BNI Ciputra Golfpreneur Tournament segera hadir untuk kesembilan kalinya sejak pertama kali digelar 2014. Mengapa ajang ini tetap menjadi turnamen skala Asian Development Tour?
Oleh Raka S. Kurnia, GolfinStyle.
Dari lapangan golf ke turnamen junior hingga turnamen profesional. Dari akhir 1970-an hingga milenium ketiga, pengaruh sosok Almarhum DR. (HC) Ir. Ciputra rasanya memang akan terus terpancar. Sebagai salah satu pionir golf di Indonesia, tokoh golfpreneur ini menjadi menciptakan spirit yang cukup langka, yang ikut menjadi kunci pengembangan industri golf di Tanah Air.
Gelaran Ciputra Golfpreneur Tournament (CGT) yang perdana pada tahun 2014 turut menjadi jangkar penting dalam perkembangan golf, tidak hanya di Indonesia, tapi juga regional Asia Tenggara. Ajang yang, di antaranya, menjadi tanda syukur ulang tahun Sang Golfpreneur tersebut, telah menjadi salah satu panggung penting bagi calon bintang regional masa depan.
Komitmen dan konsistensi menjadi dua kata kunci yang kerap berjalan seiring. Itu pula yang bisa terlihat ketika, melalui jumpa pers pada 30 Juli 2024 lalu pihak Ciputra Group (dan Ciputra Golfpreneur Foundation) bersama BNI mengumumkan kembalinya BNI Ciputra Golfpreneur Tournament (BNI CGT) ke jadwal kompetisi Asian Development Tour (ADT) tahun ini. Damai Indah Golf BSD Course akan kembali menjadi medan ujian pada 21-24 Agustus 2024.

Dengan hadiah uang yang kini menjadi US$140 ribu atau US$15 ribu lebih banyak daripada tahun 2023, turnamen ini menjadi salah satu turnamen favorit bagi para pegolf regional. Pasalnya, jumlah hadiah tersebut menjadikan turnamen ini sebagai salah satu turnamen dengan hadiah terbesar. Artinya, turnamen seperti ini menjadi incaran banyak pegolf untuk mendongkrak peringkat mereka pada Order of Merit, di mana sepuluh pegolf teratas pada akhir musim kompetisi berhak naik kelas ke Asian Tour.
Miguel Angel Carballo asal Argentina telah merasakan dampak kemenangannya di Damai Indah Golf BSD Course pada tahun 2018. Pegolf Thailand Suteepat Prateeptienchai (2022) sukses promosi ke sirkuit Asian Tour. Dan terakhir Yuvraj Singh Sandhu dari India berhasil mendapat kartu Asian Tour, di antaranya, berkat kemenangannya pada turnamen ini.
Kehadiran BNI CGT tahun ini juga turut menjadi pembuka dari kompetisi internasional di level profesional di negeri ini. Beberapa hari kemudian, Indonesia Open akan membawa perhatian ke wilayah utara Jakarta. Sementara The Indonesia Pro-Am baru akan digelar bulan September, dengan Indonesian Masters kembali digelar bulan Oktober.
Konsisten di Level ADT
Penyelenggaraan pada pekan ketiga Agustus nanti menjadikan BNI Ciputra Golfpreneur Tournament sebagai turnamen dengan rentang penyelenggaraan terpanjang, baik di skala ADT maupun di Indonesia. Sejak ADT diluncurkan pada tahun 2010, hanya Taifong Open saja yang paling sering diselenggarakan, yaitu tujuh kali pada periode 2014-2019 dan 2022. Kini turnamen tersebut telah masuk kalender Asian Tour.
Pertanyaannya, mengapa mempertahankan sebuah turnamen jika turnamen lain sudah naik kelas? Bukankah peningkatan level kompetisi juga akan berdampak positif bagi para pegolf tuan rumah?

