Sang Penjinak Tiger Yang Yongeun kini memasuki babak baru dari perjalanan karier golfnya.

Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director, Marketing & Communications APAC, PGA TOUR yang berdomisili di Malaysia.

Karier PGA TOUR-nya mencakup 193 turnamen, 2 kemenangan, 12 kali finis di sepuluh besar, 33 kali masuk 25 besar, dan peringkat 10 sebagai prestasi terbaiknya pada klasemen FedExCup. Dari perjalanan tersebut, ia memenangkan sekitar US$9 juta atau sekitar Rp128,6 milyar. Dengan tambahan total 7 kemenangan pada European Tour (kini bernama DP World Tour) dan Japan Tour, resume kariernya sebagai pegolf profesional layak dirayakan.

Namun, yang terpenting, nama Yang Yongeun, atau yang biasa disebut Y.E. Yang, akan selamanya terukir dalam folklor golf sebagai pegolf Asia pertama yang mengangkat trofi Major. Prestasi yang sangat mengesankan ini ia capai usai kemenangan satu lawan satu atas Tiger Woods pada ajang PGA Championship 2009 di Hazeltine.

Pada 15 Januari 2022 lalu, Yang genap berusia 50 tahun. Ini berarti ia akan membuka babak baru dalam karier golfnya dengan melakoni debut di panggung PGA TOUR Champions lewat ajang Chubb Classic yang dimulai 18 Februari mendatang di Naples, Florida.

Pegolf yang namanya terbilang terlambat melambung—Yang mulai mengenal golf saat sudah berusia 19 tahun—mengaku masih sangat mencintai golf, yang telah membawanya menempuh perjalanan lintas dunia untuk bersaing dengan berbagai fairway terbaik. Ia yakin tiap hari ia mempelajari hal yang baru sembari mempersiapkan dirinya mengikuti sirkuit yang ditujukan bagi pegolf berusia 50 tahun ke atas. Ia juga akan bersaing dengan sejumlah pemain legendaris, seperti Bernhard Langer, Ernie Els, Vijay Singh, Darren Clarke, dan Fred Couples.

”Pertama-tama, saya mencintai golf. Saya masih menyukainya dan masih akan selalu memainkannya pada masa mendatang. Saya belajar dan mendapat banyak hal dari bermain golf,” ujar Yang. ”Saya penasaran apa yang bakal saya temukan dan penasaran juga pada apa yang bakal terjadi kemudian. Saya bersemangat karena saya bisa kembalia bersaing lagi, dan saya juga memiliki ekspektasi yang tinggi.”

 

Y.E. Yang saat menaklukkan Tiger Woods tahun 2009.
Yang menjadi pegolf Asia pertama yang menjuarai Major dengan mengalahkan Tiger Woods pada PGA Championship 2009. Foto: Getty Images.

 

Seperti kebanyakan generasi bintang golf Asia pertama, perjalanan Yang dan kariernya yang melejit sangatlah memberikan inspirasi. Ia tumbuh dalam keluarga yang membesarkan delapan anak di Pulau Jeju. Ia bermimpi menjadi binaragawan dan bahkan memiliki fasilitas kebugaran. Setelah mengalami cedera, ia diperkenalkan pada golf saat berusia 19 tahun dan mulai memukul bola dengan meniru orang lain. Ia bahkan bekerja memungut bola di driving range setempat. Setelah menjalani wajib militer, perhatiannya ia curahkan sepenuhnya untuk golf. Malahan ia menjadi pengajar profesional sebelum akhirnya menjadi pegolf profesional.

Dengan semangat yang berapi-api, pegolf Korea yang tegap ini menikmati keberhasilan di sirkuit dalam negeri, sebelum kemudian menikmati sukses serupa di Jepang. Lalu pada ajang HSBC Champions 2006 di Chinalah namanya mulai terkenal, setelah mengalahkan sejumlah pegolf papan atas dunia, termasuk Woods. Yang kemudian meraih kartu PGA TOUR setelah mengikuti Qualifying School tahun 2007. Ia butuh dua tahun sampai akhirnya bisa mencatatkan prestasi di level tertinggi tersebuut, lewat kemenangannya pada ajang The Honda Classic, sebelum kemudian menciptakan kehebohan terbesar dalam sebuah olahraga kala mengalahkan Woods, sekaligus mencatatkan sejarah baru.

