Benita Yuniarto Kasiadi meraih kemenangan istimewa dalam perayaan 150 tahun Jakarta Golf Club.
Setelah 33 sejak Kasiadi menjuarai Indonesia Open 1989 di Jakarta Golf Club, salah satu putranya, Benita Yuniarto Kasiadi kembali membawa nama Kasiadi berkibar. Dalam ajang 150th Anniversary Jakarta Golf Club Pro-Am Golf Tournament, yang dilangsungkan pada 5-7 Juli 2022 yang baru lalu, Benita membuktikan dirinya masih menjadi salah satu penantang gelar yang tangguh, meskipun memilih berkiprah di dalam negeri.
Turnamen yang menjadi bagian dari perayaan 150 tahun Jakarta Golf Club ini menjadi turnamen kedua yang diselenggarakan oleh PGA Tour of Indonesia pada tahun 2022 ini. Uniknya, Benita juga menjuarai turnamen pertama, ajang H.M. Widarsadipradja Cup, yang diadakan pada bulan Maret 2022, meskipun kala itu turnamen dilangsungkan hanya dua putaran.
Benita memulai perjuangannya dengan bermain even par pada putaran pertama setelah membukukan dua birdie dan dua bogey. Skornya kala itu hanya membuatnya berbagi tempat ketiga, bersama Danny Masrin dan Jonathan Wijono, dua stroke di belakang Elki Kow yang menorehkan skor 2-under 68.
Akan tetapi, pada putaran kedua pegolf yang juga aktif melatih sejumlah pegolf junior ini meningkatkan permainannya. Lima birdie dan dua bogey membawanya berbagi puncak klasemen dengan Indra Hermawan (68) dengan torehan 3-under 137.
Rory Hie, yang sebelumnya membukukan skor 74, menciptakan skor terendah dengan bermain lima birdie tanpa bogey, yang sekaligus memberi sinyal bahwa putaran final bakal menghadirkan drama sebagai salah satu klimaks dari narasi 150 tahun JGC. Dengan skor total 139, atau dua stroke di belakang Benita dan Indra, Rory menjadi pesaing terdekat keduanya.

Namun, upaya Benita untuk meraih kemenangan justru tampak terancam pada putaran final itu. Tak satu birdie pun berhasil ia bukukan di sembilan hole pertamanya. Sebaliknya, ia menorehkan tiga bogey dalam sepuluh hole yang ia mainkan. Posisi pun praktis berbalik. Rory, yang menorehkan dua birdie dan satu double bogey, kini mengambil alih posisi teratas, satu stroke dari Benita.
Titik balik bagi Benita terjadi di hole 11 tatkala ia meraih birdie pertamanya. Meskipun Rory juga mencatatkan birdie di hole yang sama dan selisih angka keduanya masih tidak berubah, birdie itu terbukti memberi momentum berharga bagi Benita. Dalam tujuh hole berikutnya, ia tak hanya berhasil menambah satu birdie, tapi juga menghindari membuang-buang pukulan.
Rory, yang sebenarnya berpeluang mengakhiri pertandingan, lantaran birdie di hole 15 melanjutkan keunggulan satu stroke-nya atas pesaing terkuatnya itu, justru harus tersandung di hole 17. Dengan sama-sama menorehkan skor total 2-under 208, kedua pemain ini pun harus kembali memainkan hole tambahan untuk menentukan pemenang.
Drama pun mencapai klimaksnya tatkala pukulan kedua Benita mengantarkan bolanya ke green dengan menyisakan jarak hanya sekitar setengah meter. Rory, yang mendapati bola drive-nya berada di bawah pepohonan, terpaksa melakukan dua pukulan lagi untuk mencapai green. Upayanya untuk meraih birdie dari luar green pun tidak membuahkan hasil. Kemenangan pun menjadi milik Benita tatkala ia berhasil memasukkan putt birdie-nya.
Dari sisi amatir, Gabriel Hansel Hari tampil sebagai pemain amatir terbaik. Setelah berturut-turut bermain 2-over 72, pegolf berusia 19 tahun ini mencatatkan skor terendah pada putaran final, 4-under 66 untuk finis sendirian di tempat ketiga, satu stroke lebih baik daripada Jonathan Wijono (71) dan Indra Hermawan (74).


