Fifa Laopakdee mengikuti jejak Hideki Matsuyama dengan mempertahankan gelar Asia-Pacific Amateur Championship, salah satunya berkat kegemaran baru: membaca buku.

Kemenangan Fifa Laopakdee pada Asia-Pacific Amateur Championship di Te Arai Links, Selandia Baru, pada Minggu (1/11) lalu memastikan pemuda berusia 21 tahun ini bisa kembali ke Augusta National, sembari memastikan tempatnya di St Andrews untuk tahun 2027.

Jika tahun lalu ia terpaksa melakoni babak play-off untuk menciptakan kemenangan terbesar baginya, kali ini ia melakukannya dengan putaran regular, dan dengan kemenangan tiga stroke.

Rasanya sulit mempercayai kalau sepanjang tahun ini ia harus berjibaku dengan permainan golfnya. Faktanya, ia memang tidak mencatatkan prestasi apa-apa sejak meraih kemenangan pada The Desimont Invitational di kancah NCAA bulan Maret lalu. Meski masih finis di sepuluh besar sepekan kemudian, prestasi terbaiknya hingga tiba di Te Arai Links hanyalah 15 besar pada Big 12 Men’s Golf Championship bulan April.

”Rasanya dalam momen-momen yang berat itu saya bahkan tidak bisa menangis. Saya di kamar sendirian, menciptakan banyak keraguan dan tekanan pada diri sendiri, apakah saya masih cukup mampu (bersaing) dalam hal ini,” tutur Laopakdee.

 

Fifa Laopakdee, Round 1 AAC 2026.
Skor 8-under 63 yang ia raih pada putaran pertama menjadi skor terendah yang tercipta sepanjang pekan di South Course, di Te Arai Links, Selandia Baru itu. Foto: AAC.

 

”Bulan lalu ketika mengikuti Asian Games di Jepang, setelah memainkan putaran kedua dan ketiga yang buruk, saya kembali ke kamar dan berusaha menangis, tapi tidak bisa. Saya berada di tempat yang kelam dan merasa permainan saya tidak cukup bagus.”

Uniknya, justru saat itulah ia mulai beralih ke dunia literatur.

”Saya tahu kalau saya mesti keluar dari zona nyaman saya dan belajar dari membaca buku,” sambungnya.

Lalu secara mengagumkan, ia menciptakan skor terendah yang tercipta sepanjang pekan itu. Tujuh birdie dengan sebuah eagle dan hanya satu bogey pada putaran pertama ikut menjadi krusial dalam kembali menjuarai ajang ini.

 

Fifa Laopakdee, Jumpa Pers AAC 2026.
Fifa Laopakdee beberapa kali menyebut membaca buku sebagai hal yang ikut membantunya dalam jumpa pers hari Minggu (1/11). Foto: AAC.

 

”Hari Kamis itu memainkan momentum yang besar. Saya tidak main bagus hari Jumat atau Sabtu, tapis kor 63 itu sangat membantu saya untuk bersaing. Hari Kamis itu saya cuma ingin ke lapangan dan main sebaik mungkin. Target saya hanyalah main 3-under karena lapangannya berangin dan saya tahu diri, saya bukan pemain yang mahir dalam kondisi berangin. … Sekarang saya tahu bagaimana bermain dalam kondisi berangin dan tahu cara bermain dalam semua kondisi yang sulit ini,” tuturnya lagi.

Laopakdee juga menyebut kini buku menjadi bagian yang tak terpisahkan baginya. Sepanjang pekan di Te Arai Links itu ia kerap meluangkan waktu membaca. Baginya buku turut memberi asupan yang penting bagi pikirannya.

”Pagi hari sepanjang pekan, ketika waktu tee saya siang, saya akan bangun, sarapan, kembali ke kamar dan membaca buku, lalu menulis di jurnal saya sambil berusaha mencari sesuatu yang bisa saya gunakan di lapangan,” ujarnya.

Sebagai seorang atlet yang bersaing di level yang begitu tinggi, Laopakdee mengunyah buku-buku bertema psikologi. ”Saya suka membaca buku tentang psikologi golf, seperti buku karya Bob Rotella,” imbuhnya.

 

Bob Rotella, psikolog golf kenamaan.
Game is Not a Game of Perfect merupakan salah satu buku terlaris karya Bob Rotella. Foto: Simon & Schuster.

 

 

Rotella memang terkenal untuk topik ini. Sejumlah pegolf profesional, seperti Justin Thomas, Darren Clarke, Jim Furyk, Padraig Harrington, bahkan Rory McIlroy termasuk dalam daftar klien dari sosok yang selama dua dasawarsa dipercaya sebagai direktur psikologi olahraga pada University of Virginia ini.

”Sebenarnya, saya malah baru mulai membaca buku justru seminggu sebelum AAC. Mengagetkan juga karena langsung meresap dan membantu permainan mental saya dengan luar biasa cepat!” aku Laopakdee yang mendengarkan buku audio dari Bob Rotella yang berjudul Golf is Not a Game of Perfect.

Sepanjang jumpa pers usai mempertahankan gelarnya itu, beberapa kali pula Laopakdee menggarisbawahi bahwa membaca buku-buku dengan topik yang relevan itu terbukti sangat membantunya.

”Dan sekarang saya membaca e-book berjudul The Inner Game of Golf karya W. Timothy Gallwey,” tulisnya lewat pesan Instagram.

 

W. Timothy Gallwey, psikolog olahraga.
Kini Fifa Laopakdee membawa buku psikolog olahraga lainnya, W. Timothy Gallwey. Foto: Pan Macmillan.