Pegolf No.1 Dunia Scottie Scheffler berniat mengakhiri musim ajaibnya dengan mengamankan hadiah utama PGA TOUR.
Oleh Jim McCabe.
Ketika Anda dianugerahi peluang untuk berbincang dalam durasi panjang dengan Randy Smith, satu-satunya guru golf yang pernah melatih Scottie Scheffler, Anda bakal mendapat banyak wawasan soal mengapa ”dinamo” Scheffler ini berjalan dengan baik.
”Dia tidak kenal lelah,” ujar Smith. ”Dan selalu begitu. Dia berjuang sekeras ketika mengikuti turnamen-turnamen PGA TOUR, seperti halnya ketika dia bermain dengan anak-anak dan anggota klub (di Royal Oaks Country Club di Dallas). Percayalah, dia memberi 12 atau 14 stroke kepada bankir itu dan akan berusaha keras untuk mengalahkannya.”
Jadi, di tengah musimnya yang cemerlang—ia telah menang enam kali sebelum 1 Juli, sesuatu yang bahkan Tiger Woods saja belum pernah lakukan, dan telah menjadi favorit terberat untuk menjuarai TOUR Championship dan FedExCup—adalah pantas untuk mempelajari bagaimana pribadinya lebih besar daripada swing golfnya. Ketajaman Scheffler dibangun di sekitar permainan mentalnya.
”Rasanya bermain di lapangan dan bersaing sudah menjadi kemampuan terbaik saya,” ujar Scheffler. ”Ketika berfokus pada kompetisi, saya kira saat itulah saya bisa bermain sebaik mungkin. Saya kira itulah yang menjadi keunggulan ketika saya menyatu dengan senangnya berkompetisi.”
Mempelajari latar belakangnya berarti Anda meyakini bisa mengajari seorang pemain dasar-dasar swing dan kekhasan manajemen lapangan golf, namun Anda tidak dapat mengajarkan permainan kompetitif. Kebanyakan pegolf elite memilikinya hingga level tertentu, tapi sepertinya Scheffler lahir dengan lebih banyak memilikinya.

Pertimbangkanlah kisah klasik bak folklor yang bahkan diakui, baik oleh ”korban-korban” Smith maupun Scheffler sebagai fakta. Waktu itu, misalnya, ketika berusia 10 tahun Scheffler meminta Joel Edwards, yang saat itu berada di sana untuk belajar dari Smith, kalau ia mau mencoba dan memukul tiang sejauh 91 meter dari tee.
Lantaran masih menunggu Smith, Edward pun tidak menolak. Smith memberi tahu Edward agar tidak meladeninya. ”Bocah ini akan mengalahkanmu! Anda takkan bisa mengalahkannya,” ujar Smith. Edward tertawa. Lalu ia ternganga. ”Semua itu benar,” ujar Edwards, yang kala itu berusia 35 tahun lebih tua daripada Scheffler. ”Dia membikin saya bangkrut. Saya biasa membawa banyak koin 25 sen karena tahu saya bakal dikalahkan.”
Bayangkan pula kecerdasan seorang bocah 10 tahun yang menantang Harrison Frazar melakukan permainan putting. ”Dia sangat gigih. Anda tak bisa mengintimidasi dia,” ujar Frazar, yang beralih profesional tahun 1996 ketika Scheffler baru berusia 5 tahun.
Nama permainannya ”Aces Only”, ditentukan oleh Scheffler, dan dia yang mulai duluan. Dia sukses memasukkan bola dari jarak 3,6 meter, Frazar meleset, dan untuk hole-hole berikutnya, Scheffler memutusukan hole mana yang dipilih—permainannya, peraturannya—dan mereka bermain hingga 12 sampai 13,5 meter.
”Tidak ada yang langsung memasukkan bola dan dia mengalahkan saya. Saya lalu memberinya satu sleeve bola golf (3 bola).”
”Ketika melangkah ke tee pertama, saya mengingatkan diri kalau saya sudah melakukan semua yang bisa saya lakukan untuk dapat bermain dengan baik.” — Scottie Scheffler.
Oh ya, pelatih swing Frazar, Randy Smith, juga ada di sana dan seperti kepada Edwards, ia pun memberi tahu muridnya itu untuk tidak meladeni. Sebab meskipun Scheffler baru berusia 10 tahun, Smith melihat hasrat tak terbendung untuk bersaing yang membakar bocah itu.
Bukan berarti ia tidak melatih semangat kompetitif tersebut dalam 18 tahun terakhir. ”Menurut saya hal itu sesuatu yang saya kembangkan seiring waktu,” tutur Scheffler. ”Saya kira saya sedikit terlalu emosional di lapangan golf ketika tumbuh besar. Saya menjadi cukup frustrasi dengan diri sendiri dan jelas kondisi itu ikut memengaruhi permainan saya.”
Kedewasaan merupakan hal paling indah ketika dipadukan dengan kemampuan-kemampuan bawaan dan rasa perspektif yang luar biasa. Sejak masih kecil, Scheffler telah dikelilingi para pegolf profesional PGA TOUR di Royal Oaks—Edwards, Frazar, Justin Leonard, Ryan Palmer hanyalah beberapa di antaranya—dan sudah ada mentor-mentor yang konsisten dalam hidupnya.
Mulanya dengan agen golf profesional sejak lama, Rocky Hambric, yang bertemu Scott Scheffler 20 tahun lebih sedikit silam. Ketika ayahnya bertanya ke mana ia bisa membawanya untuk berlatih, jawabannya sudah jelas. Pergilah kepada Randy Smith.
Perusahaan manajemen Hambric menangani urusan golf Scottie Scheffler. Smith masih menjadi pelatihnya. Royal Oaks masih menajdi tempat Scheffler menggantungkan topi ketika ia pulang. Dia tinggal beberapa mil dari SMA-nya. Ia menikahi kekasihnya masa SMA. Jadi, ya, ada banyak rutinitas dan relasi dalam hidupnya yang membuat sangat mudah bagi Scottie Scheffler untuk tetap rendah hati.

