Warisan kemenangan pertama Tiger Woods pada PGA TOUR masih sangat terasa pada ajang Shriners Children’s Open, yang sebelumnya dikenal sebagai Las Vegas Invitational.

Oleh Jim McCabe.

Terkadang sulit dipahami, namun sirkus media telah berkelana bersama Tiger Woods sejak jauh sebelum Twitter dan Facebook mendominasi dunia. Sekadar mengingatkan, kita kembali ke 25 tahun silam pada hari ini, 6 Oktober 1996, ketika Woods yang masih berusia 20 tahun melakoni debut profesionalnya di Milwaukee atau beberapa pekan sebelum ia bersaing pada ajang Quad City Classic di Illinois—ada berlimpah kisahnya di Vegas.

Sebagian besar pemain tidak terlalu gembira gembira dengan pemberitaan riuh mengenai Woods. ”Segalanya selalu soal Tiger, Tiger,” keluh Fred Funk. ”Mereka seakan melupakan orang-orang lain di lapangan.”

Omongan seperti itu tidak mengusik Woods, yang hadir untuk mengikuti Las Vegas Invitational, namun terlalu muda untuk bermain di kasino—”Saya masih bisa nonton, paling begitu,” komentarnya—tapi ia sudah sangat teruji ketika media menyoroti dan bahkan sangat sanggup mengabaikan kritik-kritik yang picik.

Yang sama-sama mengesankan ialah kemampuan Woods untuk mengabaikan dan meninggalkan putaran pembuka yang ia hasilkan di Las Vegas Hilton, satu dari tiga lapangan yang digunakan untuk lima putaran Las Vegas Invitational. Dengan skor 70, Woods tertinggal delapan stroke dari Rick Fehrs.

Saat itu Woods sudah mendemonstrasikan bakatnya yang meledak-ledak, yang membawanya meraih tiga gelar U.S. Amateur secara berturut-turut. Setela T60 dalam debutnya di Milwaukee, Woods mencapai T11 di Kanada, T5 di Quad City, dan T3 pada B.C. Open. Ia sudah mencatatkan skor 60-an dalam tujuh dari delapan putaran sebelum Vegas, jadi tidak ada yang kaget ketika Woods melanjutkan skor 70 itu dengan 63 di TPC Summerlin, dan 68 di Desert Inn untuk menanjak ke posisi T8, enam stroke di belakang Fehrs.

Jadi, maaf saja Tn. Funk, tapi patut disebut bahwa tujuh pemain yang membukukan skor 54 hole yang lebih baik, adalah nama-nama, seperti Davis Love III, Fred Couples, Phil Mickelson, Payne Stewart, dan Jim Furyk. Semua sorotoan terfokus kepada Woods, terutama lantaran ini merupakan turnamen 90 hole, yang membuat bocah dari Stanford ini memiliki dua putaran lagi untuk mengatasi ketertinggalannya.

Meski putaran ketiga itu membuat Woods bisa memenuhi target, hasilnya bisa dianggap mengecewakan—secara mental dan fisik. Pasalnya, ia telah memainkan sembilan hole pertamanya dengan 5-under, jadi finis dengan skor 68 menimbulkan gelora tersendiri baginya. Namun, yang lebih penting, Woods mulai merasakan cedera pangkal paha, yang ia tegaskan bermula dari kemenangan U.S. Amateur pada bulan Agustus.

”(Dengan) semua pertandingan golf yang saya mainkan, saya tidak pernah memberi kesempatan agar cedera ini sembuh,” jelas Woods.

 

 

Hasrat membaranya untuk melakukan yang mustahil, yaitu meraih kartu PGA TOUR dengan finis di jajaran 125 besar daftar peraih uang dalam kurang dari 10 turnamen, telah menjadi alasan jadwalnya yang padat itu. Kondisi ini juga memicu kontroversi lain juga, lantaran alasan kejenuhan ini mendorong Woods untuk mundur dari Buick Challenge dan makan malam yang semestinya menjadi momen ketika ia menerima Haskins Award sebagai pegolf top universitas di Amerika.

Ah, dan betapa tindakan itu memicu sejumlah reaksi.

