Para pegolf wanita membuktikan bahwa permainan mereka layak untuk mendapat porsi perhatian yang lebih besar dari masyarakat golf dunia menyusul berakhirnya kompetisi golf Olimpiade Tokyo 2020.

Seakan tidak ingin kalah dari para pegolf pria, para pegolf wanita yang berlaga pada kompetisi golf wanita Olimpiade Tokyo 2020 menyuguhkan kualitas permainan dan aksi yang sama mengagumkannya. Sebanyak 60 pegolf yang mewakili 36 negara pada pekan ini lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa mereka sanggup menumbuhkan adrenalin bagi para penonton sejak putaran pertama, yang dimulai Rabu (4/8) lalu, dengan pesona dan permainan memukaunya selama empat putaran di Kasumigaseki Country Club.

Penampilan memukau Madelene Sagstron dari Swedia dengan skor 66 disusul dengan permainan mengagumkan pegolf No.1 Dunia Nelly Korda yang menorehkan skor 62 pada putaran kedua untuk membawanya mengakhiri pekan ini dengan medali emas kedua dari cabang olahraga golf untuk negaranya.

Status Olimpiade sebagai ajang olahraga terbesar di dunia yang hanya digelar sekali dalam empat tahun, lalu dengan fakta hanya ada tiga medali yang diperebutkan sepanjang pekan, plus bendera dan warna negara yang mereka usung mendorong semua peserta berjuang habis-habisan bagi kejayaan negara masing-masing. Semua itu berlangsung dengan kesadaran bahwa tidak ada hadiah uang yang dipertaruhkan ketika putaran final berakhir hari ini (7/8).

Kita menyaksikan bagaimana Aditi Ashok menciptakan sensasi sejak putaran pertama dengan kesadaran besar yang ia usung. Bagaimana golf, meskipun merupakan olahraga besar di India—sirkuit profesional pria di sana bahkan memberikan poin Official World Golf Ranking—masih kalah bersaing dengan kriket olahraga No.1 di India. Ketika Udayan Mane dan Anirban Lahiri gagal mewujudkan impian medali itu, secara heroik Ashok memberikan harapan.

 

Mone Inami pada putaran final Olimpiade Tokyo 2020.
Mone Inami mewujudkan harapan Jepang meraih medali dengan mempersembahkan perak bagi Jepang pada Olimpiade Tokyo 2020. Foto: Stan Badz/PGA TOUR/IGF.

 

Mereka sadar betapa besar makna sebuah medali bagi olahraganya. Ada tanggung jawab besar, ada beban besar, yang skalanya jauh melebihi diri mereka masing-masing. Dan meskipun Ashok gagal mewujudkan impian tersebut, ia masih layak berbangga dengan permainannya. Pada putaran final itu, ia menorehkan lima birdie dengan dua bogey untuk finis sendirian di tempat keempat dengan skor total 15-under 269.

”Ketika saya mulai bermain golf, saya tak pernah bermimpi bakal bersaing pada Olimpiade, bahkan golf belum kembali menjadi salah satu cabang olahraganya. Bahkan hanya dengan masuk lima besar atau sepuluh besar pada ajang Olimpiade sudah sangat bagus. Itu artinya, olahraga itu atau olahragawannya memiliki peluang memenangkan medali. Jadi, meskipun tidak naik podium, pencapaian ini akan membuat lebih banyak mata menyaksikan olahraga tersebut dan lebih mendukungnya, lebih banyak lagi anak yang memilihnya, dan semua itu akan membantu pertumbuhan olahraga ini,” jelas Ashok.

Lalu lihat juga bagaimana Mone Inami berhasil mewujudkan harapan para pendukung Jepang dengan mempersembahkan medali, sesuatu yang bahkan gagal diwujudkan oleh Hideki Matsuyama, Sang Juara Masters 2021. Bebannya mungkin jauh lebih besar daripada yang harus ditanggung oleh Ashok. Apalagi posisinya jauh lebih baik daripada rekannya, Nasa Hataoka, yang pada kaliber berbeda menjadi andalan bagi golf wanita Jepang.

Kepada para jurnalis internasional ia mengungkapkan ”biasanya tidak mudah gugup dan hal yang sama berlaku untuk ajang kali ini,” yang terbukti lagi pada hari ini (7/8). Ia menjadi salah satu dari empat pemain yang menorehkan skor 65 untuk kemudian memaksa babak play-off untuk memperebutkan perak dengan Lydia Ko, yang juga mencatatkan skor yang sama pada putaran final itu. Keduanya sudah memastikan meraih medali, namun Inami tampil jauh lebih baik dengan mencatatkan par untuk memenangkan perak.

”Saya menginginkan medali dengan warna yang lebih baik, dan itu berarti emas. Sejak awal saya kehilangan medali emas karena beberapa pukulan saya gagal, saya masih bisa puas (dengan medali perak ini),” tutur pemegang tujuh gelar JLPGA ini. ”Bagi saya, saya tidak merasa ini kenyataan, masih sulit mempercayai bahwa kompetisi ini dilangsungkan di Jepang dan seorang pegolf Jepang memenangkan medali. Saya berharap generasi pegolf muda akan muncul pada masa depan.”

