Andy Ogletree menggeser Suradit Yongcharoenchai dari puncak klasemen International Series Qatar.

Sejumlah sukses dalam karier golf amatir, termasuk menjadi Lowest Amateur pada The Masters 2020, membuat banyak yang memprediksi masa depan Andy Ogletree bakal cerah.

Akan tetapi, ia hanya bisa finis T46 pada debut profesionalnya lewat ajang Mayakoba Golf Classic 2020. Sepanjang sisa tahun itupun ia habiskan untuk memulihkan fisiknya usai operasi panggul yang ia lakoni usai tiga kali gagal lolos cut dalam tiga turnamen pertama tahun 2021.

Dalam situasi terpuruk, ia menerima tawaran bermain pada ajang pertama LIV Golf Invitational tahun 2022 lalu. Meski hanya tampil sekali, penampilannya kala itu memberinya tiket untuk mengikuti ajang International Series yang mulai menjadi jadwal Asian Tour musim lalu. Dan bulan November tahun yang sama, ia akhirnya meraih gelar profesional pertamanya lewat ajang International Series Egypt.

 

Suradit Yongcharoenchai, Round 3 International Series Qatar.
Suradit Yongcharoenchai menikmati bantuan kedi Kiradech Aphibarnrat, yang membantunya untuk lebih kuat secara mental. Foto: Paul Lakatos/Asian Tour.

 

Kini pegolf berusia 24 tahun ini berpeluang menambah koleksi kemenangan International Seriesnya di Doha, Qatar. Skor 66 yang ia bukukan pada putaran ketiga kemarin (18/2) membuatnya mengemas skor total 8-under 208, yang tak hanya menggeser Suradit Yongcharoenchai dari puncak klasemen, namun juga memberinya keunggulan lima stroke atas pegolf Thailand tersebut.

”Permainan hari ini cukup bagus, saya tak banyak melakukan kesalahan,” tutur Ogletree. ”Sepanjang hari ini saya menempatkan bola di posisi yang tepat. Bisa dibilang saya menyetel untuk pukulan approach. Lapangannya agak keras, sudah pasti dengan angin yang berembus sangat kencang, jadi saya merasa mengatur sudutnya dengan cukup baik, dan pukulan yang meleset pun masih ada di titik yang tepat. Saya juga mendapat kecepatan yang sangat bagus di atas green, jadi hari ini perainan saya sangat solid.”

Suradit sempat mengawali putaran ketiganya dengan keunggulan dua stroke, namun skor 74 membuatnya harus rela melepas posisi teratas, dengan seniornya Chapchai Nirat (71) dan pegolf Malaysia Ben Leong (73) terpaut satu stroke di belakangnya.

”Rasanya angin lebih kencang hari ini, jadi kondisinya sangat sulit, tapi saya senang masih punya peluang,” tutur Suradit, Juara Mercuries Taiwan Masters 2019 ini. ”Saya ditemani kedi Kiradech (Aphibarnrat) sejak Saudi International. Dia membuat perbedaan yang sangat berarti dan membantu saya untuk lebih kuat secara mental. Kita lihat saja apa yang akan terjadi besok.”

 

Ben Leong, Round 3 International Series Qatar.
Ben Leong menjaga peluang mengakhiri puasa gelar 15 tahun sejak terakhir menjuarai ajang Asian Tour lewat International Series Qatar. Foto: Paul Lakatos/Asian Tour.

 

Rasa lapar akan kemenangan juga ditunjukkan oleh Leong. Sudah 15 tahun berlalu sejak terakhir ia menikmati kemenangan Asian Tour. Meskipun putaran ketiganya jauh dari ideal, secara teori ia masih punya peluang menciptakan kejutan.

Sebenarnya, kartu skornya bisa lebih baik kalau saja bolanya tidak menghantam bebatuan saat hendak melakukan recovery di hole 18.

”Bola saya menghantam bebatuan, menyatakan bola tak bisa dimainkan, dan menghantam batu lagi. Untungnya, bolanya masih kembali ke fairway karena bisa saja ke mana-mana, jadi menurut saya tujuh pukulan di hole terakhir itu sudah bagus,” tutur pegolf Malaysia ini.