Hideki Matsuyama menampilkan perjuangan mengagumkan untuk membuka peluang menciptakan sejarah berikutnya pada ajang Masters Tournament.

Selama beberapa pekan terakhir Hideki Matsuyama tampak meragukan bakal bisa tampil untuk mempertahankan gelar Masters-nya. Namun, sikapnya yang pantang menyerah kini menempatkannya pada posisi yang berpotensi untuk menciptakan sejarah lainnya di Augusta National Golf Club.

Dalam kondisi yang brutal pada hari Jumat (8/4) kemarin, di mana angin kencang dan berputar ikut bermain, pegolf Jepang pertama yang menjuarai ajang Major ini menampilkan permainan meyakinkan 3-under 69, yang membawanya menempati posisi kedua bersama tiga pemain lainnya. Mereka tertinggal lima stroke di belakang pegolf No.1 Dunia Scottie Scheffler yang tampil luar biasa dan menorehkan skor 5-under 67. Scheffler pun menjadi pegolf keenam dalam sejarah Masters yang memegang keunggulan lima stroke dalam 36 hole.

Pimpinan klasemen putaran pertama Im Sungjae harus tergelincir dari posisi teratas lantaran harus bermain dengan skor 74. Dengan skor total 3-under 141, ia berbagi tempat dengan Matsuyama, Juara Masters 2011 asal Afrika Selatan Charl Schwartzel, dan Juara Open Championship 2019 asal Irlandia Shane Lowry. Adapun Tiger Woods masih melanjutkan kebangkitannya dengan membukukan skor 74 dan kini menempati posisi T19 dengan skor total 145.

Sejauh ini hanya ada tiga nama yang berhasil mempertahankan gelar Masters mereka. Jack Nikclaus melakukannya tahun 1966, setelah pada 1965 ia meraih Jaket Hijau keduanya. Nick Faldo menjadi pemain kedua yang melakukannya setelah berturut-turutr menjuarai ajang ini tahun 1989 dan 1990. Sementara Woods melakukannya pada tahun 2001 dan 2002. Matsuyama sendiri menunjukkan semangatnya untuk mengikuti jejak ketiga nama besar tersebut. Setelah berjuang mengatasi cedera yang ia alami, Matsuyama menamapilkan permainan memukau untuk sekali lagi membangkitkan harapan publik Asia.

Setelah mengawali pekan ini dengan skor 72, Matsuyama langsung membukukan tiga birdie di enam hole pertamanya untuk mulai meramaikan persaingan. Sayangnya, ia melewatkan sejumlah kesempatan untuk bisa membukukan skor yang lebih rendah. Di hole 8, misalnya, bolanya hanya mengitari bibir lubang, serta melewatkan kesempatan di dua hole terakhirnya. Meski demikian, dalam sejumlah kesempatan ketika ia berada dalam situasi yang sulit, Matsuyama menunjukkan sentuhan yang tajam untuk menghindarkan bogey. Ia, misalnya, berhasil mengamankan par di hole 12, 13, dan 14 setelah pukulannya meleset dari green, lalu memukul bola ke air di hole 13 par 5.

”Cuacanya sangat berubah-ubah … arah angin dan semuanya membuat saya sangat bingung ketika hendak memutuskan melakukan pukulan, ….” — Im Sungjae.

”Menurut saya, saya bermain dengan baik. Justin (Thomas), yang bermain dengan saya, bisa dengan mudah bermain 5-under dan ia memberi dorongan yang akhirnya membantu saya menampilkan performa yang bagus,” tutur Matsuyama. ”Target saya ialah main bagus. Memang tidak semudah mengatakannya. Saya akan memastikan mempersiapkan diri dengan baik (untuk akhir pekan ini).”

Wakil Asia lainnya, Im, juga masih berada dalam posisi yang bagus untuk mengejar gelar Major pertamanya, meskipun kemarin ia mencatatkan tiga birdie dengan lima bogey.

”Saya sempat beberapa kali mengintip papan klasemen,” ujar Im yang sempat finis T2 dalam debut Masters yang ia lakoni bulan November 2020 lalu. ”Cuacanya sangat berubah-ubah … arah angin dan semuanya membuat saya sangat bingung ketika hendak memutuskan melakukan pukulan, beberapa angin dari arah depan membuat pemilihan iron menjadi sulit, tapi keadaannya tidak berjalan dengan baik. Namun, kami masih punya dua hari lagi.”

Setelah 13 tahun berlalu sejak pegolf Korea Y.E. Yang menjadi juara Major Asia yang pertama lewat kemenangannya pada PGA Championship 2009, Im kini bermimpi untuk menjadi salah satu wakil Asia yang bisa menjuarai Major. Meski begitu, ia mengaku harus tetap berpegang pada salah satu mantra golf.

”Untuk saat ini saya masih harus memainkan dua putaran lagi dan kalau bisa terus fokus pada permainan dan sekadar fokus pada pukulan demi pukulan, putaran demi putaran, saya pikir hasilnya bakalan bagus,” imbuhnya. ”Jjika bisa memenangkan kejuaraan Major, prestasi itu pasti memberi dampak yang besar dalam banyak hal, terutama untuk para pegolf junior yang mengidolakan saya dan ingin mewujudkan mimpi mereka bermain di sini, sudah pasti akan memberi dampak positif!”