Tambahkan pula keyakinannya yang besar akan iman Kristen Scheffler dan kedinya, Ted Scott, yang secara rutin menghadiri pertemuan Alkitab dengan bosnya, dan Anda akan mendapat banyak ramuan yang memudahkan pegolf No.1 Dunia ini tetap menjadi dirinya sendiri.
Gigih di dalam lapangan.
”Saya mendapat dukungan yang luar biasa,” tutur Scheffler. ”Saya sangat beruntung bisa memiliki sistem penopang yang saya miliki di rumah. Semuanya bekerja luar biasa keras untuk menempatkan saya di posisi di mana saya bisa ke lapangan dan bertanding dan bersenang-senang, menang atau kalah, mereka semua akan ada di sana. Dukungan demikian menjadi hal besar buat saya.”
Dalam waktu singkat kebangkitan Scheffler, sekitar akhir 2020 hingga sebagian dari 2022, memimpin dalam 54 hole bukanlah sesuatu yang baik buat pemuda ini. Ia menyia-nyiakan peluang memenangkan empat turnamen, yang termasuk Charles Schwab Challenge di rumahnya sendiri, di Colonial, ketika ia mengakhiri dengan 2-over 72 dan kalah dari Sam Burns, salah satu sobat kentalnya.
Menyakitkan. Namun, jika peralihan dari lapisan permainan Scheffler ini butuh penjelasan (Scheffler telah menang lima kali dengan berbagi puncak klasemen dalam 54 hole pada 2024) maka penjelasan itu ada pada komitmennya untuk memiliki kedamaian di dalam dirinya.

”Bersiap diri menjadi suatu hal yang bisa saya banggakan. Ketika melangkah ke tee pertama, saya mengingatkan diri kalau saya sudah melakukan semua yang bisa saya lakukan untuk dapat bermain dengan baik. Sisanya terserah saya. Jika berjalan sesuai harapan, saya berusaha untuk tetap menjalani prosesnya dan terus berusaha dan mengeksekusi tiap pukulan dan tidak berpikir terlalu banyak dan melakukan sebaik mungkin.”
”Proses” yang disebut Scheffler ini dibangun pada mentalitas siap bertanding, dan Anda bisa bilang ia sukses dengan sungguh mengagumkan. Dalam 15 turnamen tahun ini (hingga 1 Juli), Scheffler telah mengawalinya dengan skor 60-an sebanyak 12 kali dan tujuh kali berada di sepuluh besar.
Tidak berpikir berlebihan? Amin, Saudara-sauadara, karena Scheffler telah 11 kali berada di sepuluh besar dalam 36 hole, dan 10 kali dalam 54 hole. Dia sudah 12 kali finis di sepuluh besar dari 14 turnamen yang berlangsung 72 hole. (AT&T Pebble Beach Pro-Am hanya dimainkan 54 hole.)
Anda tidak akan memperoleh konsistensi semacam itu tanpa persiapan yang sempurna, komitmen terhadap proses Anda, dan aura mental yang membuat pesaing merasa waspada. Apaka Scheffler mengintimidasi lawan-lawannya? Mungkin tidak seperti halnya Tiger Woods—tatapannya, baju merah pada hari Minggu, dan perawakan yang nyaris tak terkalahkan selama 54 hole.
Namun, ketika Anda memenangkan 25% dari turnamen yang Anda ikuti sejak 2022 (14 dari 56 turnamen terakhirnya), sebaiknya Anda percaya kalau Anda memiliki keunggulan mental ketimbang para pemain lainnya.


