Para pegolf top amatir mengambil inspirasi dari Hideki Matsuyama jelang Asia-Pacific Amateur Championship pekan ini.

Oleh Chuah Choo Chiang.

Generasi baru para pegolf regional, termasuk Rayhan Latief dan Randy Bintang, telah berada di Dubai pekan ini. Mereka bersiap mengejar impian yang dirintis oleh penampilan cemerlang dan heroik dari Hideki Matsuyama.

Edisi ke-16 Asia-Pacific Amateur Championship segera bergulir pada Kamis (23/10) ini dan mempersatukan 120 bakat muda paling cemerlang, yang siap untuk menempuh jalan yang pertama kali dipelopori oleh Matsuyama. Matsuyama, yang kala itu masih remaja melakukan terobosan pada Kejuaraan yang sama, 15 tahun silam, dan menjadikannya batu loncatan untuk kemudian meraih gelar Masters Tournament yang ia dambakan.

Majlis Course di Emirates Golf Club, dengan latar belakang gedung pencakar langit Dubai, pekan ini menjadi tuan rumah untuk kejuaraan amatir ini. Taruhan pada pekan ini bukan sekadar trofi, melainkan juga dua tiket emas—undangan mengikuti Masters Tournament 2026 dan hak mengikuti The Open Championship.

Tak ada sosok yang lebih menonjol sepanjang sejarah Asia-Pacific Amateur melampaui Matsuyama. Ia telah dianggap sebagai pegolf pria Asia terbesar yang pernah dihasilkan Asia. Sebagai juara dua edisi pada ajang ini, pegolf yang kini berusia 32 tahun itu memanfaatkan kemenangannya tahun 2010 menjadi karier profesional yang penuh trofi, yang kini mencakup 11 kemenangan PGA Tour. Ia juga menjadi pegolf Asia pertama yang mengenakan Jaket Hijau yang terkenal itu.

”Saya berutang besar kepada Augusta National dan akan selamanya berterima kasih karena memberi kesempatan untuk mengikuti The Masters dan membantu mewujudkan impian saya bermain golf secara profesional.” — Hideki Matsuyama, Juara Asia-Pacific Amateur Championship 2010, 2011.

”Menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship (AAC) 2010 memberi kesempatan bagi saya untuk bermain pada Masters Tournament,” kenang Matsuyama. ”Lolos cut pekan itu juga membuat saya sadar kalau saya bisa benar-benar menjalan karier dengan bermain golf.

”Saya berutang besar kepada Augusta National dan akan selamanya berterima kasih karena memberi kesempatan untuk mengikuti The Masters dan membantu mewujudkan impian saya bermain golf secara profesional. Memenangkan AAC 2010 benar-benar mengubah hidup saya.”

Bintang amatir, seperti pegolf Jepang Rintaro Nakano, Zhou Ziqin asal China, dan An Seonghyeon dari Korea akan ikut menjadi salah satu pesaing terkuat pada pekan ini. Sementara, pegolf Indonesia Rayhan Latief, Anson Yeo dari Malaysia, Ratchanon T.K. Chantananuwat dari Thailand, Chris Remata dari Filipina, dan Justin Kuk dari Singapura juga akan berjuang menciptakan pekan yang dapat mengubah hidup mereka dengan berusaha meraih gelar Asia Amateur. Sejak pertama kali digelar tahun 2009, para pegolf dari Korea, China, Jepang, dan Australia telah menjuarai ajang ini.

Rayhan segera melakoni penampilan keempatnya secara berturut-turut. Tahun lalu ia finis T24 dan kini bersemangat untuk menjadi pegolf Indonesia pertama yang bisa meraih kemenangan. ”Bertanding pada Asia-Pacific Amateur merupakan sebuah motivasi besar dan yang paling mendorong saya ialah kesempatan untuk menunjukkan kepada para penggemar golf di Indonesia kalau kami bisa bersaing dengan baik menghadapi para pemain dari negara lain dalam salah satu turnamen golf terbesar di dunia,” tutur pegolf berusia 18 tahun ini.

”Target saya ialah mencoba untuk memenangkan Asia-Pacific Amateur tahun ini. Saya akan mempersiapkan diri, saya tahu kalau saya dipersiapkan untuk hal ini dan berharap bisa menunjukkan bahwa pegolf Indonesia bisa mewujudkan target ini, mengingat belum pernah ada pemain Indonesia yang memenangkan Asia-Pacific Amateur.”

