Jim McCabe melihat alasan mengapa generasi muda masa kini tak butuh waktu lama untuk sukses di panggung PGA TOUR.
Oleh Jim McCabe.
Golf jarang dibicarakan sebagai olahraga dengan kecepatan yang tinggi. Kecuali intensitas kecepatan dalam cara para pemain elite masa kini mengayunkan club mereka.
Faktanya, olahraga ini selalu bersifat metodik. Kesabaran seringkali diutamakan. Selama beberapa dasawarsa, resep suksesnya selalu begini: manfaatkan waktumu, lakoni beberapa tahun dengan berat, berlatihlah tanpa kenal lelah, belajarlah dari para veteran berpengalaman, berlatih lebih banyak, dan mungkin jelang usia 30-an Anda akan siap menikmati masa-masa emas.
Akan tetapi, masa-masa ketika para pegolf muda menanti lama seperti itu sudah berlalu. Mau membuktikan diri, wahai kaum muda? Kalau permainanmu prima, PGA TOUR tidak segan mewujudkan harapan dan mengakomodasi ambisi tinggi yang didukung oleh kemampuan dan keyakinan diri yang berlimpah.
PGA TOUR telah mengadopsi filosofi ini karena, satu hal yang kami pelajari dalam beberapa tahun terakhir, anak-anak muda yang baru lulus kuliah tak lagi merasa takut bersaing.

PGA TOUR perdananya pada RSM Classic 2023 sebelum kemudian menjuarai Genesis Invitational 2025. Foto: Getty Images.
Begitulah pemikiran pegolf Kanada Adam Hadwin, yang telah mengoleksi dua gelar PGA TOUR. Ia mengungkapkan hal ini beberapa saat setelah melihat sesuatu yang tidak pernah disaksikan oleh PGA TOUR sejak 1991, di mana seorang amatir memenangkan sebuah turnamen. Peristiwanya terjadi pada The American Express, bulan Februari 2024.
Dengan penuh semangat dalam menyebut mahasiswa University of Alabama Nick Dunlap, Hadwin menjelaskan, ”Ini tahun ke-10 saya dan rasanya saya butuh beberapa tahun untuk bisa merasa nyaman berkompetisi di sini.” Namun, setelah menyaksikan Dunlap membukukan skor 64-65-60-70 untuk skor total 29-under dan menang satu stroke, pegolf veteran ini hanya bisa geleng-geleng kepala dan kagum.
”Kini, dengan PGA TOUR U dan para pemain yang mengikuti turnamen sebelum mendapat kartu PGA TOUR, mereka merasa nyaman dan tidak membutuhkan penyesuaian. Mereka langsung bersaing. Pukulan mereka sekarang cukup jauh juga. Namun, tentunya, punya bakat luar biasa dan, wah, sangat mengesankan.”
Meskipun penampilan Dunlap begitu bersejarah, prestasinya membuktikan bahwa para penentu kebijakan PGA TOUR mengambil keputusan yang tepat pada tahun 2022 ketika mereka meluncurkan inisiatif PGA TOUR U.
Huruf ”U” merupakan singkatan dari university, universitas. Jelang 2023 para penentu kebijakan itu yakin bahwa para pemain elit dari kampus punya modal untuk berhasil di panggung PGA TOUR. Jalur yang mereka ciptakan menjadi sistem di mana poin dikumpulkan oleh para pemain dalam dua tahun terakhir mereka di universitas. Dan pada akhir musim kompetisi kampus, pemain No.1 bisa mendapat kartu PGA TOUR.

memenangkan PGA TOUR Accelerated Progam. Foto: Getty Images.
Empat peringkat di bawahnya juga bisa mengikuti sejumlah turnamen PGA TOUR, termasuk mendapat status pada Korn Ferry Tour. Sejumlah hadiah juga dibagi hingga 25 pemain teratas dari daftar akhirnya.
Konsep yang bijaksana ya? Yah, dua juara pertama dari PGA TOUR U–Ludvig Aberg tahun 2023 dan Michael Thorbjornsen tahun 2024–telah mencatatkan sejumlah hasil mengesankan. Mereka menang 2x, 6x finis di tempat kedua, 24x masuk sepuluh besar, dan meraih hadiah uang yang besar dalam total 82 turnamen. Aberg, yang baru berusia 25 tahun, kini No.14 Dunia, sedangkan Thorbjornsen yang berusia 23 tahun kini No.111 Dunia.
David Ford, 22 tahun, No.1 PGA TOUR U 2025 bakal tampil pada FedExCup Musim Gugur dan sepanjang 2026. Namun, lensanya bisa dipertajam untuk fokus pada hal-hal yang dilakukan oleh para pemain muda ini untuk menciptakan reaksi setuju di lingkup PGA TOUR.
Pada bulan Juni 2022, Thorbjornsen, mahasiswa atlet Stanford University, membukukan skor 68-65-66-66 untuk finis T4 pada Travelers Championship, hanya empat stroke di belakang skor Xander Schauffele yang menjadi juara.

