Sony tidak hanya memanfaatkan Sony Open in Hawaii untuk mendukung bintang-bintang muda Jepang, tapi juga kian memperkuat warisan yang sebelumnya telah ada.
Oleh Corey Yoshimura.
Jepang kerap mengacu Hawaii sebagai ”Kepulauan Musim Panas Abadi” dan tiap bulan Januari, ketika musim dingin melanda Jepang, sejumlah pegolf profesional asal Jepang menempuh perjalanan ke pulau liburan yang terkenal di dunia itu untuk mengikuti Sony Open in Hawaii.
Meskipun nama turnamen ini terus berubah seiring waktu, turnamen ini sendiri memiliki sejarah Jepang yang kaya, yang bisa ditarik hingga awal abad ini. Kala itu, pada tahun 1929, dua pegolf Jepang, Tomekichi Miyamoto dan Kokichi Yasuda, menjadi dua pegolf Jepang pertama yang bermain pada ajang PGA TOUR, yaitu Hawaiian Open.
Sejumlah pemain tenar Jepang lainnya juga telah bermain pada ajang ini. Akan tetapi, pada tahun 1983, turnamen ini menjadi kian kukuh menjadi bagian dari pengetahuan di Jepang ketika turnamen ini memiliki pegolf Jepang dan Asia pertama yang menjuarai ajang PGA TOUR. Isao Aoki tampil sebagai pemenang setelah memasukkan eagle di hole 18 untuk mengalahkan Jack Renner dengan satu stroke. Pukulan ajaib itu akan terus diingat selama bertahun-tahun ke depan sebagai salah satu pukulan terhebat sepanjang masa.
Bagi Sony, sejak menjadi sponsor utama turnamen ini pada tahun 1999, berkontribusi kepada masyarakat setempat di Hawaii telah menjadi konsep utama dari ajang Sony Open dengan turnamen ini kini menghasilkan lebih dari US$1,2 juta per tahun untuk amal. Dana tersebut memberi dampak bagi lebih dari 100 badan nonprofit tiap tahunnya dan telah mengumpulkan total US$24 juta untuk lebih dari 350 kegiatan amal setempat.
Meskipun berkontribusi bagi masyarakat di Hawaii sangat penting, Sony selalu menemukan cara untuk ikut mendukung orang-orang Jepang asli.

”Kami ingin melakukan sesuatu yang istimewa bagi para pegolf muda Jepang, untuk membantu mereka menjadi sukses secara internasional,” tutur Hiroshi Kawano, Executive Vice President Sony Corporation, yang bertanggung jawab untuk ajang Sony Open in Hawaii. ”Kami ingin memberi kesempatan bagi para pegolf muda ini untuk membantu mereka mencapai impiannya karena merekalah yang akan menciptakan masa depan.”
Ide memberikan wadah dan kesempatan bagi para pemain ini agar berhasil bermula pada tahun 2010 ketika Hideki Matsuyama pertama kali bisa mengikuti Masters Tournament 2011 setelah menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship 2010.
Pada saat itu, Matsuyama merupakan mahasiswa tahun pertama pada Universitas Tohoku Fukushi. Sony merasa Hideki kurang mendapat pengalaman bermain secara profesional pada PGA TOUR bisa menjadi sesuatu yang sulit diatasi ketika bertanding pada ajang Masters Tournament nantinya. Mereka pun menawarkan spot sponsor untuk turnamen PGA TOUR pertamanya itu dengan maksud membantunya merasakan bermain pada sebuah Tour.
Teori Sony itu terbukti berhasil. Pada Masters Tournament 2011 Hideki menjadi pegolf amatir Jepang pertama yang meraih Silver Cup, penghargaan yang diberikan kepada pegolf amatir dengan skor terendah.
Spot sponsor untuk ajang Sony itu terus berlanjut dan diberikan kepada Matsuyama dalam dua tahun berikutnya. Lalu ketika ia beralih profesional tahun 2013 dan mendapatkan kartu PGA TOUR tahun 2014, Hideki menuntaskan musim itu dengan 12 kali finis di jajaran 25 besar dan kemudian meraih gelar PGA TOUR pertamanya dengan menjuarai Memorial Tournament pada tahun yang sama.
Banyak pegolf amatir muda lainnya yang mengikuti langkah Matsuyama itu. Termasuklah Takumi Kanaya dan Keita Nakajima yang, seperti halnya Hideki, merupakan anggota Tim Nasional Jepang dan penerima Medali McCormack, penghargaan yang diberikan bagi pegolf amatir No.1 Dunia. Mereka itu juga mendapat undangan untuk mengikuti Sony Open sebagai pemain amatir.