 

Rayhan Latief, Pra-Asia-Pacific Amateur Championship 2025.
Rayhan Latief berharap bisa mewujudkan impian memenangkan Asia-Pacific Amateur Championship pada penampilannya yang keempat pekan ini. Foto: Asia-Pacific Amateur Championship.

 

Pegolf Jepang, Rintaro Nakani, yang pekan ini tampil untuk ketiga kalinya, juga berharap bisa mengikuti jejak Matsuyama, dan juga Takumi Kanaya dan Keita Nakajima, yang telah menjuarai ajang ini, masing-masing tahun 2018 dan 2021. Setelah finis di tempat ketiga di Taiheiyo Club, di Gotemba tahun lalu dan finis T28 di Royal Melbourne tahun 2023, pegolf berusia 23 tahun ini merasa bersemangat.

”Mungkin ini menjadi AAC terakhir saya, jadi saya ingin menikmatinya. Tentunya, dengan menargetkan kemenangan, dan saya ingin bermain dengan usaha maksimal sambil mengapresiasi turnamen yang telah membantu saya bertumbuh ini,” tutur Nakano. Tahun lalu ia sempat menjadi pemimpin klasemen dalam 36 hole, sampai akhirnya finis dua stroke di belakang pegolf China Ding Wenyi tahun lalu.

Ia menambahkan bagaimana ajang ini turut mendorongnya untuk menjadi pemain yang lebih baik. Memenangkan ajang Major pun menjadi salah satu ambisinya. ”Saya merasakan tingginya level golf Asia dalam AAC pertama saya di Australia, dan tahun lalu, saya bisa bersaing untuk meraih kemenangan. Saya banyak menyaksikan swing (Hideki), dan ia menjadi anutan buat saya,” tuturnya lagi.

Sementara itu, pegolf China Zhou Ziqin, yang kini berusia 19 tahun, berharap memperbaiki posisinya setelah tahun lalu finis di tempat kedua. Ia juga turut menggarisbawahi potensinya yang kian berkembang. ”Asia-Pacific Amateur telah memberikan pengalaman turnamen yang sempurna bagi para pegolf di wilayah ini,” ujar Zhou, yang kini berstatus mahasiswa pada University of California Berkeley ini. ”Sekarang saya sedikit lebih dewasa, secara fisik dan mental, dan juga telah melakukan peningkatan secara teknis. Semoga saya bisa berada dalam kondisi yang bagus seperti tahun lalu. Target terbesar saya, tentunya, menang!”

”Asia-Pacific Amateur telah memberikan pengalaman turnamen yang sempurna bagi para pegolf di wilayah ini.” — Zhou Ziqin.

Selama bertahun-tahun para pegolf China telah menikmati rangkaian kemenangan. Guan Tianlang (2012), Cheng Jin (2015), dan Lin Yuxin (2017, 2019) telah mencicipi kemenangan dan menikmati tampil pada The Masters. Guan juga turut menginspirasi lewat prestasi bersejarahnya, tatkala ia menjadi pegolf termuda yang lolos cut pada Masters 2013 dalam usia 14 tahun, 5 bulan. Legenda golf Tiger Woods bahkan sampai memujinya.

”Menarik juga berpikir bahwa dia (Guan) lahir setelah saya meraih gelar Masters pertama saya,” ujar Woods, peraih lima gelar Major, yang pada 2013 itu mengundangnya untuk melakukan putaran latihan bersama.

Bagi banyak calon juara minggu ini, mereka pasti akan melihat ke Matsuyama, yang kariernya melambung setelah rangkaian keberuntungan. Tahun 2010, status Jepang sebagai tuan rumah memberi Matsuyama satu dari empat spot tambahan pada pekan itu. Ia memanfaatkannya, menang lima stroke di Kasumigaseki Country Club, dan kemudian meraih predikat pegolf amatir terbaik pada The Masters pada tahun berikutnya. Setelah meraih 11 kemenangan PGA Tour, warisannya terukir, tak hanya di dalam hati para pegolf Jepang, tapi juga dalam hati dan jiwa Asia Amateur Championship itu sendiri.

Tentang Penulis
Chuah Choo Chiang sempat memimpin tim komunikasi dan marketing pada PGA Tour dan Asian Tour selama total lebih dari 25 tahun. Kini ia mengelola perusahaan konsultasi PR olahraganya sendiri.