agar bisa tetap membela kampusnya, Auburn. Foto: Getty Images.
Tahun 2019 silam, Viktor Hovland dan Collin Morikawa beralih profesional dan tak makan waktu untuk membuktikan bahwa mereka layak berkiprah pada PGA TOUR. Morikawa meraih sejumlah finis di sepuluh besar untuk meraih kartunya. Hovland finis di 15 besar dalam empat dari lima turnamen yang ia ikuti, dan hanya dalam dua turnamen Korn Ferry Tour ia sudah mengantungi kartu PGA TOUR mulai musim 2020.
Lalu ada trio fenomenal lebih dari sepuluh tahu lalu, yang seakan menyiapkan hal serupa. Jordan Spieth menang hanya dalam turnamen ketujuhnya usai beralih pro tahun 2014. Setelah mendominasi Tour batu loncatan, Justin Thomas finis di peringkat 32 pada klasemen FedExCup 2015. Patrick Cantlay butuh 13 turnamen Korn Ferry Tour dan mengatasi cedera punggung untuk menembus TOUR Championship 2017, tahun penuh pertamanya pada PGA TOUR.
Dengan semua indikator ini, para eksekutif PGA TOUR meyakini sumber bakat yang kaya sudah tersedia dalam usia sangat muda. Dan golf, seperti halnya NBA, NHL, dan MLB, menjadi olahraga yang menyambut para pemain dalam usia remaja dan awal 20 yang memetik hasil dari ledakan generasi muda ini.
Di balik program PGA TOUR U itu, ada yang disebut PGA TOUR Accelerated Program yang telah diterapkan dan mantan mahasiswa Vanderbilt Gordon Sargent menjadi pegolf pertama yang memenangkannya. Ia mengumpulkan poin PGA TOUR U dengan sangat cepat sehingga bahkan ketika melakoni tahun terakhirnya bersama Vanderbilt musim 2024-2025, ia tahu bahwa ia sudah meraih kartu PGA TOUR untuk musim 2026. Usianya baru 22 tahun.

pada PGA TOUR U musim 2025. Foto: Getty Images.
Meski tidak semulus Dunlap, pegolf muda lainnya, Luke Clanton, melejit ke PGA TOUR pada Juni 2024 ketika mahasiswa baru pada Florida State ini dua kali berturut-turut finis di sepuluh besar. Belum pernah ada pemain amatir yang melakukan hal serupa pada PGA TOUR sejak 1958. Dalam usia baru 21 tahun, ia sudah meraih kartu PGA TOUR lewat jalur Accelerated itu.
Lalu ada juga Jackson Koivun. Seperti halnya Sargent dan Clanton, ia meraih target 20 poin untuk mendapat kartu PGA TOUR lewat Accelerated Programme, walaupun pegolf berusia 20 tahun ini memilih menunda setahun agar bisa tetap bertanding untuk kampusnya, Auburn.
Setelah mereka, masih ada lagi. Pertimbangkan melejitnya nama Chris Gotterup, 26 tahun, mantan mahasiswa yang menonjol di Rutgers dan University of Oklahoma. Dalam hanya 66 turnamen, dia sudah dua kali menjuarai ajang PGA TOUR, salah satunya dengan dua stroke atas Rory McIlroy lewat Genesis Scottish Open musim panas 2025 ini. Sepekan kemudian ia finis di tempat ketiga pada The Open Championship.
Ketika mempertimbangkan trio dinamis yang menonjol di panggung PGA TOUR, yang dikembangkan melalui sistem universitas yang sama–Scottie Scheffler, 29 tahun; Sam Burns, 29 tahun; Cameron Young, 28 tahun–semuanya berusia di bawah 30 tahun, tentulah Anda bisa memandang bagaimana sukses mereka telah membuka jalan yang menginspirasi anak-anak muda di belakang mereka.
Jelas, usia muda dan bakat menjadi racikan yang luar biasa untuk melengkapi fondasi yang sudah sepenuhnya solid.


