Dari sekadar meramaikan kejuaraan, Suharsono sukses mencatatkan sejarah sebagai juara kelompok pria pada edisi perdana Olympic Jabar Amateur Open.

Meski berstatus Club Champion, bukan berarti peluang untuk memenangkan sebuah kejuaraan berskala nasional menjadi hal yang mudah. Suharsono menyadari hal itu ketika ia akhirnya mendapatkan slot untuk mengikuti gelaran Olympic Jabar Amateur Open (OJAO) yang pertama kali diadakan pada tahun 2015 silam.

Sebagai member di Emeralda Golf Club, pegolf yang akrab disapa Cing-cing ini sudah tiga kali menyandang gelar Club Champion. Pemahamannya soal lapangan garapan Jack Nicklaus dan Arnold Palmer tersebut tidak perlu diragukan. Toh ia tidak pernah mengira bakal mencatatkan Namanya sebagai pemenang ajang yang digelar oleh perkumpulan golf Olympic Golf Club dan PGI Pengprov Jawa Barat itu.

”Sebenarnya, waktu itu ada teman, anak muda, yang berminat ikut lantaran dia belum pernah mengikuti turnamen prestasi. Dan kalau masih ada slot, saya juga mau ikut main sekalian menemani,” tutur Suharsono, yang kala itu sudah masuk usia senior, 50 tahun.

”Pukulan pertama saya langsung OB ke kiri lapangan karena memang tidak sempat pemanasan lagi lantaran saya sudah terlambat.”

Panitia sempat mengingatkannya kalau turnamen ini menuntut seluruh peserta bermain dengan berjalan kaki sepanjang 54 hole. ”Ya, saya ’kan cuma menemani saja, bukan mau juara. Kalau tidak kuat, saya tinggal mundur,” sambungnya lagi.

Akan tetapi, tantangan masih terus berlanjut baginya. Tanpa sempat mengetahui waktu tee putaran pertamanya, Suharsono sudah telanjur memiliki janji bisnis. Berhubung waktu tee sudah telanjur diumumkan, ia terpaksa mengatur janji bisnisnya lebih pagi dan akhirnya memulai putaran pertamanya tanpa pemanasan sama sekali.

”Saya terpaksa ganti baju dan sepatu di toilet driving range dan bergegas ke tee pertama. Pukulan pertama saya langsung OB ke kiri lapangan karena memang tidak sempat pemanasan lagi lantaran saya sudah terlambat,” kenangnya.

Toh ia lekas menemukan irama permainannya dan menutup putaran pertama dengan skor even par 72. Meski pada putaran berikutnya ia bermain dengan 5-over 77, ia kembali bermain even par 72 pada putaran final dan malah memaksakan play-off dengan Almay Rayhan Yagutah (71-73-77) yang sama-sama mengumpulkan skor total 221.

”Saya masih ingat, play-off pertama itu dilakukan di hole 1 Lake Course. Bola saya tertinggal jauh di belakang Almay. (Tapi karena itu) saya bisa melakukan pukulan kedua lebih dulu, dan langsung masuk ke green. Saya ingat, waktu itu posisi pin ada di kanan depan, dan bola saya melewati pin. Almay juga berhasil mencapai green,” tutur pegolf yang kini mengemban amanat sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia ini.

 

Suharsono, Sekretaris Jenderal PB PGI.
Suharsono, kini menjabat Sekretaris Jenderal PB PGI, berharap OJAO bisa terus bergulir dan berkembang sebagai salah satu barometer prestasi golf nasional. Foto: PB PGI.

 

”Waktu itu banyak yang bilang posisi bola saya lebih sulit, tapi karena saya sudah hapal lapangannya saya cukup mengantarkan bola mendekati lubang untuk mendapat par.”

Almay masih memperpanjang napasnya dengan mencatatkan par di hole yang sama sehingga keduanya berpindah ke hole 9 Lake Course, yang berada di seberang hole 1.

Sekali lagi, pukulan driver Suharsono tertinggal jauh dari Almay, yang hanya memainkan 3-wood. Sekali lagi, Suharsono sukses mencapai green, meskipun bolanya lagi-lagi berhenti di atas pin. Petaka bagi Almay, pukulan keduanya justru masuk ke bunker. Upayanya untuk mengantarkan bola mendekati lubang gagal dan ia harus melakukan dua pukulan lagi untuk bogey. Par bagi Suharsono di hole tersebut praktis memberinya kemenangan yang tidak pernah ia bayangkan.

”Sejak hari pertama, tujuan saya memang hanya ingin bermain, menemani anak muda yang mau ikutan. Memang prinsip saya selalu berusaha bermain sebaik mungkin,” tutur Suharsono lagi.

”Waktu play-off dengan Almay itu juga saya tidak  mengira punya peluang menang karena dia atlet nasional. Saya juga sekadar bermain aman saja, tapi yang saya dengar Almar malah merasa grogi ketika play-off.”

”Saya tidak membayangkan kalau ajang ini akan konsisten, …. Semoga saja ajang ini bisa terus bergulir dan berkembang supaya menjadi semacam trademark ….”

Tidak ada yang membayangkan bahwa OJAO akhirnya menjadi sebuah salah satu ajang paling konsisten yang diselenggarakan oleh kolaborasi klub golf dan pengurus provinsi (pengprov). Meski kala itu diikuti oleh 14 pengprov, banyak peserta yang berangkat sebagai perwakilan klub atau lapangan golf.

”OJAO ini mirip dengan Liga Golf Jakarta yang saya adakan di DKI. Semula memang kami-kami yang amatir inilah yang mendukung turnamen sebagai peserta, tapi kemudian berkembang sehingga lama-lama banyak atlet yang ikut, pengprov mulai mengirimkan atlet-atlet mereka yang bagus,” sambung Suharsono.

”Saya tidak membayangkan kalau ajang ini akan konsisten, tapi sejak awal saya melihat ini ajang yang bagus. Sekarang banyak atlet berkualitas yang mengikuti pertandingan ini. Semoga saja ajang ini bisa terus bergulir dan berkembang supaya menjadi semacam trademark dan menjadi target bagi para atlet muda untuk bisa mengikuti ajang yang bergengsi ini.”

Pekan ini, sebanyak 114 peserta telah memulai persaingan di West Course, di Gunung Geulis untuk mencatatkan nama mereka sebagai pemenang berikutnya dari ajang ini. Mereka mewakili 8 pengurus kabupaten, 3 pengurus kota, 13 pengurus provinsi, serta 14 perkumpulan dan akademi golf.

Perkembangan skor di lapangan bisa diikuti melalui halaman berikut ini.