Mengapa kemenangan pada ASABA Indonesia Senior Pro-Am Seri ke-3 memberi dampak yang besar bagi Jamel Ondo, sang juara, dan para pegolf profesional senior Indonesia?
Jamel Ondo akhirnya menikmati kemenangan resmi pertamanya pada tahun 2025 ini. Bermain pada ajang senior ASABA Indonesia Senior Pro-Am Seri ke-3 di Klub Golf Bogor Raya, pegolf yang kini berusia 54 tahun itu tampil sebagai pemenang setelah menorehkan skor 2-under 69.
Pada turnamen satu hari tersebut, Jamel mencatatkan empat birdie dengan dua bogey, yang membuatnya berhasil mengungguli Park Wonjung (71) dengan keunggulan dua stroke. Keempat birdie itu ia torehkan dari hole 1, 7, 11, dan 16. Sementara bogey terpaksa ia dapatkan dari hole 5 dan 6.
”Setiap hole di Klub Golf Bogor Raya ini sebenarnya tricky. Kalau asal main serobot tanpa memiliki manajemen lapangan, pastilah skornya fatal. Jadi, saya bermain dengan sabar, tapi tetap agresif,” tuturnya.
PGA Tour of Indonesia tampaknya sengaja menyiapkan lapangan agar benar-benar menguji para peserta. Meskipun selama ini Klub Golf Bogor Raya dikenal sebagai lapangan yang ramah, penempatan posisi pin untuk seri pamungkas ini sengaja ditaruh di titik-titik yang menguji.
”Berkat dukungan dari ASABA, para pegolf senior punya panggung yang resmi.” — Jamel Ondo.
”Kalau saya bilang, posisi pin kali ini sama sekali tidak menyenangkan. Banyak yang ada di ujung dan slope-nya juga susah. Kalau salah menempatkan bola di atas green, putting pasti sulit. Banyak yang mengeluh karena salah penempatan. Ada yang bisa langsung masuk ke green, tapi melakukan tiga-empat putt,” lanjut Jamel.
Kesulitan di atas green ini memang harus diciptakan benar-benar menantang, mengingat lapangan ini terbilang cukup pendek untuk para pegolf profesional. Jika secara reguler dimainkan sebagai par 72, kali ini dimainkan sebagai lapangan 71 par. Meski demikian, ”kalau salah penempatan di atas green, pasti selesai!” imbuh sang juara lagi.
”Kalau secara strategi, mungkin semua profesional punya kemampuan yang hampir sama, tapi siapa yang menguasai mental dan lapangan, pasti itulah yang bisa menjadi juara. Itu sebabnya, hal pertama yang menjadi fokus persiapan saya adalah dari segi mental.”
Meski demikian, ia juga melakoni persiapan dengan mengusung beban yang tidak mudah. Pihak sponsor sempat berpesan agar Jamel bisa naik podium. Motivasi ini memang sulit dicerna lantaran pesan yang mengiringinya.
”Kalau saya tidak naik (tribun), seri ini mungkin tidak akan berlanjut lagi,” tutur Jamel. ”Motivasi ini, tak pelak lagi, membuat saya berpikir keras. Supaya kompetisi bisa terus berlangsung, saya harus serius berlatih. Sampai minggu ini saya belum sempat pulang ke Bandung karena fokus latihan.

”Memang sebelum bertanding sudah ada pembicaraan untuk kelanjutan seri kompetisi ini untuk tahun depan sehingga saya bisa merasa agak tenang. Alhamdulilah saya bisa membuktikan kalau saya masih bisa berprestasi pada ajang senior. Selain itu, pada akhir tahun ini saya bisa membawa pulang trofi untuk keluarga.”
Selain bisa berbangga lantaran akhirnya menjawab harapan sponsor, Jamel juga menambahkan bahwa kemenangan kali ini terasa istimewa lantaran inilah kemenangan pertamanya dalam kompetisi yang diakui secara resmi oleh PGA Tour of Indonesia.
Tahun 2023 silam, ia pernah memenangkan sebuah ajang senior yang berlangsung di Padang Golf Halim I. Bedanya, ajang kala itu bukanlah ajang resmi PGA Tour of Indonesia.
”Selama saya menjadi profesional sampai akhirnya masuk senior, belum pernah ada kompetisi resmi yang dilangsungkan untuk senior. Berkat dukungan dari ASABA, para pegolf senior punya panggung yang resmi,” ujarnya lagi.
Jamel memang ikut berperan dalam meyakinkan ASABA untuk mengadakan kompetisi ini. Direktur ASABA Fujiyanto Wongsugoro merupakan murid golfnya, yang akhirnya memutuskan mendukung gelaran ASABA Indonesia Senior Pro-Am ini. Ia bahkan ikut terlibat dalam mempersiapkan turnamen pada Seri 1 dan 2.

”Awalnya sih kami sering bermain bersama. Kemudian saya mencoba mengajak mereka untuk mengadakan kegiatan bersama pegolf profesional. Mereka setuju, hanya saja mereka meminta agar kompetisi dilakukan secara resmi, dan akhirnya berjalanlah Seri 1, Seri 2, dan sekarang ini Seri 3,” jelas Jamel.
Komitmen dari ASABA untuk melanjutkan seri ini jelas sangat berarti bagi para pegolf profesional senior. Pasalnya, banyak yang merasa sulit bersaing dengan para pegolf muda pada turnamen reguler. Tak jarang kondisi tersebut membuat kebanyakan mereka memilih untuk lebih fokus mengajar daripada berkompetisi.
”Dengan adanya wadah ini, semua bisa kembali bersemangat,” imbuh Jamel lagi. ”Saya juga mau mengajak para pencinta golf untuk ikut bergabung dan ikut sumbangsih, baik lewat ajang ASABA Series ini maupun melalui PGA Tour of Indonesia, yang mengurus kegiatan turnamen ini.”
Seri ke-3 ini juga menjadi unik, mengingat kompetisi yang dipertandingkan bukan hanya senior dan amatir individu saja, melainkan juga kompetisi beregu. Dalam kompetisi beregu ini, pegolf profesional senior berpasangan dengan murid mereka. Jika nomor individu menggunakan format strokeplay, nomor beregu dipertandingkan dengan format stableford.
Pasangan Arifin Sabilah dan Musa Rumbiak tampil sebagai pemenang di antara 70 tim yang ikut bertanding. Keduanya mengoleksi 51 poin, dua poin lebih baik daripada duet Jamel dan Alvin. Adapun dari nomor individu amatir, Ari Safari berhasil menjadi yang terbaik setelah bermain 1-under 70.


