Kemenangan kedua pada HSBC Women’s World Championship hari Minggu (1/3) membawa Hannah Green menyamai rekor Park Inbee dan Ko Jinyoung. Bagaimana pegolf Australia tersebut memastikan gelar LPGA Tour ke-7 dalam kariernya di Sentosa Golf Club itu?

Bagi Hannah Green, bermain pada putaran final di antara para jawara Major lain dan mereka yang tengah mengincar kemenangan perdana bukanlah hal yang baru. Menjelang putaran final di Tanjong Course, Sentosa Golf Club itu, pegolf berusia 29 tahun ini sudah tahu kalau lapangan akan menghadirkan kesulitan yang lebih berat.

Ada sosok berbeda yang kali ini terus mendampinginya sejak hari pertama ia menginjakkan kakinya kembali ke Singapura. Jarryd Felton, sang suami, yang juga berstatus pegolf profesional ikut mendampinginya di lapangan sebagai kedi. Meski demikian, Green juga memberi perspektif yang menarik.

”Saya kira sejauh ini berjalan lancar karena saya bermain dengan baik. Bakal jadi masalah kalau ternyata saya main jelek. Saya kira kami tidak banyak mengobrol urusan golf. Sejujurnya, dia juga akan merasa segugup saya. Saya sendiri merasa tidak terlalu gugup ketika berada di lapangan dan saya ingin agar tidak merasa terganggu,” ujarnya sehari sebelum memainkan putaran final.

”(Turnamen di) Thailand pekan lalu menjadi pertama kalinya ia menjadi kedi buat saya. Sebelumnya, memang ia pernah menjadi kedi untuk beberapa putaran, sepuluh tahun silam. Jadi, (pengalaman menjadi kedi pada ajang sebesar ini) akan menjadi hal yang baru baginya.

 

Hannah Green, Round 4 HSBC Women’s World Championship 2026.
Hannah Green menciptakan dua eagle sepanjang pekan di Singapura. Eagle pertama terjadi di hole 13 pada putaran pertama, sedangkan eagle kedua tercipta di hole 8 pada putaran final. Foto: LPGA/Getty Images.

 

”Saya kira bisa tetap sabar merupakan hal tersulit ketika berada di lapangan. Dan beberapa kali pukulan saya tidak begitu bagus. Sebagai pegolf, ia benar-benar tahu bagaimana rasanya. Ia memahami hal ini dan membantu saya tetap sabar dalam dua minggu ini. Dan saya akan membutuhkan banyak kesabaran besok (pada putaran final).”

Meski birdie lekas ia raih di hole 1 par 4 di Tanjong Course, Green memang dipaksa untuk bersabar dan bermain even par di enam hole berikutnya. Eagle di hole 8 par 5 jelas menjadi salah satu dari buah kesabarannya. Dan permainan bersih di sembilan hole pertama itu ikut memberinya motivasi untuk ”melangkah menuju hole 18 dengan memegang keunggulan karena hole itu hole yang sulit.”

Green berhasil memperkukuh posisinya di puncak klasemen setelah mencatatkan birdie di hole 15 par 3. Birdie itu praktis mengembalikan posisinya ke 16-under—ia menciptakan birdie di hole 11 dan 13, dan bogey di hole 14—bahkan menjadi penentu untuk memberinga kemenangan.

Ketika melangkah ke hole 17, ia sudah memegang keunggulan tiga stroke atas Auston Kim, yang sebelumnya menciptakan birdie di hole 17 dan 18 untuk mematok skor total 13-under 275. Meskipun kemudian mendapat bogey di dua hole terakhir, Green bisa melenggang dengan kemenangan satu stroke atas pegolf Amerika itu.

”Bisa menang lebih awal pada musim ini jelas memberi fleksibilitas lebih dengan turnamen-turnamen yang bisa saya mainkan.”

”Saya tahu kalau saya punya modal yang cukup untuk melakukan kesalahan menuju hole terakhir. Tapi saya kira hole 15 itu menjadi titik baliknya,” tuturnya.

Dari sisi statistik permainan, sepanjang putaran final, Green hanya mencapai 8 dari 14 fairway, dengan 14 dari 18 green in regulation, serta total 30 putt untuk mencatatkan skor 3-under 69.

Kemenangan pada hari Minggu itu membuatnya menyamai prestasi Park Inbee (2015, 2017) dan Ko Jinyoung (2022, 2023), yang berhasil memenangkan HSBC Women’s World Championship lebih dari sekali. Dengan peningkatan total hadiah dari semula US$2,4 juta menjadi US$3 juta, Green berhak membawa pulang hadiah sebesar US$450.000, atau US$180.000 lebih banyak daripada yang ia menangkan pada tahun 2024.

”Saya kira kemenangan ini lebih emosional karena saya bisa melakukannya dengan suami saya. Ketika menang di Singapura dua tahun lalu, saya bisa memenangkan dua turnamen lainnya dan bisa dibilang musim itu menjadi musim terbaik saya. Jadi, bisa menang lebih awal pada musim ini jelas memberi fleksibilitas lebih dengan turnamen-turnamen yang bisa saya mainkan,” ujarnya.