George Gandranata merefleksikan kembali pengalamannya mengikuti Asia-Pacific Amateur Championship, termasuk ketika mencatatkan finis terbaik bagi Indonesia yang hingga sekarang belum terpecahkan.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009, Asia-Pacific Amateur Championship telah menjadi pintu bagi para pegolf amatir se-Asia Pasifik untuk mewujudkan impian mereka mengikuti ajang Major.
George Gandranata mulai mendapat kesempatan untuk mencoba mewujudkan impian itu ketika menerima undangan untuk mengikuti ajang yang dulu bernama Asian Amateur Championship ini pada tahun 2010.
”Saya langsung mendapat email, saya lupa apakah dari The R&A atau The Masters, yang memberi tahu kalau saya masuk kualifikasi lewat peringkat dunia saya dan diundang untuk mengikuti Asian Amateur Championship,” ujarnya.
Pihak penyelenggara mempersiapkan tiket dan penginapan, bahkan menyiapkan kebutuhan para pegolf yang mereka undang. Hal ini jelas berbeda dengan sejumlah narasi yang menyebutkan partisipasi Indonesia pada ajang ini dikarenakan negara mengirimkan mereka.
”Menurut saya Asia-Pacific Amateur Championship itu merupakan salah satu turnamen yang paling memperhatikan para pemainnya. Semua hal mereka urus, jadi kita cuma tinggal datang dan bertanding. Benar-benar diberikan hak istimewa, seakan-akan kami pemain Tour yang bermain dalam ajang Major.”

Dalam debutnya, yang waktu itu berlangsung di West Course, di Kasumigaseki Country Club, di Kawagoe, Jepang, George berangkat bersama Elki Kow, Rinaldi Adiyandono , Suprapto, dan William Sjaichudin. Meskipun sama sekali tak bermain under, skor 73-71-73-76 membawa George finis di peringkat T34 dengan skor total 9-over, satu stroke di belakang William (T31), 16 stroke lebih baik daripada Suprapto (63), namun 24 stroke di belakang Hideki Matsuyama, yang tampil sebagai juara.
Penampilan Kedua Berbuah Rekor yang Tak Kunjung Pecah
Setahun kemudian, kesempatan itu kembali datang. Asian Amateur Championship edisi ketiga kala itu digelar di Singapore Island Country Club, di Singapura. George menggambarkan lapangan di sana berada dalam kondisi yang sangat terawat rapi dan luar biasa bagus.
”Semua kondisinya bagus, fairway-nya juga bagus. Seingat saya, lapangannya tidak terlalu lebar dan tidak terlalu panjang, jadi saya menikmati bermain di sana,” jelasnya.
Bermain di lapangan yang lebih nyaman, ikut membantunya bermain lebih baik. Skor 71-70 kembali membawanya lolos cut. Uniknya, edisi ini menjadi satu-satunya edisi di mana semua wakil Indonesia berhasil melangkah ke dua putaran final. Selain George, Ian Andrew (67-77) dan Rinaldi Adiyandono (70-73) berhasil melangkah ke putaran akhir pekan.
Sayangnya, keberhasilannya kembali lolos cut itu mengubah pendekatannya.

”Pada hari ketiga itu ekspektasi saya bertambah setelah dalam dua hari pertama, kalau tidak masuk 20 besar atau 10 besar, saya kurang ingat, tapi kondisi di lapangan memang tidak terlalu mudah. Ekspektasi saya pada hari ketiga terlalu besar, ingin main lebih bagus lagi sehingga terlalu membebani diri,” tutur George menyinggung permainannya pada putaran ketiga yang akhirnya memberinya skor 77.
”Biasanya orang-orang Indonesia itu, setelah main bagus dalam dua hari pertama dan lolos cut, hari ketiganya merasa senang sehingga main terlalu santai dan akhirnya kurang hati-hati. Saya justru terbalik. Saya teralu memaksakan diri, terlalu ingin hasilnya bagus. Makanya jadi terlalu agresif. Padahal di golf itu harus bisa mengikuti rencana permainannya dan berharap bisa mengeksekusi dengan baik.”
Merasa terlempar dari posisi bersaing ternyata mendatangkan berkah tersendiri baginya.
”Karena sudah main jelek pada hari ketiga, saya jadi tidak punya ekspektasi lagi. Mainnya jadi lebih lepas, malah hole per hole bisa bagus sehingga akhirnya main 67 dan menyodok ke 20 besar, yang awalnya mungkin 30 atau 40 besar, dan finis di posisi T17,” sambungnya.
Pencapaian George tersebut, setidaknya hingga menjelang edisi ke-16 yang segera berlangsung di Majlis Course, di Emirates Golf Club, Dubai, Uni Emirat Arab pada 23-26 Oktober pekan ini, merupakan prestasi terbaik yang pernah dibukukan oleh seorang pegolf Indonesia.

