Im Sungjae kini menjadi satu-satunya harapan publik Asia untuk menciptakan kejutan menuju putaran final Masters Tournament.

Dari total 52 peserta yang bermain pada akhir pekan, hanya 9 pemain yang berhasil mencatatkan skor under pada putaran ketiga Masters Tournament 2022. Fakta ini rasanya cukup menggambarkan betapa brutalnya kondisi pada hari Sabtu (9/4) di Augusta National tersebut. Adapun skor terbaik, 4-under 68, dicatatkan oleh Juara PLAYERS Championship Cameron Smith yang menorehkan enam birdie dengan dua bogey. Skor total 6-under 210 menempatkan Smith sendirian di tempat kedua.

Pegolf No.1 Dunia Scottie Scheffler juga menjadi salah satu pemain yang bermain under, 71, pada hari ketiga itu. Hasil tersebut membuatnya mempertahankan posisi teratas dengan torehan 9-under 207.

Adapun wakil Asia Im Sungjae menunjukkan alasan mengapa ia mendapat julukan Ironman. Bintang Korea ini benar-benar menampilkan kegigihan yang luar biasa setelah harus mengawali 18 hole ketiga dengan double bogey di hole 1 par 4, untuk terus menguntit jajaran atas.

Double bogey di hole pertama itu jelas bisa membuat keadaan semakin buruk baginya. Kekhawatiran itu sempat menguat setelah ia pun terpaksa melakukan tiga putt di hole 5 dan 6 sehingga membuatnya mencatatkan 4-over. Namun, putt dari jarak sekitar 8,5 meter di hole 7 menjadi titik balik baginya. Dan setelah birdie pertamanya di hole 8, Im mencatatkan empat birdie lagi di sembilan hole terakhirnya utuk memberinya peluang.

”Saya masih punya peluang,” tegas Im, yang kini menempati peringkat 8 pada klasemen FedExCup. ”Saya melakukan putt jarak jauh di hole 7 dan mendapatkan momentum yang bagus. Titik balik itu membantu saya mencatatkan skor yang bagus. Di hole 1, saya pikir telah melakukan pukulan kedua yang bagus, namun bolanya justru melayang melewati green, dan saya mendapat double (bogey). Sembilan hole pertama masih panjang. Pada saat itu, saya berpikir kalau masih bisa bangkit dan main even par, saya masih akan berada di jajaran sepuluh besar menjelang putaran final.”

 

 

Keberaniannya bermain agresif terbukti memberinya peluang untuk menjadi pegolf Asia ketiga, setelah Y.E. Yang (PGA Championship 2009) dan Hideki Matsuyama, yang mengangkat trofi Major. Ia terlihat seperti bermain di rumahnya sendiri, bahkan sampai menciptakan sorakan riuh dari para penonton menyusul putt jarak jauhnya di hole 15. Birdie itu juga membuatnya meluapkan emosi dengan mengacungkan tinjunya ke udara.

”Saya hanya ingin mendekatkan bola ke pin (untuk par). Saya mendapat jalur yang bagus dan kecepatan yang sempurna, dan bolanya malah masuk,” jelasnya sambil tersenyum.

Im jelas sadar bahwa untuk bisa mengikuti jejak Matsuyama, yang menjuarai ajang ini tahun 2021 lalu, ia membutuhkan putaran yang luar biasa.

”Saya ingin terus mempertahankan permainan saya dan fokus pada tiap pukulan. Itulah strategi saya. Jika perlu agresif, saya akan melakukannya dan jika mesti main aman, saya akan main aman. Saya akan memilih strategi berdasarkan situsai. Jika berjalan lancar, saya bisa mendapatkan hasil yang bagus,” tutur. ”Bisa menjuarai Masters pasti luar biasa, tapi tekanan dan pola pikir agresif bisa menghancurkan permainan saya. Saya akan berusaha tetap tenang dan fokus. Saya juga akan berusaha agar tidak melihat skor pemain lain dan fokus pada permainan saya sendiri sampai hole 18.”

Sementara itu, Matsuyama praktis harus mengubur impian untuk mempertahankan Jaket Hijaunya. Setelah memulai putaran ketiga dengan berbagi tempat kedua, permainannya anjlok dan harus menutup putaran ketiga dengan skor 77. Ia hanya bisa menorehkan dua birdie, yaitu di hole 9 dan 14, serta lima bogey dan sebuah double bogey.