Penampilan perdana Kanaya terjadi tahun 2019, ketika ia nyaris lolos cut, tapi bisa pulang dengan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dengan bermain bersama para pegolf terbaik dunia.
”Berkesempatan bermain pada Sony Open ketika masih kuliah memberi dampak yang besar bagi karier saya,” ujar Kanaya. ”Berkesempatan dengan bermain bersama pemain, seperti Corey Conners dan anggota PGA TOUR lain yang sudah berhasil tidak hanya menunjukkan seperti apa golf profesional itu, tapi juga membantu mengidentifikasi apa saja yang mesti saya latih dan tingkatkan dari permainan saya sendiri.”
Biasanya Sony akan memberikan empat undangan sponsor kepada para pegolf Jepang dan Asia lain tiap tahun. Namun, setelah Matsuyama menuai sukses pada PGA TOUR dan dalam upaya meneruskan membantu bintang-bintang baru Jepang, seperti Kanaya, Nakajima, Rikuya Hoshino, Kaito Onishi, dan lainnya, Sony pun menciptakan program khusus yang disebut Sony Open Challenge.
Ketika Sony Group Corporation memperbarui status mereka sebagai sponsor utama dengan PGA TOUR tahun 2021, mereka meresmikan sebuah jalur bagi para pegolf amatir top dari Japan Golf Association dan pegolf profesional top dari Japan Golf Tour agar secara otomatis menerima undangan mengikuti Sony Open tiap tahun hingga 2026.
Penerima pertama dari kategori ini ialah pegolf amatir No.1 Dunia Keita Nakajima yang, seperti halnya Matsuyama, melakukan debut PGA TOUR-nya pada Sony Open 2022 melalui Sony Open Challenge.
Penampilan Keita yang pada pekan itu finis di posisi 41, menjadi sebuah validasi keberadaan Sony Open Challenge. Pegolf berusia 21 tahun ini pun kemudian terlihat berada di pinggir green di hole 18, menyaksikan play-off antara idolanya, Hideki Matsuyama dan Russell Henley. Maysuyama juga melakukan salah satu pukulan sepanjang masa dalam sejarah Sony Open, yang nyaris menyamai pencapaian Aoki sekitar 39 tahun silam. Dengan 3-wood dari jarak 252 meter, yang mendarat sekitar setengah meter di hole 19 par 5, untuk kemudian memudahkannya melakukan putt eagle yang memberi kemenangan.

”Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata,” ujar Matsuyama kepada Kawano setela turnamen itu.
Sistem yang diberlakukan oleh Sony untuk membantu menciptakan generasi pegolf Jepang yang tangguh ini juga sudah kembali membuahkan hasil. Sederet pemain bintang Jepang pekan ini berusaha mengukuhkan nama mereka dalam turnamen yang sudah menjadi bagian dari sejarah Jepang ini.
”Sony Open merupakan satu-satunya turnamen yang menyediakan kesempatan bermain bagi para pegolf Jepang. Mereka sudah membantu memberi kesempatan bagi saya untuk mencapai mimpi saya untuk suatu hari bermain pada PGA TOUR dan saya yakin pengalaman bermain di sini tahun lalu membantu mempertajam permainan saya, baik secara mental maupun fisik untuk membantu saya menang dua kali pada JGTO tahun lalu,” tutur Taiga Semikawa, yang finis di peringkat teratas pada JGTO Mercedes-Benz 2023.
Semikawa juga kembali ke Sony Open tahun ini di bawah kategori undangan sponsor, bersama Kanaya, Aguri Iwasaki, Yuto Katsuragawa, dan Kensei Hirata, dengan Rintaro Nakano mengambil spot amatir.
Ajang pada tahun 2024 ini akan menjadi tahun terakhir bagi Kawano untuk memimpin penyelenggaraan Sony Open in Hawaii lantaran ia mendekati periode pensiun. Namun, ketika ditanya soal warisan yang ia harap bisa ia tinggalkan, ia lekas merespons dengan menyampaikan, ”Menciptakan sistem untuk membantu para pemain muda mencapai mimpi-mimpi mereka adalah sebuah nilai yang saya tambahkan dan semoga penerus saya akan menemukan lapisan berikutnya dari ide asli yang saya ciptakan itu.”
Hanya waktu yang akan membuktikan, tapi dengan kontingen bintang muda asal Jepang, yang dipimpin dengan pegolf kelahiran Asia dengan kemenangan PGA TOUR terbanyak, Hideki Matsuyama, masa depan jelas berada di tangan yang tepat, dengan peluang-peluang untuk membuktikan diri mereka pada ajang Sony Open in Hawaii.


