Bintang PGA TOUR ini telah meninggalkan tahun yang memukau, namun siap mengincar prestasi besar tahun 2023.
Oleh Jim McCabe.
Musim 2022 lalu mungkin menjadi musim golf paling berkesan bagi Rory McIlroy. Meski sejujurnya, Anda mungkin akan sulit menyetujuinya.
Pegolf Irlandia Utara ini mungkin telah mengemas sejumlah rekor sebagai pegolf dengan pencarian paling panjang secara beruntun di Google. Sebegitu bernilai beritanya ia, secemerlang itulah golfnya, dan sesukses itulah hidupnya, serta betapa menyegarkannya kejujuran yang ia tunjukkan.
Baik di dalam maupun di luar lapangan, ia benar-benar pemain besar dan terbukti dengan pencapaian yang belum pernah ia raih sebelumnya. McIlroy menjadi pemain pertama, yang pada saat pertama, menjadi No.1 pada Official World Golf Ranking, No.1 FedExCup, dan No.1 DP World Tour.
Meskipun para pesaingnya melayakngak respek pada sejarah tersebut, ada aspek lain dari kesuksesannya yang mungkin membuat iri. Hal itu tak lain karena McIlroy sendiri menegaskan bahwa ia masih belum selesai. ”Saya merasa sehat, usia saya (masih) 33 tahun, dan rasanya tubuh saya berada dalam bentuk terbaik yang pernah ada. Semoga, semua ini berlanjut ke depan dan terus demikian.”
Betapa ia melakukan pergerakan yang indah pada tahun 2022: mengemas tiga gelar PGA TOUR—CJ CUP untuk mengawali musimnya, RBC Canadian Open pada pertengahan musim panas, dan pada bulan Agustus menjuarai TOUR Championship, yang memberinya gelar FedExCup ketiga. Tambahkan konsistensinya yang mengagumkan (ia telah 10 kali masuk sepuluh besar dalam 16 ajang PGA TOUR, termasuk semua ajang Major, dan pada DP World Tour telah empat kali masuk lima besar dalam enam turnamen) dan Anda mendapatkan musim yang jauh sangat memuaskan.

Ia sangat sadar pada lanskap media yang melingkupi olahraga profesional pada masa kini sehiingga finis di tempat kedua pada ajang Masters, peringkat 8 pada PGA Championship, T5 pada U.S. Open, dan tempat ketiga pada Open Championship tidak cukup memuaskan para pengamat yang secara intens mengamati permainan pada ajang Major. Dan mengingat McIlroy merupakan satu dari tiga pemain yang memegang empat gelar Major dalam usia 25 tahun atau lebih muda (Jack Nicklaus dan Tiger Woods merupakan dua nama lainnya), batasan untuk sukses pun menjadi sangat tinggi baginya.
”Sudah delapan tahun sejak saya menjuarai sebuah Major,” ujar McIlroy yang memenangkan U.S. Open 2022, PGA Championship 2012 dan 2014, dan Open Championship 2014. ”Namun, rasanya saya sudah melakukan semua hal lainnya dalam golf sejak saat itu. Saya menjuarai tiga gelar FedExCup (dan empat DP World Tour Championship). Saya pegolf sekomplet yang pernah saya rasakan dan semoga bisa terus berada dalam jalur ini.”
Dalam banyak hal, McIlroy menjalani tugas yang mungkin membuat sebagian besar megabintang olahraga ini merasa tidak nyaman. Namun, pada saat yang sama ketika posisi PGA TOUR mendapat tantangan dan para pemain diberi kesempatan untuk mengungkapkan loyalitasnya, McIlroylah yang menonjol dan mengambil peran.
”Saya ingin berada di sisi yang benar dalam sejarah,” ujarnya. ”Ada banyak alasan yang membuat orang bermain golf dan melakukan tugasnya, dan uang bukanlah segalanya.
