Kim Siwoo mengincar prestasi impian memenangkan THE PLAYERS Championship untuk kedua kalinya.
Tak banyak pemain yang bisa memenangkan THE PLAYERS Championship lebih dari sekali. Beberapa nama yang menonjol adalah Jack Nicklaus, Tiger Woods, dan Scottie Scheffler. Kini Kim Siwoo memimpikan prestasi tersebut.
Kim sendiri sudah menjadi bagian dari sejarah ketika menjadi pegolf termuda yang menjuarai ajang ini pada tahun 2017, ketika masih berusia 17 tahun. Kala itu ia sukses mengalahkan para pegolf terbaik dunia, yang turut melambungkan namanya. Kini ia telah mengoleksi empat kemenangan.
Ketika menang delapan tahun silam, ia membawa pulang trofi yang masih berbentuk kristal. Kini turnamen ini memperkenalkan trofi Gold Man, yang diciptakan dalam bentuk pegolf yang melakukan swing sebagai bagian dari kekhasan PGA TOUR.
”Tiap kali datang, rasanya skala turnamen ini lebih besar daripada ajang-ajang yang lain, jadi saya ingin tampil lebih baik setiap tahunnya.”
”Sudah lama sejak saya memenangkannya, dan saya benar-benar haus akan kemenangan lainnya,” ujar Kim menjelang penampilan kesembilannya di Stadium Course, di TPC Sawgrass.
”Namun, kalau saya terlalu berfokus pada hal tersebut, saya bisa merasa cemas dan akhirnya memengaruhi permainan. Saya ingin mengambil selangkah demi selangkah, dan kalau peluang untuk menang datang, saya akan siap untuk mengambilnya. Selain itu, sejak desain trofinya berubah, akan bagus juga kalau bisa mengoleksi trofi baru ini.”
Kim selalu menikmati suasana yang positif ketika kembali ke TPC Sawgrass. Ia juga selalu mendapat hak istimewa karena memiliki Loker Juara di clubhouse. Sejak turnamen ini mulai dipertandingkan tahun 1974, hanya ada tujuh nama yang telah memenangkan ajang ini sebanyak dua kali, dengan Nicklaus menjadi satu-satunya nama yang menang tiga kali.
Setelah mencatatkan skor 64 sebagai skor terbaiknya pada putaran final THE PLAYERS tahun lalu, Kim finis di posisi T6. Pencapaian ini ikut memberinya keyakinan bahwa ia bisa menantang para pemain terbaik dunia untuk sekali lagi mengangkat trofi impian itu. ”Saya mengakhiri turnamen dengan baik dan semuanya tercipta di sembilan hole terakhir. Saya bisa finis dengan begitu meyakinkan dan kenangan itu memberi saya sedikit rasa percaya diri untuk memulai pekan ini,” tutur pegolf yang kini berusia 29 tahun itu.
”Saya datang ke sini tiap tahun, tapi rasanya selalu sama. Tiap kali datang, rasanya skala turnamen ini lebih besar daripada ajang-ajang yang lain, jadi saya ingin tampil lebih baik setiap tahunnya. Saya bersiap dengan baik menghadapi tantangannya. Ada banyak penggemar dan kondisi lapangan terus meningkat setiap tahun. Rasanya PGA TOUR mencurahkan banyak perhatiannya untuk turnamen ini. Para pemenang terakhir dan hadiah uangnya terus bertambah, itu sebabnya mereka menyebutnya Major kelima.”

Kim masih ingat pekan yang mengubahkan kehidupannya tahun 2017 itu. Ia mengalahkan para pegolf top dengan kemenangan tiga stroke, bermain tanpa bogey dengan skor 69, dan menjadi pegolf Asia kedua, setelah rekan senegaranya K.J. Choi (2011) menjuarai THE PLAYERS. Sembari terus mengejar kemenangan pada PGA TOUR, Kim yang kini telah berkeluarga dan memiliki putra bernama Theo pada tahun lalu tentunya mengubah pandangannya.
”Jelas ini turnamen terbesar yang saya menangkan. Kalau melihat kembali, rasanya saya mencapai sesuatu yang besar. Itu sebabnya, saya ingin menang lagi. Dengan turnamen yang terus bertumbuh dan hadiah uang yang meningkat, saya ingin berlatih keras untuk merasakan kenangan hebat itu lagi,” ujar Kim, yang kini duduk di peringkat ke-44 pada klasemen FedExCup, di antaranya berkat empat kali masuk 25 besar musim ini.
”Emosi yang saya miliki terhadap golf sangatlah besar. Tentunya golf masih penting buat saya, tapi saya juga sudah berkeluarga, dan fokus saya mesti beralih ke mereka. Bisa dibilang saya merasa tak terlalu tertekan soal golf sekarang.”
Seperti biasanya, ia memperkirakan tiga hole terakhir di Stadium Course, karya Pete Dye, akan memainkan peranan besar untuk menentukan juara tahun ini. Ketika menang tahun 2017, ia bermain 3-under di tiga hole itu. ”Hole 16-18 adalah hole-hole yang sulit karena rintangan-rintangannya. Ketika angin berembus, hole-hole itu bahkan lebih sulit lagi daripada hole-hole lainnya. Hole 17 menuntut kalkulasi yang hati-hati soal angin dan jarak, dan kalau melihat ke belakang, rasanya saya sudah memainkan sebagaimana mestinya.
”Ketika menang di sini dulu, saat itu saya tak begitu tahu soal hole-hole tersebut. Saya kira tekanannya akan berbeda lagi (kalau tahu sejak awal). Sata itu, saya pemain pada tahun kedua dan sulit mempercayai betapa beraninya permainan saya dan saya kira saya tidak gugup sama sekali.”