Tahun 2023 lalu saya mengobrol dengan Managing Director Ciputra Group, yang sekaligus salah satu Pendiri CGF, Budiarsa Sastrawinata. Kala itu saya sempat bertanya, ”Mengapa tidak menaikkan level turnamen ini?” Kala itu beliau berujar, ”Level kita belum sepenuhnya sampai di sana (Asian Tour). Jadi, biarlah kita di ADT dulu.”
Hal serupa diungkapkan pula oleh Nararya Ciputra Sastrawinata lewat jumpa pers pada akhir Juli itu. Nararya, yang juga merupakan putra dari Budiarsa, mengungkapkan statistik yang sulit ditolak. Sejak 2014, belum pernah ada pegolf Indonesia yang menjuarai turnamen ini. Malah setelah William Sjaichudin pada 2014, belum pernah ada yang finis lebih baik daripada pegolf yang kini tak lagi berkarier pada golf profesional itu. Dan dalam rentang waktu delapan tahun terakhir, Indonesia hanya memiliki George Gandranata, Naraajie Emerald Ramadhan Putra, dan Kevin Caesario Akbar sebagai wakil Indonesia yang tampil sebagai Juara ADT.
Tidak mengherankan jika pihak penyelenggara sangat menantikan juara dari negeri sendiri. Terutama mereka yang selama beberapa tahun terakhir bernaung di bawah CGF. Tahun ini kuartet profesional CGF—Kevin, Fadhli Soetarso, Peter Gunawan, dan Joshua Andrew Wirawan—diharapkan bisa bersinar. Selain itu, dari lini amatir ada Juara Ciputra Golfpreneur Junior World Championship Rayhan Abdul Latif, Jonathan Xavier Hartono, dan Alfred Raja Sitohang yang akan ikut mewakili CGF.
Jika para pegolf junior/amatir ini telah menikmati berbagai kompetisi dengan level yang tinggi, tidak demikian halnya dengan senior-senior profesional mereka. Dengan kompetisi lokal yang menurun drastis dibandingkan tahun 2023—hingga jumpa pers baru ada tiga turnamen lokal yang digelar—para pegolf profesional Indonesia harus bekerja ekstra keras untuk mempersiapkan permainan mereka.
”Memang kompetisi tahun ini tidak sebanyak tahun lalu. Akan tetapi, anggota kami adalah para pegolf profesional. Mereka tentu tahu harus melakukan apa supaya bisa siap menghadapi persaingan pada ajang ini,” jelas Agus Triyono, Ketua PGA Tour of Indonesia.

Menanti Calon Bintang Regional
Sepanjang sejarah turnamen ini, hanya ada dua pegolf yang paling menonjol yang meraih sukses hingga ke level yang lebih tinggi lagi. Setahun setelah memenangkan ajang ini melalui partai play-off yang epik hingga tujuh hole, Carballo menjuarai Indonesia Open 2019.
Lalu setahun setelah Carballo, remaja 17 tahun asal Korea Kim Joohyung tampil digdaya dengan menaklukkan pegolf veteran Singapura Mardan Mamat lewat hole tambahan. Bagi Kim, kemenangan di BSD Course itu memberinya gelar ADT kedua dalam kariernya. Dua bulan kemudian ia meraih gelar ADT ketiganya, dan pada bulan November ia menjuarai gelar Asian Tour pertamanya lewat ajang Panasonic Open India.
Kim jelas menjadi alumni Ciputra Golfpreneur Tournament yang paling sukses. Setelah menjuarai Singapore International pada awal 2022, ia mengamankan statusnya di sirkuit PGA TOUR dengan menjuarai Wyndham Championship dan Shriners Children’s Open (turnamen yang gelarnya sukses ia pertahankan pada 2023).
Pegolf yang kini lebih dikenal dengan nama Tom Kim ini jelas menjadi teladan penting, tidak hanya bagi pegolf Indonesia, tapi juga para pegolf regional. Dan tidak mengherankan juga jika pihak penyelenggara, secara khusus, mengharapkan atlet-atlet CGF bisa mengikuti langkah tersebut.
Bagaimanapun juga, sebagai turnamen level ADT, ajang seperti ini memiliki peranan yang sangat vital bagi Indonesia. Ketua Asian Tour Jimmy Masrin menegaskan hal ini juga lewat jumpa pers kala itu. Dengan kuota hingga 40 pegolf profesional, ditambah 13 pemain undangan, ajang ADT memberi kesempatan lebih luas bagi para pegolf Indonesia daripada di level Asian Tour.
Tinggal bagaimana para pegolf Indonesia—dan CGF—menyikapinya saja. Yang jelas, dukungan masyarakat golf Indonesia akan sangat bernilai. Pihak penyelenggara juga telah menyiapkan sejumlah aktivitas dan hadiah bagi para penonton sepanjang pekan turnamen ini.


