Celine Boutier memperbesar peluangnya memenangkan gelar Major pertama dalam tujuh tahun karier profesionalnya.
Tinggal dalam jarak 15-20 menit dari Evian-les-Bains menjadi privilese tersendiri bagi pegolf Perancis Celine Boutier. Kenyamanan rumah bersama keluarganya menjadi salah satu faktor yang penting untuk membuatnya merasa rileks ketika mengikuti ajang Major keempat tahun ini, The Amundi Evian Championship.
Bermain di negeri sendiri juga berarti ia bisa menikmati lebih banyak dukungan dari para penggemar di Perancis, yang jelas mentransfer energi positif untuk membantunya tampil solid.
”Benar-benar luar biasa bisa melihat dan mendengar dukungan dari para penggemar. Rasanya turnamen ini menjadi sangat saya nikmati,” ujar Boutier memuji para penggemar yang meramaikan putaran ketiga tadi.
Dalam kondisi cuaca yang kembali menghadirkan tantangan, pemegang tiga gelar LPGA ini kembali menuai hasil meyakinkan dalam upayanya memenangkan gelar Major pertamanya. Lima birdie dengan satu bogey mengukuhkan posisinya di puncak klasemen dengan 18 hole tersisa.
Meski mencatatkan empat birdie di sembilan hole pertamanya, Boutier mengaku permainannya di hole-hole awal tidaklah ideal. ”Sejujurnya, saya merasa tidak mengawali permainan dengan baik. Pukulan saya meleset di tiga green pertama, tapi masih bisa mendapatkan break yang bagus di hole 2 dan bisa melakukan chip-in,” tuturnya.
”Kemudian saya punya peluang yang benar-benar bagus di dua hole par 5, hole 7 dan 9, dan bisa memanfaatkan peluang di sana. Rasanya saya hanya berusha untuk terus fokus melakukan pukulan yang bagus, dan jika punya peluang birdie, putting saya juga solid.”
Putting-nya memang benar-benar solid. Pada putaran ketiga tadi, Boutier hanya membutuhkan 27 putt, terendah dari tiga putaran yang ia jalani, untuk mencatatkan skor 4-under 67. Meski di sembilan hole terakhirnya ia mesti berjibaku, termasuk akhirnya mencatatkan satu-satunya bogey dari hole 12, Boutier masih bisa merasa puas dengan penampilannya hari ini.
”Sangat puas dengan putaran saya. Saya merasa benar-benar berjuang keras. Rasanya saya meleset melakukan beberapa pukulan pada awal sembilan hole terakhir, tapi masih bisa berjibaku, dan rasanya hasil yang saya capai cukup positif dan memberi putaran yang solid buat saya,” ujarnya.
Mantan pegolf amatir No.1 Dunia ini jelas menantikan prestasi besar ketika ia beralih profesional tahun 2016 lalu. Meski memenangkan gelar profesionalnya di kancah Ladies European Tour setahun setelah beralih status, Boutier harus menunggu tiga tahun untuk akhirnya mewujudkan gelar LPGA pertamanya lewat ajang ISPS Handa Vic Open.

Bulan Maret 2023 lalu ia berhasil memenangkan gelar LPGA dengan mengalahkan sesama pegolf Eropa, Georgia Hall dari Inggris dalam babak play-off ajang LPGA Drive On Championship. Selain kemenangan tersebut, Boutier mencatatkan finis di lima besar dalam tiga turnamen lainnya termasuk ketika ia finis T3 pada ajang Dow Great Lakes Bay Invitational dua pekan lalu.
Dengan peluang memenangkan gelar Major yang sedemikian dekat, Boutier akan menerjemahkan rasa percaya diri yang tengah berlimpah ini ke putaran final besok.
”Rasanya dalam tiga putaran terakhir sudah ada tiga kondisi cuaca yang berbeda, dan fakta bahwa saya bisa mempertahankan permainan yang solid dalam tiga hari terakhir menjadi sesuatu yang sangat positif. Besok saya hanya akan berusaha untuk tetap fokus melakukan hal tersebut,” tegasnya.
Dengan skor total 11-under 202, Boutier untuk sementara unggul tiga stroke dari pegolf Jepang Nasa Hataoka, yang juga tengah mengincar gelar Major pertamanya. Tahun ini Hataoka sempat berpeluang mewujudkan Major tersebut lewat ajang U.S. Women’s Open, meski akhirnya harus puas finis di posisi T4. Dan sekali lagi ia berada di posisi yang cukup ideal untuk mengikuti jejak Hideki Matsuyama, yang sukses menjuarai Masters Tournament 2021.
Permainan Hataoka di sembilan hole pertama seakan bakal membuatnya berhasil menggeser Boutier dari puncak klasemen. Setelah mendapat birdie di hole 1 dan bogey di hole 3, ia memainkan enam hole berikutnya dengan 5-under, termasuk empat birdie secara beruntun dari hole 4. Sayangnya, momentumnya terhenti di sembilan hole terakhir, di mana ia justru tersandung oleh bogey di hole 14 dan 16, yang memberinya skor 68.

”Pukulan iron dan kontrol jarak pukul saya bagus. Kemudian saya juga melakukan putting dengan baik, jadi rasanya sangat nyaman,” ujar Hataoka menyinggung empat birdie dari hole 4 itu. ”Pukulan iron saya sebenarnya masih agak kurang tajam, tapi lapangan golf di Evian ini terkadang memberi peluang birdie, jadi pukulan seperti itu masih bagus.
”Saya masih tertinggal tiga stroke, tapi besok hari yang baru dan saya ingin menikmati 18 hole berikutnya.”
Sementara itu, juara bertahan Brooke Henderson mulai meramaikan persaingan setelah bermain dengan skor 67. Pegolf Kanada ini kini memiliki skor total 206 dan berbagi posisi dengan juara edisi 2021 asal Australia Minjee Lee (66).
Seperti halnya Hataoka, kartu skor Henderson juga dihias oleh empat birdie secara berturut-turut dari hole 6, setelah sebelumnya ia menuai dua birdie di dua hole pertamanya. Double bogey di hole 12 dan bogey di hole 14 tidak hanya menciptakan noda dalam permainannya, tapi juga membuatnya gagal menempel Boutier. Beruntung birdie ketujuh dari hole 15 memberinya kesempatan untuk menjadi pegolf pertama setelah Laura Davies (1995, 1996) yang berhasil mempertahankan gelarnya pada ajang ini.
”Kalau bisa melakukan permainan awal seperti hari ini pasti akan sangat bagus. Jadi, saya akan berusaha melakukan hal tersebut dan bermain dengan lebih meyakinkan di sembilan hole terakhir,” ujarnya.

