Ko Jinyoung memperbesar peluangnya mempertahankan gelar HSBC Women’s World Championship usai mendapat dukungan dari para penggemar dan mengambil alih puncak klasemen.

Kembalinya para penggemar ke lapangan untuk menyaksikan edisi ke-15 HSBC Women’s World Championship terbukti menjadi salah satu kunci penting bagi Ko Jinyoung untuk memperbesar peluangnya mempertahankan gelar yang ia menangkan setahun silam ini. Pegolf Korea ini tampil luar biasa dan menorehkan skor terendah putaran akhir pekan untuk sekaligus memimpin klasemen menuju putaran final.

Untuk kedua kalinya, Ko, menorehkan skor 7-under 65 di Sentosa Golf Club, yang memberinya skor total 14-under 202. Skor ini memberinyak keunggulan dua stroke lebih baik daripada pegolf No.2 Dunia Nelly Korda, yang untuk ketiga kalinya mencatatkan skor 4-under 68. Adapun dua pegolf Amerika lainnya, Allisen Corpuz dan pimpinan klasemen putaran pertama Elizabeth Szokol juga masih mempertahankan peluang masing-masing setelah sama-sama menorehkan skor 70 dan mencatatkan total 11-under dan menghuni peringkat ketiga.

Ko jelas berkesempatan untuk mengulangi kemenangannya tahun lalu usai kembali menorehkan skor 65 di Tanjong Course, di Sentosa Golf Club. Kualitas permainannya, di antaranya, terlihat dari pukulan drive di hole 18 par 4, yang sempat memantul dan membuatnya menyisakan jarak yang masih cukup jauh dan sulit. Akan tetapi, dengan mudah ia mengantarkan bola ke tengah green dan mengamankan par di hole terakhirnya.

Putaran ketiga ini memang telah terlihat bakal menjadi miliknya setelah ia mengemas empat birdie di lima hole pertamanya. Bogey di hoel 7 seakan tidak cukup mencegah laju permainannya sebab ia segera memperbaiki kesalahan itu dengan mencatatkan birdie kelimanya, sebelum akhirnya menambah tiga birdie lagi di sembilan hole terakhirnya.

Ketangguhan Ko jelas tidak sekadar dari kualitas pukulannya, tapi juga dari kemampuannya untuk tetap sabar. ”Saya tahu kalau tiap pukulan sangatlah penting, tapi saya mengingatkan diri sendiri, ’Ini cuma satu pukulan’ dan berusaha untuk tidak menambah tekanan pada diri sendiri,” ujar pemegang dua gelar Major ini.

 

 

Namun, ia memberi kredit bagi para penggemar yang meramaikan Tanjong Course. Baginya, situasi ini jelas menjadi yang pertama kalinya sejak pandemi melanda. Dalam dua gelaran terdahulu, HSBC Women’s World Championship selalu dimainkan tanpa kehadiran penonton umum.

”Saya yakin semua penggemar di Singapura mengikuti saya dan mereka mendukung saya. Jadi, saya punya banyak energi dari mereka, dan saya akan bermain dengan baik besok dan akan fokus pada diri sendiri dan akan menikmatinya dengan para penggemar!”

Kemampuannya untuk fokus juga membantunya untuk mengemas empat birdie di lima hole pertamanya. Meskipun intensitasnya sedikit berkurang di sembilan hole terakhirnya, Ko masih mampu menghindari bogey bahkan menambah tiga birdie lagi.

Meski punya peluang, ia juga sadar perjuangannya masih jauh dari selesai. Masih ada 18 hole tersisa dan Nelly Korda akan menjadi pesaing terdekat yang tidak bisa diabaikan. ”Kalau bisa (mempertahankan gelar) tentu akan menjadi kehormatan besar. Saya tahu hal itu akan sulit, tapi rasanya yang membuatnya menjadi sulit sebenarnya hanya diri saya yang membuatnya demikian, jadi semoga besok saya bisa main bagus,” tegasnya.

Korda, yang baru kembali ke Singapura setelah absen pada edisi 2021 dan 2022, juga mengaku memetik buah dari kesabarannya sepanjang pekan ini. Dalam tiga putaran berturut-turut, ia menorehkan skor 68, yang memberinya jarak hanya dua stroke. Baginya, bermain sabar dalam suasana iklim tropis dan hujan yang kerap mewarnai dan menciptakan tantangan ekstra menjadi kunci penting.

 

Nelly Korda, HSBC Women’s World Championship 2023.
Nelly Korda mesti mempertahankan fokusnya jika ingin meraih kemenangan pada putaran final HSBC Women’s World Championship besok (5/3). Foto: Getty Images.

 

”Dua hari terakhir terasa sangat, sangat panjang dan memastikan secara mental siap menjadi sangat penting. Setelah jeda akibat hujan, saya sebenarnya mendapat bogey di hole 10 dan mesti mengingatkan diri sendiri untuk kembali fokus karena setelah jeda yang panjang itu, indra saya terasa agak tumpul. Rasanya Anda tidak dalam keadaan siap, seperti ketika memainkan sembilan hole atau hole-hole sebelumnya dan mendapat momentum dari sana,” tutur Korda.

”Jadi, saya memastikan bahwa saya tetap fokus di lapangan, mengatur target-target saya, jarak pukul, dan memastikan saya menjalani tiap pukulan dengan kedi dan tidak melakukan kesalahan-kesalahan konyol.”

Sementara itu, Corpuz, yang melakoni debut LPGA pada musim ini terlihat menampilkan berlimpah rasa percaya diri. Beberapa penggemar mungkin mengingat ekspresinya, seperti ketika menjadi pegolf termuda yang lolos kualifikasi pada kejuaraan US Public Links dalam usia 10 tahun. Terpaut tiga stroke dari sang pemuncak klasemen, pemain debutan ini jelas menjaga peluangnya untuk melakukan terobosan karier.

”Saya pikir saya masih berusaha belajar bagaimana untuk tetap agresif, ketimbang sebelumnya ketika saya cenderung bermain sedikit lebih konservatif ketika di bawah tekanan, dan saya pikir saya tahu apa yang dibutuhkan untuk tetap agresif, sambil berusaha bermain dengan cara yang sama dalam tiga hari terakhir. Besok hanya perlu mengambil pola pikir demikian,” ujarnya.

Demikian juga dengan Szokol, yang mencicipi puncak klasemen usai putaran pertama. Setelah bermain dengan skor 64, ia terlihat mulai bermain dengan nyaman, mengemas skor 71 pada putaran kedua, dan 70 pada putaran ketiga.