Viera Permata Rosada ikut menjadi kunci keberhasilan Tim Golf Sumatera Utara memenangkan dua medali emas. Pertama dari nomor individu putri, dan kedua dari nomor mixed-foursome bersama Rayhan Abdul Latief. Beberapa pekan selepas pekan yang luar biasa di Medan itu, pegolf yang akrab disapa Ocha ini menuturkan pengalamannya kepada Tania Putri Dzahabiyyah, mantan atlet golf Sumatera Utara.

Oleh Tania Putri Dzahabiyyah.

Pada pertengahan September 2024 lalu, Viera Permata Rosada berhasil meraih medali emas pertamanya di nomor individu putri pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI. Skor 73-72-67 membuat Ocha, sapaan akrabnya, mengumpulkan skor total 4-under 212. Skornya itu membuatnya menduduki peringkat pertama, lebih baik daripada atlet DKI Jakarta Kristina Natalia Yoko (72-73-71) dan atlet Bali Meva Helina Schmit (75-73-74).

Baginya, skor selama tiga putaran tersebut melebihi apa yang ia targetkan semula. Toh medali emas ini turut membayar pengorbanannya selama melakoni latihan intensif dalam tiga bulan terakhir di Medan. Variasi latihan, berupa fisik, mental, teknik, dan manajemen lapangan dari Persatuan Golf Indonesia Pengurus Provinsi Sumatera Utara (PGI Pengprov Sumut) terbukti membantunya tampil maksimal dalam tiga hari pertama kompetisi ini.

Ia juga menyebut fokusya pada ”rencana permainan” yang telah disusun timnya ikut membuat permainannya menjadi lebih maksimal. Rencana permainan tersebut pada dasarnya sangat bervariasi, namun secara spesifik Ocha berfokus pada hole-hole yang memungkinkannya menyerang, serta hole-hole yang mesti ia mainkan dengan ekstra hati-hati.

Hole 1 par 4 di Royal Sumatra menjadi salah satu hole yang perlu dimainkan secara agresif. Jarak pukul dan lebar fairway memudahkannya bermain agresif. Dan jika sesuai dengan rencananya, ia bisa menciptakan momentum dan menghasilkan birdie di sini. (Dalam dua putaran pertama ia hanya bermain par, namun berhasil meraih birdie pada putaran ketiga). Sementara itu, hole-hole yang memaksanya mesti bermain aman, di antaranya ialah hole 4, 8, 12, 14 dan 18. Ia menyebut, permainan yang lengah di hole-hole tersebut bisa berdampak fatal.

Ocha juga menyebut tee off yang akurat juga menjadi krusial untuk memastikan bola mencapai fairway. Meski terdengar klise, rough di Royal Sumatra mempertegas pentingnya akurasi pukulan dari tee. Rough yang tebal tak hanya bisa menyulitkan pukulan berikutnya, tapi juga bisa mengakibatkan bola hilang. Itu sebabnya, memastikan bola masuk fairway juga menjadi tugas penting baginya sepanjang kompetisi.

 

Benita Kasiadi dan Viera Rosada, Round 3 PON XXI Nomor Individu Putri.
Pelatih sekaligus kapten Benita Yuniarto Kasiadi (kiri) terus mendampingi
Viera Permata Rosada sepanjang 18 hole terakhir nomor individu putri. Foto: Dede Indra Susanto.

 

Akan tetapi, tampil untuk pertama kalinya dalam kompetisi seberat PON bukanlah hal yang mudah. Dalam dua putaran pertama, ia diselimuti rasa tegang. Kondisi seperti ini kerap membuat seorang pemain melupakan rencana permainannya. Namun, sosok Benita Yuniarto Kasiadi, pelatih yang juga menjadi kapten pada nomor individu ini menjadi faktor yang membuat Ocha bisa kembali rileks, terutama di 18 hole terakhir nomor individu. Benita terus menemani Ocha pada putaran final tersebut, sekaligus kembali mengingatkan rencana permainan yang telah mereka susun.

Setelah bermain 73-72, atau hanya 1-over dalam dua putaran pertama, ia berhasil mencatatkan skor terbaiknya dengan torehan 5-under 67. Sepanjang 18 hole terakhir itu, ia mencatatkan 16 green in regulation. Dan di dua green lainnya, bolanya berada di sekitar apron sehingga ia tidak perlu melakukan chipping.

Skor 67 itu sekaligus menjadi skor terbaiknya, bahkan sepanjang latihan yang ia lakukan di Royal Sumatra. Sebelumnya, skor terbaik yang ia raih ialah 4-under 68. Istimewanya lagi, ia tidak mencatatkan satu bogey pun.

”Skor terendah dalam karier golf saya sejauh ini adalah 7-under, namun waktu itu saya masih mencetak bogey. Sedangkan pada hari ketiga itu, saya bermain tanpa bogey dan menurut saya ini merupakan salah satu pencapaian dalam karier saya,” tuturnya.

Ocha menggarisbawahi faktor keluarga sebagai faktor utama yang ikut membantunya mewujudkan emas bagi tuan rumah. Kehadiran ayah, ibu, serta tantenya di Medan merupakan dukungan yang sangat mendalam. Apalagi kondisi ibunya kala itu kurang sehat. Itulah sebabnya, ia menunjukkan semangat yang luar biasa di atas lapangan. Ia benar-benar tak ingin menyia-nyiakan dukungan keluarganya tersebut.

