Marty Dou Zecheng siap menjawab tantangan dalam debutnya pada Olimpiade Paris bulan Agustus 2024 mendatang.
Marty Dou Zecheng punya kenangan yang sangat jelas ketika pertama kali menyaksikan ajang Olimpiade di TV. Kenangan tersebut bakal menjadi modal baginya untuk mengejar medali pada kompetisi golf pria di Paris bulan Agustus 2024 mendatang.
Pegolf China berusia 27 tahun ini akan menjalani penampilan perdananya di panggung Olimpiade bersama teman baiknya, Carl Yuan. Meski sama-sama melakoni debut, mereka juga berniat untuk menciptakan kejutan ketika bersaing menghadapi bintang-bintang dunia, seperti pegolf No.1 Dunia Scottie Scheffler, peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 Xander Schauffele, dan pegolf No.3 Dunia Rory McIlroy.
Saat masih berusia 7 tahun, Dou turut merayakan kegembiraan negaranya tatkala Liu Xiang secara sensasional mempersembahkan medali emas pertama bagi China di cabang olahraga atletik. Prestasi tersebut tercipta pada Olimpiade Athena 2004 silam.
”Kenangan Olimpiade pertama saya ialah menyaksiakn Liu Xiang menjuarai palang rintang 110 meter,” kenang Dou. ”Saya sangat bersemangat dan berpikir bahwa semua juara Olimpiade itu sungguh keren dan menjadi anutan saya. Mereka menantang batasan-batasan tubuh manusia sembari mewakili negara mereka.”
”Saya belum pernah bermain di Le Golf National dan saya dengar lapangan itu cukup mirip dengan TPC Sawgrass dalam hal kesulitannya.”
Pegolf yang kini menduduki peringkat 365 di dunia ini membagi waktunya untuk berkompetisi di panggung Korn Ferry Tour dan PGA TOUR pada musim ini. Meski belum mewujudkan gelar pertamanya di sirkuit utama di Amerika, ia sadar bahwa Tim China membutuhkan upaya yang luar biasa besar untuk bisa menaiki podium ketika golf dipertandingkan pada tanggal 1-4 Agustus 2024 di Le Golf National.
Meskipun Liu menjadi inspirasinya, keberhasilan Rory Sabbatini yang membela Slovakia dan C.T. Pan asal China Taipei, yang masing-masing menjuarai medali perak dan perunggu pada Olimpiade Tokyo 2020 menjadi bukti bahwa menjuarai medali pada cabang olahraga golf bukanlah target jangka panjang. Sabbatini bertolak ke Tokyo sebagai pegolf peringkat 161 di dunia. Adapun Pan berperingkat 181.
”Hanya ada 60 pegolf pria yang akan bermain di panggung Olimpiade. Segala sesuatunya mungkin terjadi. Terlepas dari siapa pun yang ada di sana, Xander atau Scottie, saya pun masih punya peluang meraih medali,” tutur Dou. ”Olimpiade akan menjadi fokus saya setelah gagal masuk kualifikasi dalam dua penyelenggaraan terdahulu. Dalam dua kesempatan tersebut, saya berada di peringkat ketiga di antara para pegolf China.
”Saya belum pernah bermain di Le Golf National dan saya dengar lapangan itu cukup mirip dengan TPC Sawgrass dalam hal kesulitannya. Sekali-sekalinya saya bermain di Perancis ialah ketika mewakili China dalam turnamen junior. Pastinya saya akan memanfaatkan waktu untuk mempelajari lapangan golf itu dari hari Senin pada pekan turnamen.”

Ketika membagikan pandangan dan kesiapannya menuju Olimpiade ini, Dou baru saja melakoni delapan turnamen berturut-turut, baik di level Korn Ferry Tour maupun PGA TOUR. Penampilan terbaiknya dalam rentang delapan turnamen ini ialah sepuluh besar pada ajang Adventhealth Championship, yang masuk kalender Korn Ferry Tour, dengan hanya sekali gagal lolos cut.
Setelah finis di peringkat 132 pada klasemen akhir FedExCup musim 2022-2023 lalu, Dou kini memiliki akses yang terbatas untuk mengikuti kompetisi PGA TOUR. Ia pun mengakui kalau statusnya ini turut menyulitkannya memiliki jadwal kompetisi yang efektif. Pasalnya ia lebih sering masuk daftar antrian, dan harus melakukan perjalanan mendadak jika mendapat spot.
”Saya selalu menunggu kesempatan bermain pada PGA TOUR, dan juga perlu mengatur jadwal saya pada Korn Ferry Tour. Memang susah menyeimbangkan jadwal dan berfokus pada kedua Tour ini. Saya rasa hal ini ikut memengaruhi irama saya pada musim ini,” jelasnya.
”Ketika harus bertanding tiap pekan, saya tidak lagi punya waktu untuk berlatih dan melakukan penyesuaian. Terkadang saya meragukan diri sendiri terutama ketika melakukan pukulan buruk. Sejauh ini saya berusaha tidak membebani diri sendiri, dan berharap pukulan-pukulan yang bagus bisa saya lakukan.”
”Saya belum mematok target soal kapan harus kembali ke PGA TOUR. … Target saya ialah terus meningkatkan kemampuan.”
Setelah mendapat spot pada ajang John Deere Classic, yang merupakan ajang PGA TOUR, Dou berharap bisa menambah beberapa turnamen lagi ke dalam jadwalnya sebelum pulang ke China pada akhir Juli ini. Setelah itu, ia akan bertolak ke Paris bersama kontingen Olimpiade China.
Dou, yang juga merupakan pemain tenis meja yang mahir ini, berharap bisa menyaksikan sejumlah kompetisi sebelum bertanding di cabang olahraganya sendiri di Paris. ”Saya berniat menyaksikan badminton, ping pong, dan lari cepat 100 meter di cabang atletik. Ketika masih kecil saya bermain badminton, dan saya juga suka ping pong,” ujarnya.
Pegolf yang telah mengoleksi tiga gelar Korn Ferry Tour ini memang telah menikmati dua musim berlaga pada PGA TOUR. Meskipun tidak berhasil mempertahankan hak bermain penuh dalam dua musim yang ia lakoni, Dou tidak menargetkan bisa kembali ke strata golf teratas di dunia itu dalam waktu singkat.
”Saya belum mematok target soal kapan harus kembali ke PGA TOUR. Saya berniat untuk lebih bisa menikmati permainan golf dan lebih menikmati hidup saya. Target saya ialah terus meningkatkan kemampuan,” tegasnya.


