Jazz Janewattananond bakal siap bertolak menuju Tokyo untuk mewujudkan impian Olimpiadenya.
Bertahun-tahun silam, Jazz Janewattananond sudah bermimpi tampil pada ajang Olimpiade. Hanya saja impiannya kala itu ialah bersaing memperebutkan medali pada arena renang. Akhir bulan ini, impiannya bakal terwujud, meskipun ia lakoni pada cabang olahraga berbeda.
Pegolf yang menyandang status No.1 pada Asian Tour musim 2019 ini bakal bersaing bersama pegolf elite dunia di Kasumigaseki Country Club, mulai 29 Juli hingga 1 Agustus. Bersama rekan senegaranya, Gunn Charoenkul, ia akan melakoni debutnya pada pesta olahraga terbesar sedunia ini.
”Tak banyak yang tahu kalau waktu kecil saya sering berenang,” ujar Jazz. ”Ayah ingin saya menjadi perenang. Ketika masih berusia 4-8 tahun, saya biasa berenang beberapa kilometer tiap hari. Gila juga sih. Sekarang boro-boro saya mau masuk air.”
Pemuda berusia 25 tahun ini mengingat bagaimana ia dan sang ayah menyaksikan para atlet Olimpiade melalui layar TV. Biasanya mereka menyaksikan cabang olahraga atletik dan renang. Legenda renang Amerika Michael Phelp, atlet Olimpiade tersukses sepanjang masa dengan total raihan 28 medali, merupakan salah satu bintang yang memikat Jazz kecil kala itu.
”Saya tidak akan berkhayal atau mengatakan hal-hal seperti ingin memenangkan Masters atau The Open suatu saat nanti. … kecuali untuk Olimpiade.” — Jazz Janewattananond.
”Saya mengikuti atletik dan renang dan waktu itu golf sama sekali tidak dipertandingkan” tutur pemegang enam gelar juara di Asia ini. ”Saya biasa menonton Phelps mendominasi kolam renang. Olimpiade merupakan panggung terbesar olahraga dan menjadi prioritas besar buat saya.
”Saya tidak akan berkhayal atau mengatakan hal-hal seperti ingin memenangkan Masters atau The Open suatu saat nanti. Saya tidak bakalan berkhayal apa-apa kecuali untuk Olimpiade. Olimpiade berbeda dan saya kerap membayangkan bagaimana jika bisa memenangkan medali Olimpiade. Saya pikir itulah pencapaian utama dalam olahraga.”
Setelah banyak anak sebayanya melampauinya di kolam renang, Jazz mencoba sepakbola. Namun, ia juga meninggalkan olahraga ini setelah sering ditendang dan kalah fisik. Golf menjadi olahraga berikut baginya, ketika sang ayah, yang merupakan seorang hakim di Thailand, mendorongnya untuk memukul bola ketika Jazz masih berusia 8 tahun. Termakan olah dorongan tersebut, Jazz kemudian berkembang menjadi pemain potensial dan ketika berusia 14 tahun menjadi pegolf termuda yang pernah lolos cut dalam sebuah ajang Asian Tour pada tahun 2010. Sehari setelah genap berusia 15 tahun, ia beralih profesional.
Prestasinya tidak serta-merta melejit. Ia membutuhkan beberapa tahun untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai seorang profesional. Lalu pada tahun 2016 ia memutuskan menghabiskan waktu selama beberapa bulan di kuil Budhis. Ia belajar menjadi seorang biksu, sebuah ritual yang lumrah di kalangan pemuda Thailand, sebagai bukti penghormatan terhadap orangtua mereka. Lalu pada bulan Februari 2017 ia menjuarai ajang Bangladesh Open dan menyebut keberhasilannya itu menjadi buah sukses dari masa-masa ketika ia masih berada di kuil.
”Saya berdoa dan membaca mantra tiap hari di kuil. Rasanya sangat damai. Biasanya golf merupakan segalanya, tapi sekarang saya senang hanya bisa bermain dalam sebuah turnamen,” tutur Jazz, yang kerap mengenakan baju berwarna oranye pada hari Minggu, warna yang dikenakan oleh para biksu.

Pada akhir 2019 ia mengikuti jejak sukses para pegolf Thailand, seperti Thongchai Jaidee dan Kiradech Aphibarnrat yang memenangkan Order of Merit Asian Tour setelah meraih empat kemenangan pada tahun yang sama. Sayangnya, momentum tersebut harus terhenti lantaran pandemi COVID-19.
Menyusul sejumlah penampilan yang menunjukkan sebagian dari permainan terbaiknya dengan finis di tempat ke-3 di Kenya dan T11 pada British Masters, Jazz mulai sadar bahwa ia memiliki peluang untuk bermain pada Olimpiade Tokyo. ”Saya sangat senang bisa lolos kualifikasi. Perjalanannya sendiri sudah panjang. Seharusnya kompetisi ini dilakukan tahun lalu, dan sayangnya tidak bisa terwujud. Saya senang akhirnya kami bisa bertanding,” ujarnya.
”Saya bersemangat untuk bisa mewakili negara saya, ini sebuah kehormatan. Saya ingat Thongchai dan Kiradech membagikan pengalaman mereka setelah kembali dari Rio de Janeiro dan Kiradech main bagus waktu itu (finis di tempat ke-5).
”Kami punya dua pegolf pria dan dua pegolf wanita (Ariya Jutanugarn dan Patty Tavatanakit), jadi ada empat peluang memenangkan medali untuk Thailand. Salah satu dari kami hanya membutuhkan pekan yang baik untuk bisa memenangkan medali bagi negara kami. Golf itu berbeda daripada olahraga lainnya dan Anda tak harus menjadi yang terbaik. Anda hanya perlu memiliki pekan yang tepat. Bakalan heboh kalau kami bisa mendapatkan medali, dana bakal lebih heboh lagi jika saya yang melakukannya!”