”Sebenarnya, mengejutkan juga sih melihat sampai sekarang ini belum ada pemain Indonesia yang bisa finis lebih baik. Apalagi pemain-pemain kita zaman sekarang lebih banyak mengikuti kompetisi. Jadi, seharusnya lumayan bisa mencapai posisi 17 itu,” ujarnya lagi.
”Saya tidak bilang posisi 17 itu jelek. Cuma menurut saya kalau peringkat tersebut menjadi finis terbaik Indonesia selama ini, bisa dibilang sangat mengecewakan. Sebab menurut saya, anak-anak kita itu punya potensi untuk masuk lima besar, sepuluh besar, atau setidaknya bisa ikut dalam persaingan (di jajaran atas).”
Tahun 2018 rekor George nyaris terlampaui. Dalam penampilan keempatnya pada ajang ini, Naraajie Emerald Ramadhanputra sempat berada di jajaran lima besar pada akhir putaran ketiga usai membukukan skor 7-under 63 di Tanjong Course, di Sentosa Golf Club, Singapura. Sayangnya, pada putaran final ia bermain dengan skor 77 dan akhirnya hanya bisa finis T24.
Tiga tahun kemudian ia tampil untuk terakhir kalinya untuk menorehkan finis terbaiknya, T21.
Kesempatan untuk memecahkan rekor George juga terbuka pada tahun 2024 lalu. Randy, yang sempat memimpin klasemen pada akhir putaran pertama setelah bermain dengan skor 65 di Taiheiyo Club Gotemba, akhirnya finis di posisi T19.

Pengalaman Inspiratif
Penampilannya pada tahun 2011 mungkin menjadi penampilan terakhir baginya. Meski demikian, kedua pengalaman tersebut ikut meninggalkan kesan mendalam baginya.
”Bisa bermain dalam ajang Asia-Pacific Amateur Championship ini menjadi pengalaman yang sangat berharga karena bisa sangat menginspirasi dan membuat anak-anak ingin agar suatu hari nanti mereka bisa ke PGA Tour.
”Asia-Pacific Amateur Championship menjadi pengalaman yang bagus sekali. Apalagi mereka bisa bermain dengan para pegolf yang nantinya berkiprah di panggung Asian Tour, DP World Tour, PGA Tour. Dengan begitu mereka bisa tahu di mana level mereka.
”Mereka pasti mendapat pelayanan, seperti pada ajang ini ketika bermain pada ajang Major, seperti Masters dan The Open. Menurut saya, sekali merasakannya, akan membuatnya ingin kembali mengalaminya. Itulah yang memberi insentif untuk menjadi versi terbaik diri saya sendiri sebagai pegolf profesional. Dan menurut saya anak-anak ini mesti mulai melihat ke PGA Tour, DP World Tour, bukan hanya bermain di level Asian Development Tour atau Asian Tour, terutama yang masih muda.
Selain bermain di lapangan yang sama dengan Hideki Matsuyama, tahun 2010 itu George juga bersaing, di antaranya, dengan Lee Kyounghoon (finis T4) dan Satoshi Kodaira (T22). Lee (2 gelar) dan Kodaira (1) telah berstatus juara PGA Tour.

Sementara pada tahun 2011, selain kembali menyaksikan kemenangan Matsuyama, George juga bersaing dengan Cameron Smith (4), Ryan Fox (T17), dan Kim Siwoo (T46). Smith telah mengoleksi enam gelar PGA Tour termasuk THE PLAYERS Championship 2022 dan The Open 2022. Sementara Fox menjuarai dua gelar PGA Tour pada musim ini, plus empat kemenangan DP World Tour. Adapun Kim mengoleksi empat gelar PGA Tour, termasuk menjadi pegolf termuda yang menjuarai THE PLAYERS, enam tahun setelah tampil di Singapura.
Siapkan Rencana Permainan yang Bagus!
Pekan ini Rayhan Latief, Randy Bintang, Amadeus Susanto, dan Kenneth Sutianto kembali mengikuti ajang bergengsi ini, dengan Asa Najib Bhakti akan tampil untuk pertama kalinya.
Sekali lagi Asia-Pacific Amateur Championship memberi berlimpah kesempatan bagi para pegolf Indonesia. Tak hanya untuk sekadar memecahkan rekor George, tapi juga mewujudkan impian mengikuti ajang Major.
”Saran saya buat rencana permainan yang bagus, lakukan putaran Latihan. Menurut saya mereka punya bakat untuk bisa bersaing. Pukulan mereka jauh, short game juga bagus. Mungkin hanya dari segi mental dan pengalaman bermain di luar yang masih sedikit kurang,” saran George.
”Menurut saya mereka harus berani dan percaya dengan kemampuan mereka untuk bersaing dengan para pemain lain. Merekalah yang paling tahu kemampuan masing-masing. Dan menurut saya hal ini penting: pengalaman dan manajemen lapangan, kesabaran, mereka hanya perlu berpikir di sekitar lapangan, berani, dan siap menghadapi konsekuensi dari pilihan mereka.”


