Tom Kim menjadi pegolf termuda pertama yang mencapai tempat kedua pada The Open Championship setelah Seve Ballesteros.
Tom Kim menggarisbawahi kualitas permainannya pada ajang Major dengan mencapai finis T2 pada ajang The Open Championship hari Minggu (23/7) kemarin. Prestasi ini menjadikannya pegolf termuda pertama yang finis di tempat kedua setelah Seve Ballesteros pada tahun 1976.
Skor 4-under 67 pada putaran final itu tidak hanya menjadi satu dari hanya tiga skor terendah 67—Adrian Meronk dan Scottie Scheffler adalah pemain lain yang mencatatkan skor serupa—pada hari terakhir, tetapi juga melambungkan pegolf berusia 21 tahun ini untuk dua kali berturut-turut mencatatkan sepuluh besar pada ajang Major. Bulan lalu ia berhasil finis di posisi T8 pada ajang U.S. Open. Adapun Ballesteros sendiri berusia 19 tahun ketika ia finis T2 di belakang Johnny Miller.
Kim, yang telah mengoleksi dua gelar PGA TOUR ini, merupakan salah satu dari empat pemain, termasuk Jon Rahm (70), Jason Day (69), dan Sepp Straka (69) yang finis dengan skor total 7-under 277, enam stroke di belakang sang juara Brian Harman. Harman sendiri melaju untuk meraih kemenangan setelah mencatatkan skor 1-under 70 dan menjadi pegolf kidal kelima yang memenangkan gelar Major.
Prestasi besar lain dari Asia juga ditorehkan Shubhanka Sharma yang finis mengesankan di peringkat T8. Sharma bermain tanpa bogey dengan skor 70 untuk mencatatkan sepuluh besar pertamanya pada The Open. Sementara duo Korea Im Sungjae dan An Byeonghun sama-sama mencatatkan prestasi terbaik mereka pada ajang Major ini dengan, masing-masing, finis di posisi T20 dan T23.
Prestasi terbaik Asia pada ajang The Open sejauh ini masih menjadi miliki pegolf China Taipei Lu Liang-huan. Lu finis sendirian di tempat kedua pada tahun 1971.
Kim terlihat sangat bersemangat dengan prestasi meyakinkan pekan ini, terutama setelah engkel kaki kanannya cedera akibat terpeleset di rumah sewaannya setelah bermain 74 pada hari pertama. ”Main bagus sekali minggu ini,” ujarnya. ”Sangat, sangat memuaskan. Engkel saya jauh lebih baik hari ini. Saya melepas gipsum dan melihat kondisinya sudah lebih baik. Tentunya ketika memainkan hole-hole terakhir pada ajang Major ketika sedang main bagus, adrenalin pasti makin memacu dan memastikan Anda tetpa fokus. Agak bagus juga bisa sedikit melupakan cedera ini karena ketika ada dalam momen seperti ini, Anda tidak bakalan memikirkannya. Mungkin hari ini kondisinya yang terbaik dalam tiga hari terakhir, jadi saya merasa lega.”
Prestasi ini turut membawa Kim ke peringkat 14 pada klasemen FedExCup dengan rangkaian Playoff dengan hadiah berlimpah mulai di depan mata. T2 pada The Open juga terjadi setelah sepekan sebelumnya ia finis T6 pada Genesis Scottish Open. Kim juga menjadi pegolf termuda setelah Rory McIlroy pada tahun 2010, yang berhasil finis dua kali berturut-turut pada ajang Major.
Meskipun berjuang keras, ia memang tidak dapat mengejar Harman. Namun, dalam penampilan keduanya pada The Open, ia benar-benar memperlihatkan perjuangan untuk finis setinggi mungkin. Sempat bermain dengan dua bogey dalam kondisi hujan dan berangin, ia berhasil bangkit dengan mengemas dua birdie dan satu eagle untuk mencatatkan skor 33 di sembilan hole pertamanya. Dua birdie lagi ia tambah di sembilan hole terakhir untuk melampaui prestasi K.J. Choi yang finis T8 pada tahun 2007 dan selama enam tahun terakhir menjadi finis terbaik dari seorang pegolf Korea.

”Brian unggul lima stroke sejak memulai hari ini. Dalam kejuaraan Major, ketika punya keunggulan lima stroke dan Anda bermain antara even dan under, sangatlah sulit mengejarnya,” tutur Kim lagi.
”Saya hanya berusaha untuk mencapai finis yang bagus karena ingin mendapatkan rangkaian pekan yang bagus dan mendapatkan rasa percaya diri lagi. Saya malah berusaha tidak terlalu banyak melihat papan klasemen, tapi sepertinya saya mengintip sedikit setelah hole 9 dan berpikir kalau saya masuk sepuluh besar. Namun, saya langsung lupa dan berusaha untuk terus main bagus.”
Sharma juga mencatatkan sejarah baru bagi India dengan menorehkan finis terbaik pada ajang Major terakhir tahun ini. Pemegang dua gelar kolaborasi DP World Tour dan Asian Tour ini mencatatkan satu-satunya permainan tanpa bogey pada hari terakhir dan finis di sepuluh besar untuk sekaligus memastikan tempatnya di Royal Troon pada The Open edisi ke-152 tahun depan.
”Luar biasa. Saya bermain dengan segenap kemampuan saya. Berjuang dari hole pertama. Entah kapan terakhir kalinya saya memainkan begitu banyak long iron di hole-hole par 4, 2-iron, 4-iron, 5-iron sepanjang hari, dan saya mengeksekusinya dengan cemerlang, sungguh bangga pada diri sendiri, melihat bagaimana saya bermain di lapangan ini,” ujar Sharma.
”Saya bisa melakukan up-and-down dengan baik untuk mengamankan par, tapi berhasil melakukan pukulan yang luar biasa di sembilan hole terakhir. Semua pukulan dalam kondisi tersebut, dengan 4-iron, 5-iron, semuanya menyisakan jarak 4,5-6 meter, ada juga yang menyisakan 1,2-1,5 meter. Putting (birdie) saya meleset dari jarak 1,2 meter, 1,5 meter, 1,8 meter di hole-hole par 3. Sangat senang. Sangat puas dengan permainan saya, dan pencapaian ini jelas membangkitkan percaya diri saya.”


