Dua wakil Indonesia ini memilih tidak mematok ekspektasi apa-apa untuk memulai BNI Indonesian Masters presented by TNE mulai Kamis (1/4) besok.

Atmosfer BNI Indonesian Masters presented by TNE yang berbeda sangat dirasakan oleh para pegolf Indonesia yang akan mulai berlaga hari Kamis (1/4) besok. Kehadiran sejumlah besar bintang golf internasional, para jawara dunia dan Asia, serta hadiah uang yang dua kali lipat lebih besar daripada biasanya, yaitu US$1,5 juta (sekitar Rp23,5 milyar), menghadirkan sensasi yang jauh lebih berbeda daripada penyelenggaraan terdahulu.

Pekan ini ada 21 pegolf Indonesia yang dipastikan meniknati International Series pertama di Indonesia ini. Dari jumlah tersebut, 12 di antaranya dari pengumpul hadiah huang terbanyak pada PGA Tour of Indonesia musim ini. Mereka adalah Jonathan Wijono, Naraajie Emerald Ramadhan Putra, Benita Kasiadi, Indra Hermawan, Kevin Caesario Akbar, George Gandranata, Syukrizal, Joshua Andrew Wirawan, Peter Gunawan, Elki Kow, Asep Saefulloh, dan Ramadhan Alwie.

Adapun Rory Hie kembali tampil dengan status Juara Asian Tour berkat kemenangannya pada Classic Golf and Country Club International Championship 2019, sedangkan Danny Masrin tampil dengan kategori 9a, yaitu pemain yang berada di jajaran 60 besar Order of Merit Asian Tour.

Tujuh pemain lainnya bertanding sebagai pemain undangan, di mana empat di antaranya adalah pegolf profesional—Fadhli Soetarso, Almay Rayhan Yagutah, Rinaldi Adiyandono, Bradley Taslim. Adapun tiga lainnya—Randy Arbenata Mohamad Bintang, Rayhan Abdul Latief, dan Jonathan Xavier Hartono—merupakan pegolf amatir papan atas Indonesia.

”Atmosfernya memang terasa ya, Royale Jakarta Golf Club juga menyiapkan lapangannya dengan bagus sehingga terlihat sekali kalau turnamen ini prestisius, jadi terasa seru!” ujar Joshua Andrew Wirawan, yang finis T26 ketika ajang ini terakhir digelar tahun 2019 silam.

”Ketika berada di tengah lapangan rasanya biasa saja, seperti suasana putaran latihan biasanya, namun ketika berada di clubhouse memang berbeda, ada marquee, sesuatu yang jarang dilihat, jadi ada sedikit tekanan, tapi tekanan yang baik,” timpal Kevin Caesario Akbar.

Tiga tahun tidak berkompetisi di lapangan bintang lima ini jelas menghadirkan sejumlah suasana berbeda. Pemain bintang, seperti Bernd Wiesberger dan Jazz Janewattananond, yang masing-masing menjuarai ajang ini tahun 2014 dan 2019, menyebut Royale Jakarta Golf Club sudah lebih matang ketimbang ketika terakhir mereka bertanding di sini.

 

Kevin Caesario Akbar, BNI Indonesian Masters presented by TNE.
Kevin Caesario Akbar menekankan pentingnya menjaga nutrisi untuk mengatasi kemungkinan turnamen dihentikan akibat cuaca. Foto: GolfinStyle.

 

”Menurut saya, dari sisi green, kondisinya lebih bagus pada tahun 2019, hanya saja tidak berbeda jauh, green-nya masih tetap licin, rough-nya tebal, fairway-nya juga masih bagus,” tutur Kevin.

Dengan turnamen ini kembali dimainkan pada bulan Desember, para pegolf ini juga mengaku sudah siap menghadapi situasi ketika mereka harus menghentikan permainannya di tengah jalan. Sejak pertama kali digelar tahun 2011, turnamen ini memang menjadi langganan penundaan sementara lantaran selalu digelar pada musim hujan. Setelah digelar antara April dan Mei pada 2011-2015, ajang ini sempat digelar bulan Oktober pada tahun 2016, sebelum akhirnya digeser ke bulan Desember mulai tahun 2016.

”Penundaan akibat cuaca di Indonesia sudah sering ya, jadi kami sudah lumayan terbiasa. Mungkin menyikapinya dengan lebih tenang, lebih santai, apalagi kalau sedang mendapat momentum, jika tidak bijak menyikapinya, bisa jadi permainan malah menjadi lebih jelek ketika menyambung permainan. Pokoknya fokus memikirkan satu demi satu pukulan saja karena pada akhirnya semua pemain juga mengalaminya,” tutur Andrew, sapaan Joshua Andrew Wirawan.

”Kalau dari sisi teknis tentunya membawa rain glove (sarung tangan khusus untuk kondisi basah), baju ekstra. Kalau dari sisi mental harus banyak bersabar. Selain itu dari sisi nutrisinya, makanan juga harus dijaga ketika jeda, supaya ketika kembali memulai permainan tidak terasa kekenyangan atau mengantuk,” timpal Kevin.

Kedua atlet yang saat ini bernaung di bawah Ciputra Golfpreneur Foundation ini mengaku tidak ingin memasang target yang muluk-muluk. Sejauh ini Kevin memang belum pernah bermain penuh selama empat putaran, sementara Andrew telah dua kali lolos cut dengan finis T64 pada edisi 2017 dan T26 sebagai prestasi terbaiknya tahun 2019.

”Saya tidak memikirkan apa-apa. Ada banyak pemain bintang pekan ini, jadi saya bisa belajar dari mereka. Semoga bisa bermain dengan bagus supaya bisa bermain dengan pemain top,” ujar Andrew.

”Persiapan saya dari sisi teknik sudah bagus, sedangkan dari sisi mental saya ingin bersikap seperti biasa, bermain dan menikmati apapun hasilnya pekan ini,” tutur Kevin.