Jaravee Boonchant, Yuna Araki, Jung Jihyo, Thalia Martin, Holly Victoria Halim, dan Natasha Oon berbagi kesiapan mereka untuk meraih momentum awal musim lewat Indonesia Women’s Open presented by BTN.
Bagi mayoritas peserta, Indonesia Women’s Open presented by BTN, yang resmi bergulir pada Kamis (30/1) ini, menjadi turnamen pertama untuk musim 2026. Sebagian pemain menjadikan ajang yang diakui oleh KLPGA ini sebagai langkah awal membangun momentum lebih awal. Sebagian lainnya menjadikan ajang ini sebagai kesempatan untuk menerapkan hasil latihan yang selama jeda kompetisi.
Pegolf asal Malaysia Natasha Oon dan pegolf Korea Jung Jihyo menyebut tekanan sebagai hal yang lumrah dan tidak bisa dihindari. Keduanya menjadi salah satu pegolf yang akan tampil untuk pertama kalinya pada ajang ini.
”Saya kira tekanan merupakan sebuah hak istimewa. Saya banyak mengalami keterpurukan, dan ketika jatuh saya benar-benar terpuruk, tapi bisa duduk di sini dengan para pemain ini, bermain di lapangan dan kembali bertanding, saya berkata pada diri sendiri betapa beruntungnya saya,”
Pegolf yang berdarah Indonesia ini mengalami periode yang berat setelah sempat mengalami cedera dan harus berjuang keras untuk bisa kembali berkompetisi. Pekan ini menandakan kembalinya ia ke panggung kompetisi setelah sekian lama.
”Saya bisa bilang permainan saya belum kembali seperti dulu, tapi memang tidak ada yang sempurna. Meski begitu, Anda mesti percaya diri. Jika punya mentalitas demikian tentunya bisa menikmati kesempatan ini dengan baik,” imbuhnya.

Jung mengaku bersemangat bisa berada di Damai Indah Golf BSD Course pada pekan ini. ”Ini musim yang baru dan saya sudah melatih swing saya dan berlatih mengatasi kesulitan ketika melakukan pukulan tee pada musim lalu. Jadi, saya berharap minggu ini bisa lebih banyak memukul ke fairway,” ujarnya.
”Menurut saya kami semua pasti mengalami tekanan karena tiap pukulan sangatlah penting. Hanya saja, saya kira juga penting untuk bisa mengelola kecemasan tersebut ketika berada di atas lapangan. Saya sendiri akan berfokus pada teknik swing dan hal-hal kunci yang mesti saya persiapkan untuk pekan ini,” tutur pegolf No.265 Dunia ini.
Seperti halnya Jung, Thalia Martin akan tampil untuk pertama kalinya pada ajang ini. Selain itu, turnamen pekan ini juga menjadi turnamen pertama yang bakal ia mainkan di negara kelahirannya ini. Pegolf kelahiran Banda Aceh yang kini duduk di peringkat 473 ini mengaku tidak mudah untuk menikmati momen-momen ketika harus menghadapi tekanan dan memikirkan pukulan yang penting.
”Tidak mudah. Kadang saya merasa perlu bermain ideal dan melakukan sesuatu untuk mengoptimalkan permainan saya, tapi pemain lain mungkin lebih suka untuk tidak memikirkan hasil sama sekali dan hanya berfokus pada apa yang ada di hadapan mereka. Saya juga berusaha melakukan hal yang sama,” jelasnya.
”Namun, saya merasa lebih baik mempersiapkan diri di luar lapangan, tidak melakukan hal yang berlebihan, berusaha agar lebih siap secara mental. Kadang lebih baik untuk jalan-jalan, atau belanja bareng ibu saya, dan siap menghadapi turnamen yang saya ikuti dan fokus.”
”Saya ingin melihat sejauh mana kemampuan saya saat ini, lalu sisa satu bulan lagi akan saya gunakan untuk melakukan persiapan akhir untuk musim kompetisi di Jepang.” — Yuna Araki.
Tahun 2025 juga menjadi tahun yang berat bagi Jaravee Boonchant. Pegolf Thailand ini mengalami kesulitan pada hampir seluruh aspek permainannya. Meski demikian, periode yang menyakitkan itu mendorongnya untuk belajar ”kembali berfokus; jangan berpikir terlalu banyak soal bagaimana pukulan terakhir tadi, cukup memikirkan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki pukulan berikutnya.”
Seperti halnya Martin, Jaravee, No.359 Dunia saat ini, juga menyebut hal-hal di luar lapangan menjadi bagian yang tak kalah penting untuk mempersiapkan diri.
”Ketika berada di luar lapangan, saya berusaha agar tidak terlalu banyak memikirkan permainan yang sudah berlalu dan apa yang akan saya lakukan berikutnya. Pekan ini saya teman baik saya menemani sebagai kedi, jadi kami bakal banyak mengobrol di lapangan dan berusaha menikmati momen yang ada,” ujarnya.
Holly Victoria Halim juga mengalami pasang-surut pada musim lalu. Pegolf remaja ini sempat memutuskan absen dari kompetisi lantaran merasa kesulitan melakukan swing dan pukulan secara maksimal. Toh ketekunan dan disiplinnya berlatih dengan pelatih baru mulai memberikan hasil. Ia tak hanya berhasil mempertahankan kartu CLPG Tour di China—salah satunya dengan finis T6 pada ajang pamungkas CLPG Tour Championship—tapi juga meraih kartu Taiwan LPGA Tour dan akan bermain pada WPGA Tour of Australasia.
”Rasanya permainan saya pada turnamen terakhir sudah jauh lebih baik, saya lebih percaya diri dengan permainan saya, dan lebih mempercayai proses yang saya latih dengan pelatih saya. Saya kira itu hal yang penting buat saya. Saya hanya ingin melakukan yang terbaik dan mempercayai prosesnya pada turnamen ini,” tegas pegolf yang kini menyandang status No.882 Dunia ini.

Berbeda dengan para pegolf lainnya, Yuna Araki memiliki status yang jauh lebih baik. Pegolf yang berkiprah pada JLPGA Tour ini menjadi peserta dengan Rolex Rankings tertinggi. Pekan ini ia menduduki No.56 Dunia setelah mencatatkan serangkaian hasil yang positif dalam musim perdananya pada JLPGA Tour.
Araki meraih kartu JLPGA pada akhir 2024, ia bermain dalam 36 turnamen pada musim 2025 dan hanya 8 kali gagal lolos cut. Ia juga tercatat 14 kali finis di jajaran sepuluh besar, termasuk enam kali finis di lima besar, dan satu kemenangan.
”Terus terang kemenangan pada musim pertama itu di luar dugaan, tapi saya juga senang bisa mewujudkannya. Ada rasa lega karena bisa lebih awal meraih kemenangan. Jadi, untuk musim berikutnya, saya akan menitikberatkan pada latihan pukulan supaya bisa lebih solid dan supaya. Harapannya sih bisa lebih awal meraih kemenangan lagi untuk musim ini,” ujarnya.
Pekan ini ia berniat untuk berfokus pada pukulan-pukulan di bawah 100 yard (91 meter). Menurutnya, jika bisa memaksimalkan pukulan di zona jarak ini dan menikmati permainan sepanjang pekan, ia bisa memiliki modal yang berharga, terutama menjelang musim kompetisi JLPGA yang dijadwalkan Maret ini.
”Saya ingin melihat sejauh mana kemampuan saya saat ini, lalu sisa satu bulan lagi akan saya gunakan untuk melakukan persiapan akhir untuk musim kompetisi di Jepang,” tutur pegolf berusia 20 tahun ini.


