Im Sungjae dan An Byeonghun membutuhkan permainan yang istimewa untuk menciptakan kejutan pada putaran final di TPC Louisiana.
Kemitraan Im Sungjae dan An Byeonghun segera memasuki babak pamungkas. Namun, untuk menciptakan kejutan pada ajang Zurich Classic of New Orleans ini, keduanya membutuhkan permainan yang luar biasa pada putaran final hari Minggu (24/4) ini.
Kedua pegolf Korea itu memang tidak bermain dengan buruk. Sebaliknya, permainan yang saling melengkapi pada format Fourball kemarin (23/4) memberikan skor terbaik mereka sepanjang pekan ini. Keduanya mencatatkan skor 8-under 64.
Akan tetapi, putaran ketiga itu memang menjadi putaran dengan pergerakan signifikan, termasuk dari duo pimpinan klasemen Xander Schauffele dan Patrick Cantlay. Peraih medali emas Olimpiade Tokyo dan Juara FedExCup 2021 itu membukukan skor 12-under 60, yang mengukuhkan posisi mereka di puncak klasemen dengan catatan 29-under 187 atau lima stroke lebih baik daripada duo Afrika Selatan Garrick Higgo dan Branden Grace. Itu pula sebabnya, Im dan An mesti bermain luar biasa jika ingin menciptakan kejutan karena tertinggal 11 stroke.
Format Fourball (Best Ball) ini mewajibkan Im dan An memainkan bolanya masing-masing, dengan skor terbaik dari keduanya diperhitungkan sebagai skor tim.
Permainan Im tampak sangat penting pada putaran ketiga itu. Ia menyumbangkan lima birdie untuk ikut memastikan tim ini menembus 15 besar jelang putaran final. Selain itu, sejumlah par yang ia torehkan juga terbukti penting untuk menyelamatkan skor mereka, terutama di sembilan hole pertama.
Toh bukan berarti rekannya, yang kini banyak berkiprah pada Korn Ferry Tour itu tidak berkontribusi. An, di antaranya berhasil meraih birdie di hole 8 untuk memastikan pasangan itu menuntaskan sembilan hole pertama dengan catatan 4-under.
Meskipun Im, yang telah menjuarai tiga gelar PGA TOUR, masih menentukan sejumlah birdie di sembilan hole terakhir, seperti di hole 10 dan 14, permainan An justru membaik di paruh kedua putaran ketiga itu. Setelah mengamankan par di hole 11, ia berhasil meraih birdie di hole 13 dan 15 untuk menjadi catatan birdie kedelapan bagi pasangan ini. Satu-satunya bogey ia raih di hole 12 setelah putting-nya dari jarak 2 meteran gagal masuk. Beruntung di hole itu Im berhasil mencatatkan par untuk memberi skor terbaik yang diperhitungkan pada putaran ketiga.
Dengan catatan skor 18-under 198 itu, Im dan An harus berbagi posisi ke-14 bersama empat pasangan lainnya.
Pasangan gado-gado Kiradech Aphibarnrat dari Thailand dan pegolf Amerika yang lama berkompetisi pada Asian Tour Kurt Kitayama juga berhasil kembali bermain under. Sayangnya, dengan torehan lima birdie dan satu bogey, keduanya harus puas hanya dengan skor 68 dan mengumpulkan skor total 12-under 203. Ini berarti mereka akan memulai putaran final dari peringkat T38.
Sementara itu, Schauffele dan Cantlay berhasil memecahkan rekor skor terendah dengan permainan fenomenal keduanya. Tidak ada pasangan yang bermain setajam mereka pada putaran ketiga itu. Dengan tidak satu pun bogey yang diraih oleh salah satunya, Schauffele dan Cantlay menciptakan skor sembilan hole terakhir yang paling mengagumkan sepanjang pekan itu.
Setelah membukukan dua birdie dengan eagle di hole 7 par 5, kombinasi maut ini bermain 8-under di sembilan hole berikutnya, dengan satu-satunya par tercipta di hole 14 par 3.
”Kami menciptakan lebih banyak birdie ketimbang pemain lainnya. Tidak sebanyak Kamis (ketika bermain dengan skor 59), tapi lapangannya cukup berangin dan kami berusaha memantapkan posisi di sembilan hole pertama, berusaha untuk sangat sabar. Eagle Patrick bisa dibilang membantu memberi dorongan dan ia membuat banyak birdie untuk menuntaskan putaran ini,” tutur Schauffele.
”Dalam format seperti hari ini, Anda tinggal berusaha meraih birdie di tiap hole, dan besok (hari ini) kami harus main lebih sabar, solid, dan cerdas, dan itu sesuatu yang kami berdua mampu lakukan,” timpal Cantlay.
Putaran final akan kembali dimainkan dengan format Foursome.


