Fifa Laopakdee menulis ulang sejarah golf dengan menjadi pegolf Thailand pertama yang menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship di Majlis Course, Emirates Golf Club pada Minggu (26/10) lalu. Pegolf berusia 20 tahun ini mengatasi ketertinggalan enam stroke pada putaran final untuk menaklukkan Taisei Nagasaki dari Jepang, lewat birdie di hole play-off ketiga dan memenangkan Kejuaraan prestisius ini. Kemenangan ini turut memberinya hak untuk bermain pada Masters Tournament dan The Open tahun 2026. Inilah penuturannya menyusul kemenangan istimewa di Dubai itu.
Oleh Fifa Laopakdee.
Sungguh luar biasa bermakna buat saya. Bisa menang saja sudah mengagumkan dan harus melewati pertarungan yang luar biasa. Awalnya, saya berkata pada diri sendiri, ini hanyalah putaran golf lainnya, jadi saya hanya perlu ke lapangan dan berusaha bermain sebaik mungkin dan apa pun yang terjadi, terjadilah. Saya berusaha tidak membebani diri sendiri tahun ini karena beberapa tahun terakhir saya kerap membebani diri saya pada ajang ini, yang akhirnya membuat saya gagal. Tahun ini, rasanya saya bisa bermain dan menikmati pertandingan.
Ketika mengikuti Asia-Pacific Amateur pertama kalinya di Thailand tahun 2022, saya tak ada ekspektasi apa-apa. Setelah finis T5 pada waktu itu, saya pikir saya bisa memenangkan ajang ini. Saya punya potensinya dan bisa mengikuti ajang ini dalam tiga-empat tahun lagi. Jadi, tiap awal tahun, saya sangat menantikan ajang ini.
Kesadaran kalau saya punya potensi memenangkan Kejuaraan ini memberi saya fokus dan percaya diri dalam latihan dan semua yang saya kerjakan tiap harinya, dan seiring waktu, saya tumbuh dan menjadi lebih dewasa. Awal pekan di Dubai ini, saya memberi tahu media kalau saya sekarang lebih dewasa daripada tiga tahun lalu. Saya juga lebih percaya diri dan rasanya mengarah ke jalur yang tepat dalam karier golf saya.

Saya tertawa dan menyanyikan berbagai lagu dengan kedi saya saat melangkah ke fairway di hole 18 dalam permainan regulasi. Kami banyak menyanyikan lagu Bruno Mars pada putaran final, seperti ”Marry You”, ”Just the Way You Are”. Suasana yang menyenangkan dan gembira. Saya tak sadar kalau sudah main 5-under di sembilan hole terakhir karena hanya berusaha bersenang-senang, dan menjalaninya pukulan demi pukulan.
Saya mengagumi Jeeno Thitikul (pegolf wanita No.1 Dunia saat ini) Orangtua saya dan orangtuanya, dan pelatih-pelatih kami, agen-agen kami, sangat dekat. Mereka sering mengobrol, dan kami saling mendukung dalam situasi apa pun. Melihat Jeeno mendominasi golf wanita dan bagaimana ia mengendalikan dirinya sendiri, caranya menyikapi pukulan-pukulan bagus dan buruk sungguh mengagumkan. Dia selalu tersenyum dan selalu menertawakan pukulan-pukulan yang buruk. Dia memainkan peranan besar dalam hal bagaimana saya ingin berada di atas lapangan, dan berusaha meniru sikapnya dan rasanya ini membantu permainan saya untuk naik ke level berikutnya.
Jeeno itu pegolf dan pribadi yang luar biasa. Saya berada dalam tim nasional dengannya selama beberapa tahun sebelum ia beralih profesional. Dia selalu menjadi sosok yang sangat menginspirasi saya. Meskipun sangat berbakat, ia juga seorang pekerja keras. Selalu punya kepribadian unik yang sarang dimiliki orang lain. Dia juga pribadi yang menyenangkan diajak nongkrong, dan selalu memancarkan energi positif.
Saya mulai bernyanyi di tengah putaran ketika mulai melangkah ke golf kuliahan di Arizona State University. Ada banyak turnamen besar dan saya bisa bermain dengan pemain-pemain top, jadi saya juga merasakan banyak tekanan. Saya tidak ingat kapan mulai bernyanyi, tapi keputusan ini rasanya tepat. Saya mulai melakukannya tiap pekan.

Saya kira para penggemar golf Thailand sudah menanti sangat lama agar ada pemain amatir Thailand yang bisa bermain pada The Masters dan The Open. Dengan kemenangan ini, saya merasa telah mencuri hati banyak penggemar. (Kesempatan ini) sungguh luar biasa buat saya, orangtua saya, para penggemar Thailand, dan untuk negara saya.
Saya sudah menonton The Masters sejak masih sangat kecil, mungkin usia 2 atau 3 tahun ketika Tiger Woods masih dominan. Sepertinya The Masters merupakan turnamen pertama yang saya tonton lewat TV dengan ayah saya, dan saya kira itulah alasan saya mulai suka golf. Menurut saya, ajang itulah yang membawa saya ke sini. Sejak saat itu saya selalu menyaksikan ajang The Masters dan mulai emosional ketika melihat ada yang menang. Buat saya, bisa mengikuti jalan para pegolf profesional itu rasanya sulit dipercaya.
Saya juga tak sabar untuk bisa mengikuti The Open. Salah satu pelatih saya di Thailand, dia tinggal di Royal Lytham, jadi saya kira jaraknya tidak jauh dari Royal Birkdale. Mungkin dia sama bersemangatnya dengan saya. Saya juga banyak menonton The Open selama bertahun-tahun. Bakal jadi tantangan menghadapi cuaca dingin dan kondisi yang sulit, tapi saya menantikannya. Mungkin waktu saya berusia 8 tahun, saya bermain di lapangan links di Skotlandia sekali dan kondisinya hujan dengan angin kencang. Saya menangis. Yang jelas bukan kenangan terbaik saya.
Dan kenapa nama (panggilan) saya Fifa? Ayah saya penggemar sepakbola. Pilihannya Fifa atau Uefa. Syukurlah beliau memilih Fifa.



