Lee Kyounghoon menampilkan permainan solid dalam upayanya mempertahankan gelar pada ajang AT&T Byron Nelson.

Juara bertahan Lee Kyounghoon mengawali upayanya mempertahankan gelar AT&T Byron Nelson dengan meyakinkan. Skor 8-under 64 yang ia bukukan pada putaran pertama kemarin (12/5) langsung menjadi salah satu pemain yang menghuni jajaran atas dan berada empat stroke di belakang pegolf Kolombia Sebastian Munoz.

Catatan skor Lee itu bahkan melampaui skor dua rekan bermainnya, pimpinan FedExCup dan pegolf No.1 Dunia saat Scottie Scheffler serta pemain favorit tuan rumah Jordan Spieth.

Pekan lalu Lee kembali ke pelatih swing lamanya, Chris Mayson dan pelatih mental Jung Gureen untuk meningkatkan performanya. Keputusan itu ia ambil lantaran belum sekalipun ia meraih finis sepuluh besar pada musim ini. Selain itu, ia juga kini meminta jasa kedi baru, Dan Parratt, yang sebelumnya menjadi kedi bagi An Byeonghun. Dari sisi perangkat, Lee juga kembali menggunakan putter two-ball lamanya, putter yang sama yang telah membantunya finis T25 pada ajang Wells Fargo Championship, setelah tiga kali berturut-turut gagal lolos cut.

”Hari ini saya mendapatkan putaran yang bagus, seperti tahun lalu. Rasanya menyenangkan. Saya pikir momentum bagus ini tengah berlanjut,” tutur Lee, yang tahun lalu mengawali ajang ini dengan skor 65 untuk meraih gelar PGA TOUR pertamanya. ”Iron dan putting saya lebih baik daripada pekan lalu. Dan masih terus berlanjut sampai pekan ini sehingga saya merasa nyaman. Saya berusaha untuk lebih yakin pada diri sendiri dan bahwa hasil yang bagus segera mengikuti.”

Kemarin bolanya hanya meleset darri satu green dan ia menempati peringkat kedua untuk kategori Strokes Gained: Tee to Green. Di sembilan hole pertamanya ia menorehkan lima birdie yang semuanya ia raih dari jarak kurang dari 3 meter. Setelah meraih birdie keenamnya di hole 11, ia melayangkan boanya dari jarak 259 yard hingga menyisakan 3 meter, yang segera ia masukkan untuk eagle.

”Rasanya nyaman bermain di sini. Seperti tahun lalu, saya bermain bersama pemain hebat, seperti Scotti Scheffler dan Jordan Spieth, pada putaran pertama, bermain dengan pemain hebat sangat menyenangkan dan saya menikmatinya. Saya sangat senang. Rasanya baru kemarin saya memegang trofi, tapi waktu cepat berlalu. Saya mendapat banyak kenangan indah. Setelah kembali ke sini, saya ingin bisa menampilkan permainan terbaik dan memenangkan trofi lagi,” ujarnya.

 

 

Musim lalu ia mencapai finis terbaiknya pada klasemen FedExCup, yaitu di peringkat 31. Sayang ia belum dapat menembus TOUR Championship.

”Sejujurnya, saya ingin tampil lebih baik dan lebih meningkatkan permainan. Saya sedikit merenung dan dari sana, saya pikir saya banyak kehilangan diri sendiri dan permainan saya. Saya punya banyak kenangan indah dengan pelatih lama dan ingin mendapatkan diri saya yang lama. Untuk pelatih mental, saya juga punya banyak pemikiran dan saya kehilangan kendali. Itu sebabnya, saya meminta bantuan mereka,” jelas Lee.

Uniknya, ketika menjuarai ajang ini pada tahun 2021 itu, Lee mengganti putter Two-Ball regulernya dengan putter blade persis sebelum turnamen dimulai. Ia kemudian berhasil menang. Namun, setelah beberapa lama, kini ia memilih kembali memakai Two-Ball.

”Saya tidak bermaksud gonta-ganti, tapi waktunya pas. Saya ganti ke blade tahun lalu dan baru-baru ini kembali memakai Two-Ball. Sejujurnya, putt jarak pendek saya kurang tajam dan saya merasa gugup. Sejak mengganti ke putter lama, putting saya kini lebih konsisten dan saya lebih percaya diri,” tutur Lee, yang berharap bisa mengikuti jejak Sam Snead (1957-1958), Jack Nicklaus (1970-1971), dan Tom Watson (1978, 1979, 1980), yang sukses mempertahankan gelar AT&T Byron Nelson.

Sementara itu, Sebastian Munoz meraih posisi teratas, di antaranya dengan menorehkan dua eagle, serta menjadi pegolf pertama dalam sejarah PGA TOUR yang memainkan lebih dari satu putaran dengan skor 60 atau lebih baik dalam satu musim yang sama. Sebelumnya, ia menorehkan skor 61 pada putaran pertama RSM Classic. Skor 60 yang ia bukukan itu sekaligus menyamai rekor skor terendah ajang AT&T Byron Nelson ini.

Pegolf Jepang Hideki Matsuyama memulai pekan ini dengan skor 67, setelah terpaksa mendapat bogey di hole ke-17, dan untuk sementara menempati peringkat T12. Adapun bintang Thailand Kiradech Aphibarnrat dan pegolf Korea lainnya Noh Seungyul sama-sama menorehkan skor 69.