Jeeno Thitikul melengkapi perayaan ulang tahunnya dengan memenangkan Honda LPGA Thailand 2026.

Setelah 342 pekan dan enam hari sejak terakhir meraih kemenangan di sirkuit utama internasional, Jeeno Thitikul akhirnya bisa mengangkat trofi lagi di negeri sendiri. Skor 4-under 68 pada putaran final di Old Course, di Siam Country Club memastikan kemenangan tipis satu stroke atas Chisato ”Chizzy” Iwai dengan skor total 24-under 264. Kemenangan ini turut melengkapi perayaan ulang tahunnya yang ke-23, yang jatuh pada hari Jumat (20/2).

Thitikul memastikan kemenangan ini setelah mengatasi persaingan seru dari Iwai, yang hingga 16 hole putaran final menempel sang juara berkat koleksi dua birdie dan eagle yang ia ciptakan dari hole 7 dan 10. Birdie yang ia ciptakan di hole 17 terbukti menjadi krusial lantaran menciptakan perbedaan satu stroke, yang bertahan hingga hole terakhir.

Bermain dengan keunggulan dua stroke sejak awal, Thitikul langsung menciptakan birdie di hole pertamanya, dan telah mematok skor total 23-under berkat tambahan tiga birdie dengan bogey di hole 4. Birdie di hole 10 membuatnya memegang keunggulan satu stroke, sampai ia terpaksa mendapat bogey lagi di hole 13. Beruntung hingga akhirnya ia mencatatkan birdie keenamnya lewat hole 17 itu, Iwai tak kunjung menambah koleksi birdie-nya. Alhasil, par di hole 18 sudah cukup bagi Thitikul untuk memastikan kemenangan internasional pertamanya di Thailand sejak 2019.

Thitikul lekas menyebut kehadiran keluarganya sebagai salah satu motivasi terbesarnya pekan ini, dengan kehadiran para penggemar membuatnya ingin menampilkan permainan terbaiknya.

 

Jeeno Thitikul, Round 4 Honda LPGA Thailand 2026.
Jeeno Thitikul memukul bolanya ke 92,9% fairway pada putaran final dan melakukan 28 putt untuk menciptakan enam birdie. Foto: LPGA Tour/Getty Images.

 

”Bisa menang di negeri sendiri seperti ini sangatlah berarti buat keluarga saya, terutama karena ibu saya ada di sini, kakek dan nenek saya juga hadir. Seluruh anggota keluarga saya kecuali saudari saya hadir,” ujarnya.

”Tentu saja seluruh penggemar Thai bisa berbangga karena mereka selalu meminta saya untuk memenangkan Honda LPGA. Saya sudah berusaha keras dan akhirnya bisa mewujudkannya, semoga mereka bisa senang dan bangga akan prestasi ini.”

Menariknya, Thitikul mengaku permainan iron menjadi salah satu aspek yang mengkhawatirkan sebelum ia memulai Honda LPGA Thailand. ”Pelatih saya selalu memperhatikan saya sebelum ke sini, kami berlatih dan kemudian merasa tertekan dan saya jadi banyak memikirkan swing untuk permainan iron saya,” tutur Thitikul, yang membawa hadiah sebesar US$270.000 atau sekitar Rp4,6 milyar.

”Saya tidak tahu bagaimana bisa akhirnya memenangkan turnamen ini. Saya kira hal ini membuktikan kalau Anda tak perlu selalu memiliki pukulan yang sempurna untuk bisa memenangkan turnamen. Anda hanya perlu percaya diri dan benar-benar berkomitmen (melakukan pukulan).”

Birdie penentu di hole 17 juga membuktikan relasi saling percaya dengan sang kedi.

”Saya rasa saya bermain dengan penuh percaya diri dan bisa mempercayai insting saya. Jadi, musim ini bakal menjadi musim yang menyenangkan.” — Chizzy Iwai.

”Jarak pukulnya bukanlah jarak yang cocok untuk pukulan full swing saya. Saya ragu memilih club. Saya memperkirakan jaraknya 142 meter ke pin, (jadi pilihannya antara wedge) 55 atau 54, searah angin. Saya bertanya ke kedi saya, haruskah saya memukul untuk jarak 128 atau 133 meter? Tapi dia meminta saya bersabar karena saya biasanya cukup cepat melakoni rutinitas saya sebelum memukul bola. Lalu dia menjawab 45, jadi saya memukul dengan wedge 45—sebelumnya saya ragu memilih antara 40 dan 45, tapi ia memberi saran final tersebut dan saya mengikutinya,” jelas pegolf yang kini mengoleksi delapan gelar LPGA Tour ini.

Keputusan tersebut terbukti tepat dan ia menciptakan birdie di sana untuk memastikan kemenangan internasional pertamanya di Thailand sejak terakhir menjuarai ajang Ladies European Thailand Championship 2019 pada Ladies European Tour ketika ia masih amatir.

Kemenangan ini juga membuatnya menjadi pegolf Thailand ketiga yang menjuarai ajang ini setelah Patty Tavatanakit (2024) dan Ariya Jutanugarn (2021).

Sementara itu, meskipun gagal meraih kemenangan, Iwai mengaku merasa percaya diri untuk melakoni musim ini.

”Hari ini saya bermain dengan baik, 6-under, skor yang bagus, hanya saja saya tidak memenangkannya,” ujar Iwai, yang mengulangi prestasi saudari kembarnya Akie, dengan finis di tempat kedua pada turnamen ini. ”Saya rasa saya bermain dengan penuh percaya diri dan bisa mempercayai insting saya. Jadi, musim ini bakal menjadi musim yang menyenangkan.”