Arpichaya Yubol menampilkan permainan terbaik pada hari pertama Buick Shanghai LPGA dengan torehan skor 8-under 64 untuk mengungguli para pemain bintang.
Permainan iron dan putting yang tajam membantu Arpichaya Yubol untuk mengungguli para pemain bintang pada ajang Buick Shanghai LPGA, yang tengah berlangsung di Qizhong Garden Golf Club, di Shanghai, China. Pegolf Thailand ini mengemas delapan birdie tanpa bogey untuk memuncaki klasemen putaran pertama.
Pegolf berusia 23 tahun ini pun akan memainkan putaran kedua dengan keunggulan satu stroke atas lima pegolf, termasuk No.4 Dunia Minjee Lee asal Australia dan rekan senegaranya No.1 Dunia Jeeno Thitikul.
Bermain dengan pemegang enam gelar LPGA asal Jepang Nasa Hataoka, Yubol, yang mulai berkiprah pada LPGA sejak 2022 usai melalui jalur Q-School 2022 ini, menampilkan permainan yang sangat ideal. Ia menciptakan birdie di tiga hole pertamanya untuk langsung melejit ke puncak klasemen. Ia pun menuntaskan sembilan hole pertamanya hanya dengan 32 pukulan, setelah menambah birdie keempatnya lewat hole 6.
Ketika momentumnya seakan meredup, ia meraih birdie kelimanya dari hole 12, sebelum akhirnya menambah tiga birdie lagi di hole 14, 16, dan 17 untuk mencatatkan skor terendah pada hari pertama.
”Pekan ini saya berusaha untuk lebih mempercayai permainan iron saya.” — Arpichaya Yubol.
”Menurut saya putter saya berfungsi dengan baik hari ini dan kemudian short game saya juga sama,” ujar Yubol. ”Pekan ini saya berusaha untuk lebih mempercayai permainan iron saya. Biasanya saya memukul draw, tapi kali ini bisa sedikit melakukan pukulan cut fade.”
Catatan statistiknya memang menegaskan betapa solid permainannya dari tee ke green. Pukulannya mencapai 11 dari 14 fairway—satu fairway lebih baik daripada Minjee dan Jeeno—serta mencatatkan 17 dari 18 green in regulation (84,4%)—satu GIR lebih baik daripada Minjee dan 2 GIR lebih baik daripada Jeeno. Meskipun melakukan total 28 putt, yang artinya lebih banyak satu putt daripada Minjee dan Jeeno, ia berhasil mencatatkan 8-under.
Yubol membalas kekecewaannya lantaran gagal lolos cut pada ajang Lotte Championship di Hawaii pekan lalu dengan berlatih dan berdiskusi dengan sang ayah, yang juga menjadi kedinya.
”Kami pun sedikit mengubah permainan sehingga saya merasa nyaman,” ujarnya lagi.

Sementara itu, meskipun tidak berada di posisi teratas, Jeeno menunjukkan alasan mengapa ia layak menjadi pegolf No.1 Dunia. Setelah mengawali permainan dengan bogey, ia malah menciptakan double bogey di hole 2 dan bermain 3-over dalam empat hole yang ia mainkan. Akan tetapi, birdie pertama yang ia raih di hole 5 ternyata membangun momentum baginya untuk menciptakan tiga birdie secara berturut-turut di tiga hole berikutnya.
Jeeno juga menjadi pegolf kedua yang mencatatkan sembilan hole terbaik dengan skor terendah. Ia menciptakan enam birdie, termasuk dua birdie di dua hole terakhirnya, untuk memberi modal ke putaran berikutnya. Pegolf lain yang melakukan 30 pukulan di sembilan hole keduanya adalah Jennifer Kupcho. Bedanya, ia menciptakan empat birdie dengan sebuah eagle di hole 17.
”Main 3-over di dua hole pertama serasa membuang tiga pekan istirahat saya karena tidak bertanding. Lalu saya mengingatkan diri saya untuk tidak mengambil hati karena baru dua hole. Jadi, saya terus berusaha dan akhirnya bisa menciptakan birdie demi birdie,” tutur Jeeno. ”Saya kira terkadang lapangan ini membuat saya tidak berpikir banyak, dan golf mengajarkan saya untuk tetap rendah hati dan terus berusaha. Ini hanya golf dan lapangannya, green-nya (mungkin tidak dalam kondisi terbaik),” ujarnya.
Green di lapangan ini memang cukup mengejutkan, mengingat kondisinya terlihat jauh dari prima. Meski demikian, profesionalisme para pemain menunjukkan mereka tetap mampu mencatatkan skor rendah. Termasuk yang dilakukan oleh Minjee untuk menyamai raihan Jeeno, Jenny Bae, Jenny Shin, dan Yoon ina.

”Rasanya saya bermain dengan solid di lapangan. Driver saya solid, permainan iron saya juga cukup bagus. Rasanya dengan kondisi green yang demikian, saya kira saya bisa memainkannya dengan baik untuk menciptakan tujuh birdie,” ujarnya.
Hari pertama juga layak menjadi milik pegolf amatir Li Menghan. Pegolf berusia 16 tahun ini mencatatkan hole-in-one di hole 11, yang ikut membantunya mengakhiri putaran pertama dengan skor 2-under 70.
”Saya merasa senang dan merasa bersemangat karena ini hole-in-one pertama saya dalam turnamen golf, dan kami merayakannya bersama grup saya. Ini hole-in-one ketiga dalam karier saya, tapi ini yang pertama dalam sebuah turnamen,” ujar Li, yang menggunakan 8-iron di hole yang berjarak 131 meter tersebut.
Tahun lalu, dalam usia yang baru 15 tahun, Li mencatatkan prestasi sebagai pemain amatir terbaik. Kala itu ia finis di peringkat T63 setelah mencatatkan skor total 2-over 290.
”Saya belajar banyak dari tahun lalu dan tahun ini karena saya banyak berubah dari segi pola pikir pada tahun ini,” ujarnya.

