Im Sungjae dan Kim Siwoo berharap mengakhiri penantian panjang Asia untuk memenangkan WGC-Dell Technologies Match Play.
Sejak pertama kali ajang World Golf Championships-Dell Technologies Match Play digelar tahun 1999, belum pernah ada satu pegolf Asia pun yang berhasil mengangkat trofi pada salah satu kejuaraan bergengsi ini. Pencapaian terbaik wakil Asia hanyalah finis di tempat ketiga lewat Tory Taniguchi pada tahun 2001. Kala itu ia mengalahkan Ernie Els dalam perebutan tempat ketiga di Australia.
Dalam tahun-tahun terakhir, pegolf Jepang lainnya, Hideto Tanihara, finis di tempat keempat setelah menampilkan permainan mengagumkan tahun 2017 di Austin Country Club. Adapun wakil Asia lainnya, seperti K.J. Choi (2008), Y.E. Yang (2011), Thongchai Jaidee (2010), dan Kiradech Aphibarnrat (2018) hanya bisa melangkah sejauh perempat final.
Kini duo Korea Im Sungjae dan Kim Siwoo berharap bisa mempersembahkan kemenangan bagi Asia ketika keduanya kembali ke Austin Country Club pekan ini. Dan tak hanya berniat untuk menciptakan sejarah baru, keduanya juga ingin menampilkan permainan terbaiknya untuk memastikan tempat mereka dalam Tim Internasional untuk Presidents Cup, yang akan dimainkan di Quail Hollow, Charlotte di North Carolina bulan September 2022 ini.
Bagi Im, format match play ini bakal sangat pas untuk kualitas approach-nya. Ia sudah menjadi mesin birdie pada musim 2020-2021 lalu dengan menorehkan 498 birdie dalam semusim, yang menjadikannya pegolf dengan jumlah birdie terbanyak. Pekan ini ia akan menghadapi Juara FedExCup 2021 Patrick Cantlay, Keith Mitchell, dan Seamus Power dalam Grup 4.
”Ajang stroke play terasa seperti perlombaan jarak jauh, tapi match play serasa lari cepat 100m.” — Im Sungjae.
”Saya pikir saya bisa main bagus pekan ini dan menikmati turnamen ini,” ujar pemegang dua gelar PGA TOUR, yang saat ini berada di peringkat 8 klasemen FedExCup ini.
Dalam debutnya tahun lalu Im terpaksa pulang lebih awal setelah hanya mencatatkan satu kemenangan dan dua kali kalah. Meski demikian, ia memiliki modal yang berharga untuk format ini. Dalam debutnya pada Presidents Cup 2019, ia mengemas 3,5 poin untuk Tim Internasional di Royal Melbourne. Kala itu ia mengalahkan Cantlay dalam sesi Fourball dan kalah dalam sesi Foursome dari pegolf Amerika itu.
”Ajang stroke play terasa seperti perlombaan jarak jauh, tapi match play serasa lari cepat 100m. Kita bisa lebih agresif dan mengubah rencana permainan saat bertanding, terutama ketika lawan Anda melakukan kesalahan. Kita perlu fokus dan mengambil keputusan dengan cepat di tiap hole. Tekanannya juga besar,” ujar pegolf Korea yang kini ada di peringkat ketiga pada klasemen Tim Internasional.
”Saya melihat grupnya dan mendapati Cantlay, Power, dan Mitchell. Menurut saya bakal sangat menarik karena saya bisa bertanding menghadapi juara FedExCup. Saya berharap bisa mendapat hasil yang bagus dan melakukan yang terbaik untuk mengalahkan sang juara,” tandasnya.
”Saya sangat ingin kembali masuk Tim Internasional. … dan saya berharap bisa main bagus pekan ini dan kembali ke jalur menuju Presidents Cup.” — Kim Siwoo.
Sementara itu, rekan senegaranya, Im, yang sejauh ini telah mengoleksi tiga gelar PGA TOUR menyebut WGC-Dell Technologies Match Play ini memberinya kesempatan yang sempurna untuk memperbaiki peringkatnya pada klasemen Tim Internasional. Saat ini Kim berada di peringkat 14, dengan 8 pemain teratas akan otomatis menjadi anggota tim di bawah kepemimpinan Kapten Trevor Immelman. Empat pemain lainnya akan dipilih oleh sang kapten kemudian.
”Saya sangat ingin kembali masuk Tim Internasional. Ajang pada tahun 2017 (satu-satunya penampilan Kim pada Presidents Cup) itu sangat menyenangkan dan saya berharap bisa main bagus pekan ini dan kembali ke jalur menuju Presidents Cup. Anda menjumpai para pemain terbaik di dunia di sana,” ujarnya.
Bagi Kim, penampilannya pekan ini di Austin Country Club merupakan yang keempat kalinya. Prestasi terbaik ia torehkan tahun 2018 ketika ia berhasil melangkah ke babak keempat. Ia bersemangat karena bisa memainkan format match play, yang kerap memberi ganjaran bagi permainan agresif. Hari Rabu ini ia akan mengahdapi Daniel Berger untuk mengawali partai di Grup 13, sebelum kemudian menghadapi Tyrell Hatton dan Christian Bezuidenhout dalam dua hari berikutnya.
”Stroke play memberi lebih banyak tekanan karena Anda mesti terus fokus sepanjang putaran. Match play, justru berbeda karena di beberapa hole Anda bisa berhenti. Saya rasa format ini jadi tidak terlalu memberi tekanan. Saya pikir jauh lebih menyenangkan jika bisa agresif dan saya suka main agresif. Anda mesti sabar dalam partai yang Anda hadapi dan menunggu peluang-peluang itu datang,” ujarnya.


