Putting terjauh yang pernah Jordan Spieth masukkan berjarak 27 meter, yang terjadi pada putaran kedua Sony Open di hole 5 par 4. Inilah gambaran bagaimana ia bisa membuatnya terkesan mudah.
Resminya, putt tersebut berjarak 27 meter dan 8 inchi. Seperti digambarkan oleh reporter lapangan melalui jaringan TV, putt tersebut ”berubah arah hingga tiga kali, Mungkin empat kali.” Pada akhirnya, bola itu bergulir masuk ke lubang untuk sebuah birdie.
Putting yang dilakukan Jordan Spieth di hole 5 par 4 pada putaran kedua Sony Open 2018 di Hawaii itu membantunya finis 20 besar pekan itu. Putting itu sekaligus menjadi putt terjauh yang pernah dilakukan pada PGA TOUR musim 2017-2018. Hasilnya menunjukkan bahwa Spieth mengetahui satu-dua hal mengenai cara memasukkan putt jarak jauh.
Setelah menuntaskan putaran tersebut, Spieth mengungkapikan, ”Saya mempertimbangkan melakukan pukulan lob dengan wedge karena berada sekitar 30 yard (27 meter) dari hole menghadapi embusan angin. Jadi, saya bisa saja benar-benar memainkan wedge di sana. Saya melatih putt itu beberapa kali. Saya melakukan dua atau tiga putt pada putaran latihan benar-benar dari sisi depan green ke pin itu, hanya untuk mengetahui kalau, jika meleset dari fairway, Anda harus menghadapi sisi depan itu.
”Jadi, saya tahu jalurnya, cukup lurus, dan saya pikir juga cukup beruntung.”
Keberuntungan jelas satu hal tersendiri. Namun, Spieth juga lihai memasukkan putt jarak jauh. Malahan, dalam lima musim sebelumnya, Spieth telah memasukkan empat putt yang lebih jauh dari 15 meter. Bahkan pada musim 2020-2021, ia sudah memasukkan putt dari jarak 16,5 meter pada ajang AT&T Byron Nelson.
Sudah tentu, kemampuan Spieth dengan putter bisa disebut melegendaris. Itulah alasan besar mengapa pada usia 27 tahun ia sudah mengemas 12 gelar PGA TOUR, termasuk tiga ajang Major.
Ya, ia mampu melakukan pukulan-pukulan spektakuler dari luar green—cobalah melihat kembali bagaimana ia memasukkan pukulan bunker pada ajang John Deere Classic 2013 yang membawanya masuk play-off dan kemudian meraih gelar pertamanya; atau pukulan bunker lain yang ia masukkan pada play-off yang memberinya kemenangan pada Travelers Championship 2017. Pada umumnya, putter memang menjadi senjata utamanya.
Dan putt terjauhnya sejauh ini ialah yang ia masukkan di Waialae. Putt tersebut menjadi putt terjauh keempat yang tercipta pada ajang PGA TOUR dalam lebih dari tiga musim terakhir.
Tentunya tidak ada yang benar-benar berharap memasukkan putt jarak jauh itu. Rata-rata putt PGA TOUR yang dimasukkan dari jarak di luar 7,6 meter ialah 5,40%. Pemimpin TOUR hanya sedikit di atas 10%. Ketika menuju U.S. Open tahun ini, Spieth ada di peringkat 13 pada daftar itu, memasukkan 8,37% putt-nya dari dan di atas jarak tersebut.

Secara realistis, target dari putt jarak jauh, ialah sekadar memungkinkan memasukkan putt berikutnya dan mencegah melakukan tiga putt, serta menghemat pukulan.
Persis seperti itulah yang Spieth tekankan ketika menawarkan putt dari jarak jauh. Dalam sebuah video yang direkam oleh UnderArmour, Spieth memberikan sejumlah saran kunci ketika ia menghadapi putt 15 meter yang menuntutnya melewati dua gundukan di menuju area datar di sekitar pin.
Penekanannya, menurut Spieth, ialah memastikan melakukan putt dengan kecepatan yang tepat.
”Kecepatan putting sangatlah penting,” ujarnya. ”Ketika kita berhadaapan dengan putt seperti ini—putt sejauh 15 meter melewati gundukan—sangatlah penting bagi Anda untuk memasukkannya dalam dua pukulan. Anda bisa menghemat pukulan di lapangan.
”Hal terpenting di sini ialah tidak berusaha mencari tahu teknik atau jalurnya. Putting ini lebih menyinggung soal kecepatan.”
1. Jalani Putt-nya
Untuk melakukannya, Spieth berjalan untuk mengetahui jarak antara bola dan lubang. Sudah jelas ada tujuannya ketika melakukan hal ini.
”Yang ingin saya lakukan ialah berjalan di sepanjang jarak putt sejajar dengan sisi rendahnya/belakang hole—dan kemudian saya akan kembali lagi ke sisi rendahnya.”
Pada segmen ini, ia menyadari ada spot datar dan memutuskan bahwa ia harus memukul putt itu dengan kecepatan yang cukup sehingga bola bisa mencapai sekitar 3 meter melewati lubang—jika putt tersebut dilakukan di permukaan yang datar. Alasannya, ada dua gundukan yang ia tahu akan menghambat kecepatan, jarak 3 meter melewati pin itu pada akhirnya akan berkurang karena gundukan tersebut.

Idealnya, ia ingin bola berhenti di bawah 900 cm dari lubang.
”Saya menemukan titik tengah Jalur putt, semacam spot kosong yang saya bidik,” jelas Spieth. ”Yang terpenting, saya mengatur kecepatan di mana saya berusaha mengirimkannya hingga ke lingkaran berdiameter 900 cm.”
2. Melatih Kecepatan
Begitu menjalani jarak dari pin ke bolanya dan menemukan di mana bolanya harus berhenti, menurut variasi green yang dihadapi, Spieth kemudian akan berdiri di belakang bolanya dan melakukan beberapa latihan pukulan. Namun, matanya tidak tertuju ke bola, ataupun jalur yang ia incar.
Ia berkonsentrasi untuk melihat lubang.
”Saya suka melatih pukulan sembari melihat ke lubang,” ujar Spieth. ”Hal ini membuat saya bisa menentukan kecepatan. Saya bisa memperkirakan sekeras apa yang saya butuhkan untuk melakukan pukulan.”
Tentunya, satu variasi dengan Spieth ialah bahwa ia merupakan pemain putter yang menempatkan posisi tangan kiri di sisi bawah. Artinya, ia mesti membuat clubhead putter-nya square ke bola pada awal pukulan. Hal ini menjadi kemutlakan ketimbang ketika melakukan grip konvensional untuk mereka yang non-kidal, yang sedikit lebih memiliki forgiveness pada penentuan waktu rotasinya.
”Saya selalu merasa nyaman dengan tangan kiri ketika harus melakukan putting,” ujar Spieth belum lama ini. ”Ketika Anda mesti melakukan rotasi melewati posisi impact, hal itu justru menjadi kelemahan bagi saya yang menempatkan tangan kiri di posisi bawah grip.”
Tak masalah. Bahkan ketika kondisinya lebih sulit, Spieth terlihat bisa melakukan putt yang terlihat mudah. Terutama dari jarak jauh.