”Dia mungkin akan menerima kritikan lantaran hal ini,” prediksi Peter Jacobsen, yang terbukti benar. Love berkomentar kepada para wartawan, ”Dia seorang pendatang baru dan pendatang baru melakukan kesalahan khas pendatang baru.” Sementara Stewart Cink, yang sebelumnya juga menjuarai Haskins Award, berkomentar lebih tegas, ”Pada tataran tertentu, tindakannya menyinggung semua pemain yang telah memenangkan penghargaan itu.”

Sepekan kemudian, Woods berada di Vefas dan mengabaikan kritikan itu. ”Saya mendapat beberapa pesan dari para pemain yang mengungkapkan mereka tidak benar-benar memaksudkan apa yang tertulis,” tutur Woods kepada para wartawan. ”Mereka benar-benar bersikap baik kepada saya.”

Meskipun memiliki kemampuan diplomatis, Woods memiliki persona lain yang begitu tiba saatnya untuk bertanding. Para pesaingnya sudah menyadari ketajaman fokusnya.

Sembari memperhatikan cedera pangkal pahanya, Woods mengubah putaran yang senyap itu menjadi semakin menarik ketika mencatatkan eagle di hole 16 par 5 pada haru Sabtu dan membukukan skor 5-under 67, serta memangkas jarak menjadi empat stroke, kali ini dari Ronnie Black.

Kemudian, sihir yang Woods tunjukkan sebagai pemain amatif dan kemudian menjadi kartu andalannya sebagai profesional terpampang di TPC Summerlin pada putaran kelima. Birdie di hole pertama membuat para penggemar menjadi luar biasa riuh, disusul dengan eagle di hole 3 par 5 yang meningkatkan sorak-sorai.

Woods terus menekan gasnya. Birdie di hole 9, 11, dan 13 benar-benar luar biasa. BIrdie di hole 14 membawanya sejajar dengan posisi teratas, dan dua putt untuk birdie di hole 16 membuatnya menjadi pimpinan klasemen.

 

Tiger Wooods pada Las Vegas Invitational 1996.
Tiger Woods mewujudkan harapannya bersaing satu-lawan-satu dengan Davis Love III dan mewujudkan gelar PGA TOUR pertamanya pada Las Vegas Invitational 1996. Foto: Sam Greenwood/PGA TOUR Archive.

 

Dari area latihan, Woods mendapat kabar kalau Love membuat eagle dan birdie untuk menyamakan skornya, dengan 27-under.

Beberapa bulan sebelumnya, Woods yang masih muda dan lancang itu menyampaikan kepada Love bahwa sudah menjadi impian baginya untuk bersaing satu-lawan-satu hingga hole-hole terakhir dan mengalahkan megabintang yang sudah mapan. Love membalasnya dengan komentar bernada, ”Semoga beruntung, saya harap Anda mendapat kesempatan tersebut.”

Love jelas merasa kecewa karena kesempatan itu tiba di TPC Summerlin dan Woods tidak berlama-lama untuk mewujudkannya. Pukulannya dengan 3-wood yang mengantar bola ke fairway di hole 18 disusul dengan 9-iron yang membawa bola berjarak 6 meter dari lubang memberi tekanan yang segera mendorong Woods menarik kartu andalannya.

”Dia pasti tahu kalau saya berada dalam posisi putt untuk birdie,” ujar Woods, menegaskan bahwa memang strateginyalah untuk melakukan pukulan yang pertama pada hole play-off pertama itu.

Kedewasaannya jelas luar biasa, dan dia benar. Love tidak bisa menyamai pukulannya, melayangkan bola ke bunker dengan 8-iron-nya. Setelah Woods melakukan dua putt untuk par, ia menyaksikan bola Love meleset dari jarak 1,2 meter. Mereka melepas topi dan bersalaman.

Cek raksasa senilai US$297.000 itu masih tergantung di kantor Woods. Namun, yang paling berkesan ialah komentar Love, yang kala itu berusia 32 tahun dan ada di puncak kareirnya, seusai pertandingan itu.

”Meskipun kecewa, saya sangat senang terhadap dia,” ujar Love. ”Dia pemain hebat, dan dia bakal benar-benar bagus untuk PGA TOUR.”

Sangat benar. Dan masih sangat benar bahkan 25 tahun kemudian.