”Justru lebih soal hal-hal lain. Soal pemenuhan. Soal berusaha menampilkan sisi terbaik dalam diri Anda. Soal kepuasan dari kehadiran dan berusaha bermain sesuai potensi Anda. Itulah hal-hal yang jelas membuat saya paling senang ketika bermain golf (tahun 2022).”
Mungkin yang paling mengesankan dari semua itu ialah bahwa musim ini dipenuhi dengan sesuatu yang menjanjikan pada musim semi. McIlroy menyebut itulah topik percakapan tatkala ia memetic buah dari kerja kerasnya pada musim gugur.
”Saya merasa paling bahagia ketika saya menampilkan permainan terbaik. Pencapaian olahraga itulah yang membuat saya terus melangkah.”
”Harry (Diamond, kedi McIlroy) dan saya membahasnya. Ia mengingatkan saya betapa lama waktu sudah berlalu sejak San Antonio.”
Mengawali tahun 2022 dengan start yang mengecewakan, McIlroy mulai mengendalikan permainannya sendiri. Ia berhasil finis T10 pada Genesis Invitational, tapi tanda-tanda peringatan mulai muncul bulan Maret pada ajang Arnold Palmer Invitational. Unggul dua stroke dengan skor putaran pertama 65, McIlroy akhirnya justru mengalami kemunduran dan skor 76-76 pada akhir pekan menempatkannya di posisi T13.
Pekan berikutnya, ia harus berjuang untuk lolos sesuai batas cut-off pada THE PLAYERS Championship. Ia tak pernah terlacak dan harus finis di peringkat T33.
Terusik oleh permainannya sendiri dan sadar bahwa rekam jejaknya pada kejuaraan Major belakangan ini selalu diawali dengan permainan buruk dan tidak pernah bersaing, McIlroy mengambil keputusan penting untuk tidak pulang. Tidak, ia berniat mencari jawaban menjelang The Masters.
Ia bermain pada pekan sebelum The Masters pada ajang Valero Texaxs Open di TPC San Antonio.
McIlroy belum pernah mengikuti turnamen ini lagi sejak 2013 dan meskipun permainannya tampak tidak berubah (ia membukukan skor 72-73 dan gagal lolos cut), ia memiliki kerangka piker yang lebih baik ketika tiba di Augusta National Golf Club.

”Saya sedikit kesulitan dan melakukan beberapa penyesuaian pada permainan dan perangkat saya,” ujar McIlroy. ”Saya mencoba bola golf yang berbeda. Sepertinya justru setelah itu, tahun saya mulai berubah dan saya mendapat banyak momentum pada The Masters.
”Permainan saya mulai berubah dari sana.”
Bagaimana permainannya ”berubah dari sana” jelas sangat mencerahkan lantaran McIlroy, terpaut 10 stroke dari punca klasemen dan tanpa posisi untuk menjuarai Masters, memasukkan pukulan dari bunker untuk biridie di hole ke-72 dan menciptakan kekaguman dalam putaran final dengan skor 64 tanpa bogey. Skor itu memampukan ia finis di tempat kedua, di belakang Scottie Scheffler.
Prestasi itu lebih daripada sekadar kemenangan moral karena hasil itu membakar api percaya diri dalam diri McIlroy, yang ia bawa hingga sepanjang tahun lalu. Hal itu bahkan ia bawa seiring dengan loyalitasnya dengan PGA TOUR—dengan kampanye publik yang kuat, dipimpin Tiger Woods, Justin Thomas, Jon Rahm, dan sejumlah pemain terkemuka—menjadikan McIlroy sebagai pemain paling signifikan dan paling ditandai pada tahun 2022 lalu.
McIlroy menghargai pengakuan yang ia terima dari kepemimpinan di dalam dan luar lapangan. ”Namun, buat saya, saya merasa paling bahagia ketika saya menampilkan permainan terbaik,” ujarnya. ”Pencapaian olahraga itulah yang membuat saya terus melangkah.”
Catatan Editor: Rory McIlroy mengawali tahun 2023 dengan kemenangan pada ajang Hero Dubai Desert Classic, akhir Januari 2023 lalu.


