Jonathan Wijono dan Prakasa Alfa Rizqi berharap bisa mempertahankan gelar pada ajang Jakarta Golf Club Championship yang dimulai Selasa (4/8) ini.
Jonathan Wijono dan Prakasa Alfa Rizqi mungkin menyandang status yang berbeda. Akan tetapi, keduanya mengusung misi yang sama saat memulai Jakarta Golf Club Championship pada Selasa (4/8) ini. Keduanya berharap bisa mempertahankan gelar yang mereka raih setahun yang lalu.
Meraih kemenangan jelas bukan hal yang mudah. Apalagi di Jakarta Golf Club, lapangan legendaris yang sempat menjadi saksi kemenangan satu-satunya putra Indonesia, Kasiadi, dalam ajang Indonesia Open pada 1989 ini. Selain itu, sejak pertama kalinya ajang ini diselenggarakan pada 2022 lalu, belum pernah ada pegolf yang sukses mempertahankan gelarnya.
Putra Kasiadi, Benita Yuniarto Kasiadi, memenga dua kali menikmati kemenangan di sini, akan tetapi kedua kemenangan itu juga tidak terjadi secara berturut-turut. Benita memenangkan edisi 2022 dan 2024. M. Seandy Alfaraby menjuarai edisi 2023, sedangkan Jonathan memenangkan edisi 2025.
Meski dari segi jarak, lapangan ini tidak bisa bersaing dengan berbagai lapangan modern, toh Jakarta Golf Club masih menyuguhkan tantangan yang kerap menuntut kreativitas seorang pegolf untuk bisa menaklukkannya.
”Semua peserta pasti ingin menang, hanya saja kita tidak boleh terlalu ambisius apalagi bermain di lapangan seperti (JGC) ini yang penuh dengan misteri—percaya atau tidak,” ujar Jonathan. ”Artinya, di hole tertentu kita mungkin bisa gampang mendapatkan birdie, tapi di hole berikutnya belum tentu sama. Kita harus lebih cerdas dalam mengambil keputusan, mau memukul dengan apa, harus tahu konsekuensinya.

Jonathan turut memuji lapangan klasik ini. Meski di tengah musim kemarau yang panjang, tim perawatan lapangan tampak berhasil memelihara lapangan untuk siap menguji para pegolf profesional dan amatir.
”Saya kira kondisi lapangan tahun ini juga lebih bagus. Tadi saya sempat melakukan putaran latihan, green-nya lebih licin daripada tahun lalu, lebih keras sehingga lebih menantang lagi. … Pasti akan menyenangkan dan saya tak sabar untuk memainkannya,” sambung pegolf yang juga akrab disapa Jowi ini.
Jika Jonathan berharap bisa kembali meraih kemenangan, Prakasa Alfa Rizqi juga berniat bisa kembali meraih predikat amatir terbaik. Tahun lalu ia mencatatkan skor 74-75-74 dan finis di posisi T25 untuk menjadi pegolf amatir terbaik.
”Walaupun permainan saya masih naik-turun, saya tetap berusaha bermain sabar pada tiap turnamen, berusaha menurunkan ekspektasi,” tutur atlet Ciputra Golfpreneur Foundation ini. ”Ini lapangan yang menantang, apalagi fairway-nya sangat sempit buat saya, tidak semua hole bisa dimainkan dengan driver. Jadi, saya harus bermain cerdas.”
Konsistensi JGC dalam menggelar kompetisi sejak 2022 praktis memberi kesempatan bagi para pegolf Indonesia untuk makin memahami cara memainkan lapangan ini. Skor kemenangan dari tahun ke tahun, yang terus mengalami peningkatan, bisa menjadi salah satu parameternya.
”Ini merupakan bentuk komitmen yang luar biasa dari JGC, sebuah klub yang memiliki lapangan, dan kemudian menginisasi turnamen sampai edisi kelima ini.” — Agus Triyono, Ketua PGA Tour Indonesia.
Ketika Benita menjuarai edisi perdana, ia mencatatkan skor total 2-under 208 untuk kemudian memastikan kemenangan lewat play-off atas Rory Hie. Setahun kemudian, Seandy memperbaiki catatan itu dengan torehan 3-under, hanya saja edisi 2023 itu JGC dimainkan sebagai lapangan 71 par. Lalu tahun 2024, Benita kembali memperbaiki skor kemenangan dengan 5-under 205, sebelum akhirnya Jonathan dan Hansel menorehkan skor total 7-under.
PGA Tour Indonesia memuji komitmen JGC
Konsistensi JGC dalam menghadirkan Jakarta Golf Club Championship hingga edisi kelima turut mendapat apresiasi dari PGA Tour Indonesia (PGATI). Ketua PGATI Agus Triyono menyebut pentingnya kompetisi bagi para pegolf profesional dan amatir.
”Ini merupakan bentuk komitmen yang luar biasa dari JGC, sebuah klub yang memiliki lapangan, dan kemudian menginisasi turnamen sampai edisi kelima ini. Mudah-mudahan teman-teman di lapangan lain bisa mengikuti langkah Pak Ramli (Ibrahim) dan seluruh pengurus JGC,” tutur Agus.
”Kalau membayangkan 50% dari lapangan area Jabotabek saja bisa membuat turnamen seperti ini, mungkin selama setahun kita bisa bertanding sebulan sekali.
”Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita melaksanakan turnamen ini sebaik mungkin sesuai standard yang dibutuhkan sehingga para pemain, baik profesional maupun amatir bisa bermain dengan luar biasa dan menaklukkan lapangan ini.

Ketua Umum JGC Ramli Ibrahim mengaku pihaknya memang sedang giat meningkatkan kualitas lapangan yang telah mendapat pengakuan sebagai salahsatu heritage dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini.
”Target kami adalah menjaga lapangan ini agar bisa lebih baik lagi daripada sebelumnya. Bersama Tim Pengawas, kami sangat memperhatikan kondisi lapangan ini. Upaya kami terbukti dari peningkatan jumlah putaran yang berlangsung di sini, yang hampir rutin mencapai 5.000 putaran per bulan,” tutur Ramli.
Pekan ini JGC menggelontorkan dana sebesar Rp200 juta sebagai total hadiah yang akan diperebutkan oleh para pegolf profesional.
”Ke depan kami akan berupaya meningkatkan jumlah hadiah ini. Tentunya kami akan melakukan perhitungan yang matang terlebih dahulu,” tutupnya.
Mereka yang mengangkat trofi sejak 2022
2025 Jonathan Wijono, 68-70-65, 7-under 203 (menang play-off atas Gabriel Hansel Hari)
2024 Benita Yuniarto Kasiadi, 68-70-67, 5-under 205
2023 M Seandy Alfarabi, 3-under 210
2022 Benita Yuniarto Kasiadi, 70-67-71, 2-under 208 (menang play-off atas Rory Hie)