”Belum tentu saya bisa main bagus dan mendapatkan emas jika berada di tim yang lain.” —Viera Permata Rosada.

Bagi Ocha dan keluarganya, emas pada ajang PON ini juga punya makna lebih. Selama 15 tahun menggeluti olahraga ini, ia sudah menjuarai berbagai turnamen skala nasional dan internasional, namun belum pernah merasakan kompetisi PON. Maka tatkala tawaran datang dari PGI Pengprov Sumut melalui Ichsan H. Batubara, Ketua PGI Pengprov Sumut, Ocha langsung menyambut tawaran tersebut.

Lingkungan Tim Sumut juga menjadi elemen lain yang menolongnya menjawab kepercayaan tersebut. Selain memfasilitasi seluruh persiapan, Ichsan, beserta jajaran pengurusnya, sangat mempercayai kemampuan Ocha dan timnya. Selain itu, tim pelatih—Benita, Kurnia Herisiandy, Madasamy Balraj asal Singapura—serta teman-teman satu timnya turut memberi motivasi baginya. Selama tiga bulan berproses bersama dan membuat target berbeda setiap hari membuatnya menilai keberhasilannya meraih emas di nomor individu hanya bisa dimungkinkan lantaran ia berada di Tim Sumut. ”Belum tentu saya bisa main bagus dan mendapatkan emas jika berada di tim yang lain,” tegasnya.

Dari sisi teknis, kerja kerasnya selama tiga bulan terakhir turut diterjemahkan ke dalam kualitas pukulan yang sangat solid. ”Everything happens for a reason (Segala sesuatu terjadi dengan alasan tertentu),” tuturnya. Pukulan yang akurat sampai ke fairway serta putting yang solid jelas menjadi impian semua pegolf. Tidak mengherankan kalau ia mengaku puas melihat kerja kerasnya selama berbulan-bulan terbayarkan. Kualitas pukulan prima itu juga membantunya lebih percaya diri.

Akan tetapi, bermain di nomor foursome jelas sangat berbeda daripada nomor individu. Inilah elemen kompetisi yang turut menjadikan PON menjadi sangat unik dibandingkan turnamen golf pada umumnya. Ada tekanan yang lebih tinggi. Tanggung jawab juga lebih besar karena pukulan yang dilakukan bukan hanya untuk diri sendiri.

Beban besar itulah yang membuatnya akhirnya terpaksa melakukan pukulan yang tidak sesuai harapan dan rencana. Berpasangan dengan Savana Nazwa Putri Waloejo, Ocha akhirnya hanya bisa melihat tim lain naik podium. Dalam nomor yang hanya dimainkan dua putaran itu, Ocha dan Nazwa hanya bisa bermain dengan skor total 12-over 156, enam stroke di belakang pasangan Bali Meva Helina Schmit dan Putu Mayvil Widya Handayani, yang keluar sebagai juara.

 

Rayhan-Ichsan-Ocha, Hari ke-7 PON XXI Aceh-Sumut.
(Ki-ka) Rayhan Abdul Latief, Ichsan H. Batubara, dan Viera Permata Rosada tersenyum dengan medali emas mixed-foursome. Foto: Dede Indra Susanto.

 

Bahkan ketika berduet dengan Rayhan Abdul Latief dalam nomor mixed-foursome, meskipun rekannya itu beberapa kali menyisakan jarak satu meter dari pin, Ocha gagal memaksimalkan peluang. Padahal dalam nomor individu, ia tidak pernah gagal memasukkan putt dari jarak tersebut.

Akan tetapi, bermain bersama rekan yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri, akhirnya bisa membuatnya tampil lebih tenang. Kedekatan mereka membuat Ocha berhasil tampil lebih tenang untuk kemudian mempersembahkan emas keduanya bagi Sumut. Setelah pada putaran pertama keduanya hanya bisa bermain 1-under 71, mereka berhasil menorehkan skor terendah di nomor campuran ini dengan 3-under 69, berkat empat birdie dan satu bogey.

Kini pegolf berusia 23 tahun ini sudah mencontreng PON dari daftar kompetisi yang telah ia lakoni. Ketika sebagian pegolf memutuskan beralih profesional, Ocha memilih untuk menunda langkah tersebut. Bukan lantaran ia tidak bercita-cita menjadi pegolf profesional, dan mengikuti jejak sejumlah seniornya yang berkarier di sejumlah Tour. Ia ingin berfokus memaksimalkan performanya bersama Benita. Ia merasa pola latihan yang diterapkan, serta dukungan dari Ichsan, bisa membantunya untuk naik level.

”Saya belum bisa memastikan kapan akan menjadi profesional, yang jelas kalau semuanya sudah sesuai dengan rencana, saya akan langsung menjadi profesional,” tutur pegolf yang juga tengah bersiap menempuh studi magister ini.

”(Untuk saat ini), saya ingin menikmati momen ini, menyerap semuanya, fokus pada proses, dan menciptakan kenangan-kenangan yang abadi dengan orang-orang yang saya sayangi,” tuturnya.

Jelas proses yang ia lakoni selama persiapan hingga PON resmi ditutup pada 20 September 2024 lalu memberinya begitu banyak kenangan indah, yang membuatnya sangat bersyukur menikmati semua pengalaman yang telah terjadi.