 

Lydia Ko pada putaran final Olimpiade Tokyo 2020.
Lydia Ko menjadi pegolf pertama yang memenangkan medali dalam dua partisipasinya pada Olimpiade, kali ini dengan meraih perunggu pada Tokyo 2020. Foto: Stan Badz/PGA TOUR/IGF.

 

Nelly Korda sendiri mengukuhkan statusnya sebagai pegolf No.1 Dunia dengan performa solid sepanjang pekan. Setelah mengambil alih posisi teratas berkat skor 9-under 62 pada putaran kedua, ia menampilkan ketangguhan teknik dan mental yang membawanya mempersembahkan medali emas bagi Amerika Serikat. Skor total 17-under 268 yang ia torehkan memberinya keunggulan satu stroke dari Inami dan Ko.

Ketangguhan mentalnya juga terlihat tatkala pada satu titik, Korda sempat tergeser dari posisinya lantaran mendapat double bogey di hole 7 par 3. Namun, birdie di hole 8, 9, dan 10 mengembalikan posisinya. Lalu tatkala ia mendapat bogey di hole 11, ia sukses mencuri birdie lagi di hole 13, sebelum akhirnya mempertahankan posisinya dengan mencatatkan par di lima hole terakhirnya.

”Saya memang memiliki serangkaian performa yang bagus dalam beberapa turnamen, tapi tidak berarti Anda bakal bermain dengan baik (pada ajang berikutnya), jadi Anda mesti menyingkirkan ekspektasi dan sekadar bermain dengan menikmati pekan yang segar, menikmati pengalaman Olimpiade karena ini pengalaman yang unik dan menyenangkan, serta yang pertama kalinya bagi saya. … Anda bermain tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk negara Anda. Jadi, bisa dibilang saya sangat menikmati pengalaman Olimpiade pertama ini,” tutur Korda yang menorehkan sebuah eagle, 23 birdie, 4 bogey, dan 2 double bogey sepanjang pekan.

Dari Asia Tenggara, Juara U.S. Women’s Open Yuka Saso dari Filipina mencatatkan finis terbaik dengan menjadi satu dari enam pemain yang berada di peringkat ke-9. Pegolf muda ini menjadi salah satu pemain yang memaksimalkan permainan penuh empat hari pada Olimpiade Tokyo 2020 ini. Setelah memulai pekan ini dengan menorehkan skor 74, ia tampil lebih baik dalam tiga putaran berikutnya dengan grafik permainan yang terus meningkat. Setelah bermain dengan skor 68 pada hari kedua, ia menorehkan skor 67, sebelum akhirnya menorehkan sebuah eagle, lima birdie, dan satu bogey pada putaran final.

Baginya, pengalaman berkesan yang mempersatukannya lagi dengan Bianca Pagdanganan, yang menjadi bagian dari keberhasilan Filipina menjuarai medali emas individu dan beregu pada Asian Games 2018, memberinya pengalaman belajar yang baru. ”Semua mereka sangat baik dan secara keseluruhan, pengalaman ini sangat bagus dan mungkin dalam turnamen berikutnya saya bisa terus melangkah (untuk meraih kemenangan),” tegasnya.

 

Aditi Ashok pada putaran final Olimpiade Tokyo 2020.
Aditi Ashok layak berbangga akan performa heroiknya bagi India yang membawanya finis di tempat keempat. Foto: Stan Badz/PGA TOUR/IGF.

 

Aksi heroik lain juga ditampilkan oleh pegolf Malaysia Kelly Tan yang membukukan rekor skor terendahnya sepanjang mengikuti Olimpiade. Setelah bermain 1-under berkat dua birdie dan satu bogey di sembilan hole pertamanya, Kelly menorehkan skor 29 di sembilan hole terakhirnya berkat enam birdie dengan tiga di antaranya ia lakukan di tiga hole terakhirnya.

”Bisa bermain 7-under pada putaran final Olimpiade menurut saya akan menjadi sesuatu yang takkan pernah saya lupakan. Bermain dengan skor 29 di sembilan hole terakhir bukanlah sesuatu yang pernah saya lakukan dalam karier saya, jadi ini hal yang positif bagi saya. Saya tahu, saya memang tidak memenangkan medali, tapi saya tahu kalau saya sudah berjuang keras dan bermain sebaik mungkin untuk negara saya dan saya sangat bangga dengan permainan saya,” tuturnya. Dan ia layak merasa bangga berhasil memperbaiki posisinya setelah finis di peringkat 51 di Rio 2016. Dengan skor 2-under 282, Kelly kali ini finis di peringkat T34.

Dengan kepastian golf masih akan menjadi bagian dari Olimpiade pada Paris 2024 dan Los Angeles 2028, banyak dari para pegolf yang berpartisipasi kali ini berpeluang untuk menorehkan sejarahnya masing-masing dalam tujuh tahun berikutnya. Beberapa mulai menjadikan Paris 2024 sebagai targetnya, sementara yang lain berniat menciptakan warisannya sendiri dan membangun momentum untuk bisa kembali menjadi bagian dari pesta olahraga terbesar ini.

Pekan ini, meski sorotan lebih banyak ditujukan kepada Korda, Inami, dan Ko, para pegolf wanita pada pekan ini berhasil memenuhi misi yang besar. Mereka membuktikan sanggup menciptakan suasana dramatis yang khas, sembari menampikan keindahan olahraga golf kepada para penggemar olahraga.