Enam wakil Indonesia bertekad mencapai finis terbaik bagi Merah Putih pada ajang Asia-Pacific Amateur Championship yang mulai bergulir Kamis (29/10) besok.
Meski menyimpan mimpi yang besar, skuad Indonesia yang segera menghadapi tantangan di Te Arai Links mulai Kamis (29/10) besok sadar apa yang perlu mereka prioritaskan. Setidaknya inilah yang ditegaskan oleh dua pegolf amatir terkemuka di Indonesia, Randy Bintang dan Rayhan Latief, menjelang gelaran ke-17 Asia-Pacific Amateur Championship.
Selama 15 tahun, rekor finis terbaik Indonesia masih belum terpecahkan. George Gandranata mematok pencapaian terbaik itu ketika ia finis di peringkat T17 di Singapura tahun 2011 lampau.
Randy berpeluang memecahkan rekor tersebut ketika ia menjadi pegolf Indonesia pertama yang sempat memimpin di puncak klasemen pada akhir putaran pertama edisi 2024 di Jepang. Ia kemudian harus puas finis di peringkat T19, pencapaian terbaiknya sejauh ini.
Rayhan juga nyaris melampaui rekor tersebut, tapi akhirnya hanya bisa menyamai prestasi George lewat penampilannya di Dubai tahun 2025 lalu.
”Kedua pelatih saya, Luke Calcatera dan Joseph Kirk mendorong kami untuk berlatih keras sekaligus menjadi pribadi yang lebih baik juga.” — Rayhan Latief.
Bagaimanapun juga, peluang untuk menjadi pegolf Indonesia pertama yang bisa tampil pada Masters Tournament dan The Open Championship—hadiah bagi pemenang Asia-Pacific Amateur ini—menjadi sebuah kesempatan emas yang sangat dinantikan oleh wakil Indonesia.
”Sangat spesial karena turnamen ini memberi peluang untuk mengikuti The Masters dan The Open. Untuk negara seperti Indonesia, pasti akan menjadi langkah bersejarah jika salah satu pemain bisa mengikuti The Masters dan the Open,” ujar Randy, yang saat ini menduduki peringkat 141 pada World Amateur Golf Ranking.
”Pengalaman (di Jepang) itu mengajarkan saya agar memainkan permainan sendiri, tidak melihat permainan pemain lainnya. Fokus pada langkah demi langkah, bukan pada hasilnya.”
Rayhan turut menyampaikan hal senada. ”Pekan ini sangat berarti buat saya. Saya berusaha untuk berada di posisi yang bagus, di mana saya bisa dipertimbangkan sebagai salah satu pesaing yang tangguh untuk pekan ini sehingga bisa memenangkan trofi,” ujar mahasiswa tingkat dua University or North Texas ini.
Dari segi permainan, kedua wakil Indonesia ini bisa dibilang berada dalam kondisi yang cukup ideal. Jika Randy menikmati dua kemenangan di dalam negeri—sukses mempertahankan gelar Kejuaraan Nasional Amatir dan Medco-Pondok Indah International Amateur Golf Championship—Rayhan berada di Te Arai Links dengan modal dua catatan positif dari Divisi I NCAA, di mana ia finis T12 pada Argent Financial Classic dan T4 pada Blessings Collegiate Invitational.

”Pukulan saya sedang bagus, dan putting saya juga bagus. Jadi, saya sangat menantikan ajang ini,” ujar Randy.
Sementara itu, Rayhan menggarisbawahi kondisinya saat ini tidak lepas dari peran kedua pelatihnya di Texas. ”Kualitas pukulan, permainan iron saya sedang bagus. Kedua pelatih saya, Luke Calcatera dan Joseph Kirk mendorong kami untuk berlatih keras sekaligus menjadi pribadi yang lebih baik juga. Kami berlatih untuk mengembangkan diri,” timpalnya.
Meski sering menekankan pentingnya ajang ini dan keinginannya untuk menang, Rayhan memiliki pendekatan yang baru pada pekan ini.
”Jawaban saya kali ini mungkin agak berbeda dibanding tahun lalu. Jawaban saya untuk tahun ini, bagaimana caranya supaya bisa menikmati prosesnya, fokus di proses, jadi tidak fokus di hasil karena saya yakin ketika kita fokus di proses itu bisa membawa hasil yang baik,” jelasnya lagi.
”Saya berusaha untuk berada di posisi yang bagus, di mana saya bisa dipertimbangkan sebagai salah satu pesaing yang tangguh untuk pekan ini sehingga bisa memenangkan trofi.”
”… di Indonesia tidak ada lapangan links sama sekali, jadi permainannya akan sangat berbeda daripada lapangan-lapangan di Indonesia, jadi perlu penyesuaian.” — Randy Bintang.
Kini tinggal bagaimana keduanya menghadapi South Course di Te Arai Links, mengingat lapangan seperti ini tidak ada di Indonesia sehingga kesempatan melakukan dua putaran latihan dalam dua hari terakhir menjadi kunci penting untuk menyiapkan permainan masing-masing.
”Sejauh ini bermain 18 hole, sangat suka lapangannya, pemandangannya sangat bagus di pinggir laut. Cuma agak menantang karena di Indonesia tidak ada lapangan links sama sekali, jadi permainannya akan sangat berbeda daripada lapangan-lapangan di Indonesia, jadi perlu penyesuaian,” tutur Randy.
Rayhan meyakini kualitas pukulan yang prima dan short game menjadi kunci penting untuk bisa main bagus di Te Arai Links.
”Lapangannya sangat sulit. Jelas dibutuhkan kualitas pukulan yang bagus, juga perlu short game yang tajam,” ujar Rayhan.
Randy dan Rayhan menjadi wakil Indonesia paling berpengalaman pada ajang ini dengan keikutsertaan keduanya pekan ini menjadi yang kelima kalinya secara berturut-turut. Kenneth Sutianto akan tampil untuk ketiga kalinya, sementara Asa Najib Bhakti dan William Wijaya tampil untuk kedua kalinya. Adapun Jayawardana Dornan akan menjalani debutnya pada kejuaraan yang diprakarsai oleh Asia-Pacific Golf Confederation, The R&A, dan Masters Tournament ini.

