Richard T. Lee memperkukuh posisinya di puncak klasemen BNI Indonesian Masters, sekaligus memperbesar peluang dengan keunggulan enam stroke.
Richard T. Lee berpeluang meraih kemenangan pertamanya di Indonesia pada hari Minggu (3/11) besok. Skor 6-under 66 pada putaran ketiga hari ini memperkukuh posisinya di puncak klasemn BNI Indonesian Masters dengan skor total 21-under 195.
Meskipun puncak klasemen menjadi milik Lee, sorotan juga menjadi milik pegolf Pakistan Ahmad Baig dan pemegang dua gelar Masters Tournament Bubba Watson. Keduanya membukukan skor terendah pada putaran yang sempat mengalami penundaan akibat cuaca buruk ini.
Uniknya, seperti halnya Lee, Baig dan Watson juga bermain tanpa mencatatkan satu bogey pun. Jika Lee membukukan enam birdie, Baig mencatatkan tujuh birdie, sedangkan Watson menorehkan lima birdie dengan hole-in-one di hole 11. Hole-in-one ini kembali tercipta di hole yang sama oleh Phachara Khongwatmai dan menjadi hole-in-one ketiga sepanjang sejarah turnamen ini. Hole-in-one pertama terjadi pada edisi 2017 ketika pegolf China Taipei Sung Mao-chang melakukannya di hole 7 pada putaran kedua.
Permainan Lee sepanjang pekan ini memang seakan tidak terganggu. Bahkan ketika turnamen harus dihentikan pada pukul 13:01 WIB akibat cuaca buruk, ia masih bisa melanjutkan momentumnya. Tatkala turnamen dihentikan, ia tengah berada di hole 15 dan telah menorehkan 4-under berkat birdie dari hole 1, 7, 11, dan 12. Dan tatkala permainan kembali dilanjutkan pukul 15:25 WIB, Lee masih menambah dua birdie lagi dari hole 17 dan 18.

”Ketika jeda, saya mengobrol dengan beberapa teman saya di Indonesia sini dan mereka cukup menenangkan saya, jadi saya bisa membuat beberapa birdie lagi. Kelihatannya cukup bagus untuk menikmati putaran bagus lainnya besok,” ujar Lee.
Sejak menjuarai Shinhan Donghae Open 2017, ia telah beberapa kali bersaing. Terakhir ia sempat finis T2 pada ajang International Series Thailand, sepekan sebelum bertolak ke Jakarta.
Dengan posisinya sekarang, Lee, yang berkewarganegaraan Kanada dan berdarah Korea, berpeluang memperbaiki catatan penampilannya pada turnamen yang juga menjadi bagian dari International Series ini. Tahun lalu ia bermain di bawah 70 dan finis di peringkat keenam.
Permainan yang memukau juga turut dihadirkan pegolf Pakistan Ahmad Baig. Pegolf yang kini memimpin Order of Merit Asian Development Tour dengan dua kemenangannya pada tahun ini berada sendirian di tempat kedua. Skor 65 yang ia raih itu melengkapi skor 67-69 yang ia bukukan dalam dua putaran pertama.
”Menurut saya putter saya pekan ini sangat tajam. Jadi, kita lihat saja besok,” tutur pegolf yang mencapai seluruh hole par 5 dalam dua pukulan ini.

Sementara itu, Watson menunjukkan kualitas permainan yang membawanya ke jajaran atas. Hole-in-one di hole 11 praktis melejitkan posisinya ke posisi yang ideal untuk mengakhiri paceklik gelar sejak 2018.
Ia mengemas birdie di hole 3, 6, dan 9 sebelum akhirnya memasukkan bola dalam satu pukulan di hole 11 dan melanjutkannya dengan birdie di hole 12 dan 15 sebelum akhirnya pertandingan dihentikan untuk sementara.
”Kami tidak bisa melihat bola masuk. Saya tidak mempercayai mereka, tapi mereka mengajak saya tos, dan saya masih tidak percaya sampai akhirnya mengeluarkan bola dari lubang,” tutur Watson, yang menggunakan pitching wedge di hole yang berjarak 155 meter itu.
Selang beberapa saat kemudian, Phachara Khongwatmai melakukan hal serupa. Dengan tiap hole-in-one berarti sebuah rumah didirikan bagi keluarga yang kurang beruntung, kedua pegolf ini praktis ikut berkontribusi memberi sumbangan yang sangat dibutuhkan. Tidak ada hadiah yang bisa mereka bawa pulang selain kebahagiaan bisa memberi sumbangsih.
”Golf telah membantu program amal dengan luar biasa di seluruh dunia, jadi bisa menjadi bagian dari hal seperti ini rasanya sangatlah istimewa. Sungguh sebuah kehormatan! (Hole-in-one) ini akan membuat dua keluarga akan merasa sangat tertolong,” tutur Watson.