”Saya bukan pemain terkenal dan kalau saya mengalahkan pemain yang terkenal, kisah tersebut seharusnya tak menjadi bahan pembicaraan,” ujar Yang menyinggung kemenangannya yang menyalip Woods, yang kala itu sudah mengemas lima kemenangan dan tak pernah kalah setelah memimpin dalam 54 hole dalam 36 turnamen sebelumnya.

”…saya tidak sadar kalau saya punya peluang untuk menjuarai Major, tapi impian itu menjadi kenyataan dan saya bersyukur.”

”Kala itu kisahnya adalah seorang pemain dengan 70 gelar melawan seorang pemain yang memiliki satu gelar. Pada awalnya, saya tidak sadar kalau saya punya peluang untuk menjuarai Major, tapi impian itu menjadi kenyataan dan saya bersyukur. Ke mana pun saya pergi sekarang saya punya kebanggaan bahwa saya adalah seorang juara Major.”

Lalu apa yang bakal dicari oleh seorang pegolf dengan pengalaman seluas dan sekaliber Yang di panggung PGA TOUR Champions?

”Ada banyak legenda lain pada Tour tersebut, dengan karier yang lebih baik daripada saya. Saya akan belajar banyak dari mereka. Entah bakal berjalan baik atau tidak, saya pikir saya akan memainkan golf yang lebih bisa dinikmati ketimbang ketika saya masih lebih muda. Saya akan menjadi anggota termuda pada PGA TOUR Champions ini dan karena saya yang termuda, saya merasa lebih bersemangat dan lebih punya energi,” ujarnya.

 

Y.E. Yang dengan trofi The Honda Classic 2009.
Sebelum prestasi fenomenalnya, Yang menjuarai The Honda Classic 2009 sebagai gelar PGA TOUR pertamanya. Foto: Getty Images.

 

Ia bergabung dengan rekan senegaranya, K.J. Choi, yang pertama kali membuka jalan bagi para pegolf Asia lainnya untuk mengejar impian di Amerika, lewat sirkuit bagi pegolf senior ini. Yang juga berharap bisa melampaui sahabatnya itu untuk menjadi pegolf Korea pertama yang menjuarai ajang PGA TOUR Champions.

”Saya bersemangat menyambut ekspektasi baru ini,” ujar Yang. ”Ada hal yang menyedihkan ketika menjadi lebih tua, tapi bagi kami para pegolf, kami masih punya kesempatan pada Champions Tour, jadi ini kesempatan yang lain, bukan? Ini Tour yang diikuti begitu banyak pemain legendaris, jadi merupakan kehormatan buat saya bisa melakukannya. Saya akan belajar banyak dari mereka.”

Bintang asal Jepang Hideki Matsuyama juga telah bergabung dengan Yang dalam klub eksklusif juara Major Asia, seusai menjuarai The Masters tahun lalu. Namun, Yang berharap warisannya sendiri akan membuka jalan bagi lebih banyak pegolf lainnya untuk mengejar mimpi mereka.

”Jika Anda mempunyai mimpi, jika Anda memiliki pola pikir bahwa Anda bisa melakukannya, Anda bisa melakukannya,” ujar Yang. ”Saya berusia 36 tahun ketika ke AS, saya sudah punya anak, dan rata-rata atlet sudah pensiun saat seusia saya. Namun, saya memutuskan ke Amerika pada usia tersebut. Kalau saya bisa melakukannya, orang lain pun bisa.”

Ketika mewawancarai Yang di Seoul, sebuah banner dengan fotonya menghias dinding di depan bangunan. Yang mengaku bahwa ia merasa ”sedikit malu” melihatnya. Namun, sebagai pencipta sejarah golf Asia, sudahlah selayaknya bagi pegolf yang belajar golf sendiri, yang mengejar dan mewujudkan mimpinya ini dirayakan, meski dengan cara yang sederhana. Sekarang babak baru sudah menghampirinya.