam dua turnamen ITGPS terakhir. ”Saya lebih berfokus ke prosesnya, proses berpikirnya, rutinitas sebelum melakukan pukulan. Saya sudah tidak terlalu memikirkan teknik lagi, jadi lebih ke mental dan saya pikir dua turnamen terakhir cukup berhasil, tidak buruk,” ujarnya.


