Dari memenangkan medali emas Asian Games, bintang Yuka Saso kembali bersinar terang usai menorehkan sejarah dengan menjuarai U.S. Women’s Open.

”Saya ingin menjadi pegolf No.1 Dunia, bermain pada LPGA, dan bisa memenangkan medali emas Olimpiade menjadi impian saya juga,” Yuka Saso suatu kali berujar.

Salah satu impiannya itu kini tercapai tatkala ia berhasil memenangkan U.S. Women’s Open ke-76 hari Minggu (6/6) kemarin. Kemenangan fenomenal dalam usia yang baru 19 tahun, 11 bulan, dan 17 hari—persis sebaya Park Inbee tatkala menjadi pegolf termuda yang menjuarai U.S. Women’s Open—memastikan Saso berhak menjadi anggota LPGA untuk lima tahun ke depan.

Kepastian tersebut sulit ia percaya. Mungkin ia mengingat bagaimana privilese serupa tidak otomatis diperoleh Sophia Popov, tatkala pegolf Jerman ini memenangkan AIG Women’s Open 2019. Atau mungkin karena ia juga tidak mengira kemenangan Major otomatis memberinya keanggotaan pada LPGA.

Impiannya bermain di sirkuit golf wanita terkemuka itu memang sempat kandas tatkala ia gagal menembus LPGA Q-Series 2019. Namun, ia berhasil meraih keanggotaan pada Japan LPGA Tour di mana ia berhasil finis T5 dalam debutnya, dan kemudian mengemas dua kemenangan. Dan dari 20 turnamen yang ia mainkan sejauh ini, ia juga tujuh kali finis di sepuluh besar, termasuk dua kali di tiga besar dan sekali di lima besar.

Saso memang terasa berada di bawah bayang-bayang rekan senegaranya, Bianca Pagdanganan, yang menjadi salah satu pemukul jauh di panggung LPGA. Toh sepak terjang Saso di Jepang tidak luput dari pantauan para pengamat dan penggemar yang menantikan kehadirannya di panggung-panggung besar. Dan prestasinya sejauh ini membuatnya masih menyandang status No.1 di Filipina.

 

 

Fenomenal Sejak Amatir
Tidaklah mengherankan jika banyak yang berharap bintangnya akan kembali bersinar terang, mengingat rangkaian prestasi yang telah ia torehkan semasa amatir. Para penggemar golf di Indonesia menyaksikan langsung bagaimana Saso mengantarkan negaranya meraih medali emas individu dan beregu pada Asian Games 2018. Itulah prestasi emas pertama pada cabang olahraga golf bagi Filipina.

”(Prestasi) itu sangat besar. Saya tidak mengira pencapaian ini menjadi berita besar di Filipina, sungguh sulit untuk saya cerna. Mungkin saya baru bisa menerimanya setelah seminggu,” ujarnya mengenai pencapaiannya kala itu.

”Mengikuti Asian Games itu seperti mengikuti Olimpiade mini. Ajang itu merupakan turnamen yang sangat besar dan ada begitu banyak pegolf berperingkat tinggi sehingga tekanannya terasa berbeda.

Pada tahun ketika ia akhirnya memutuskan beralih profesional, Saso sempat menjuarai Philippine Ladies Open dan Girl’s Junior PGA Championship pada tahun 2019.

Major Pertama
Saso melakoni debutnya pada U.S. Women’s Open sebagai pegolf amatir pada tahun 2019, setelah ia menembus kualifikasi di Druid Hills Golf Club, Atlanta. Kala itu ia harus puas bermain dua putaran dan pulang lebih awal.

Namun, setahun kemudian ia kembali dengan status profesional dan mencatatkan hasil yang membanggakan. Ia finis T13, 8 stroke di belakang Kim A-lim yang kala itu menciptakan kejutan. Dan jelas Saso tidak bakal mengira kalau dirinyalah yang akan menciptakan kejutan tatkala ia kembali mengikuti ajang Major ini setahun kemudian.

 

Kemenangan pada nomor individu Asian Games 2018 ikut melambungkan nama Yuka Saso. Foto: GolfinStyle.

 

Saso memulai putaran final di The Olympic Club itu dengan tertinggal dua stroke dari pimpinan klasemen Lexi Thompson. Situasinya juga menjadi lebih berat baginya tatkala ia berturut-turut menorehkan double bogey di hole 2 dan 3.

”Setelah dua double bogey itu kedi saya memberi tahu kalau masih banyak hole yang harus dimainkan, jadi saya harus tetap tenang,” ujarnya.

Entah karena masukan dari kedinya, entah karena ia mendapatkan dukungan langsung dari idolanya, Rory McIlroy, persis itulah yang ia lakukan. Tatkala Thompson kehilangan fokusnya, Saso berhasil mempertahankan permainannya. Dua birdie di hole 16 dan 17—ia mencatatkan tiga birdie, satu bogey, dan dua double bogey pada putaran final itu—menciptakan jembatan untuk menciptakan sejarah.

Skor total 4-under 280 yang ia bukukan membawanya ke babak play-off dengan Nasa Hataoka. Dan setelah keduanya sama-sama membukukan par di dua hole play-off, Saso mencatatkan birdie di hole ketiga mereka untuk memastikan Major pertama yang diraih oleh seorang pegolf berkewarganegaraan Filipina.

Bagaimana ia mewujudkannya? Statistik menunjukkan ia menjadi pegolf terbaik kedua, setelah Hataoka, untuk urusan putt per green in regulation (1,66). Dari 16 kesempatan ketika ia berhasil mengantarkan bola pada jarak 1,5-3 meter, Saso berhasil memasukkan 13 kali, yang merupakan persentase tertinggi dari seluruh peserta. Selain itu, ia juga menjadi Juara U.S. Women’s Open kedua, setelah Kim Alim pada tahun lalu, yang memukul bola ke fairway di bawah 60% sepanjang 20 tahun sejarah kejuaraan ini.

Lalu dua double bogey yang ia torehkan pada putaran final itu menjadikannya sebagai satu-satunya juara yang membukukan lebih dari satu double bogey atau lebih buruk pada putara final, sepanjang 40 tahun ajang ini.

 

 

”Rasanya luar biasa dan saya sangat bersyukur kepada semua orang yang telah mendukung saya,” ujar Saso, yang segera mendapat pujian dari McIlroy melalui akun twitter-nya.

”Saya tak tahu apa yang (bakal) terjadi di Filipina saat ini, tapi saya bersyukur karena begitu banyak orang di Filipina yang mendukung saya. Entah bagaimana saya bisa berterima kasih kepada mereka. Mereka memberi begitu banyak energi buat saya.”

Serangkaian Privilese
Kemenangan ini memberinya Medali Mickey Wright dan hak untuk menyimpan trofi Harto S. Semple selama setahun. Ia juga berhak mengikuti sepuluh U.S. Women’s Open ke depan, sekaligus mengikuti lima edisi keempat ajang Major lainnya, plus cek senilai US$1 juta.

Lalu akankah ia segera menjadi wajah reguler pada LPGA?

”Saya baru saja mendengar mengenai hal ini. Saya akan membahasnya dengan ayah dan keluarga saya, dan setelah itu barulah kami memutuskannya,” ujarnya.

Dengan kemenangan Saso, dua ajang Major pertama pada tahun ini menjadi milik para pegolf Asia Tenggara. Sebelumnya, Patty Tavatanakit memenangkan Major pertama pada ajang ANA Inspiration.