Nelly Korda menciptakan permainan sensasional untuk memegang keunggulan empat stroke menuju putaran ketiga kompetisi golf wanita Olimpiade Tokyo 2020.

Dalam kondisi cuaca yang panas, permainan Nelly Korda pada putaran kedua kompetisi golf wanita Olimpiade Tokyo 2020 juga ikut memanas. Seakan ingin menegaskan statusnya sebagai pegolf No.1 Dunia saat ini, ia menampilkan permainan yang hampir sangat sempurna dan mengambil alih posisi teratas setelah menorehkan skor terendah, 9-under 62, yang memecahkan rekor skor terendah pada kompetisi golf Olimpiade.

Korda menampilkan permainan yang luar biasa solid setelah harus bersabar meraih birdie pertamanya di hole 5 par 5 di Kasumigaseki Country Club. Dan ia hanya membutuhkan satu birdie tersebut untuk menciptakan momentumnya, sekaligus memulai mengoleksi birdie demi birdie, terutama setelah mencatatkan eagle.

Setelah meraih birdie pertama itu, Korda sukses mengantarkan bolanya langsung ke green di hole 6 yang merupakan par 4 terpendek pekan ini—dimainkan 311 meter. Bola yang berhenti kurang dari 8 meter dari lubang itu kemudian berhasil ia masukkan untuk memberi eagle pertama baginya pada pekan ini.

”Hole itu merupakan hole par 4 yang mudah dijangkau hari ini. Saya menggunakan 3-wood untuk memukul jauh ke pin, mungkin menyisakan sekitar 7-9 meter. Saya hanya melakukan putt melewati punggung gundukan dan berhasil memasukkanya,” tutur Korda, yang kemudian menambah tiga birdie lagi di hole 7, 8 dan 9.

 

Nanna Koerstz Madsen pada putaran kedua Olimpiade Tokyo 2020.
Nana Koerstz Madsen dari Denmark meramaikan persaingan meraih medali kompetisi golf wanita Olimpiade Tokyo 2020. Foto: Stan Badz/PGA TOUR/IGF.

 

Ketika beralih ke sembilan hole berikutnya, ia nyaris menyamai rekor skor terendah yang ditorehkan oleh Rory Sabbatini pada putaran final kompetisi pria hari Minggu (1/8) lalu, bahkan berpeluang menorehkan skor 59. Dengan lima birdie tambahan di hole 12, 13, 14, 16, dan 17, Korda hanya perlu mengamankan hole terakhir dengan par. Namun, upayanya itu harus pupus lantaran di hole terakhir ia justru harus mendapat double bogey. Di hole terakhir itu, ia harus melakukan empat pukulan untuk mengantarkan bolanya ke green, setelah pukulan tee-nya meleset ke rough dan pukulan ketiganya masuk bunker.

Meski demikian, skor 62 ini merupakan skor terendah kompetisi golf wanita, sejak golf kembali dipertandingkan pada Olimpiade. Lima tahun silam, Stacey Lewis mendapat kehormatan tersebut setelah pada putaran kedua menorehkan skor 63 di Rio 2016.

”Saya sama sekali tidak memikirkan (untuk mencatatkan skor 59), saya hanya berpikir kalau saya memiliki keunggulan menuju hole 18,” sambung pegolf resmi menjadi No.1 Dunia usai meraih Major pertamanya pada KPMG Women’s PGA Championship. ”Sayangnya, saya malah mendapat double bogey di hole 17, tapi begitulah golf, seperti itulah terkadang hasilnya.

Meskipun wajar bagi banyak penggemar mengharapkannya untuk bisa menyamai rekor Sabbatini, Korda mengaku puas dengan permainannya, meski turut menyebut bahwa di sembilan hole terakhir performa pukulannya mulai menurun.

”Saya benar-benar mendapat serangkaian hole yang bagus. Mungkin saya 4 atau 5-under hingga empat hole di sembilan hole terakhir atau pertama. (Lalu) panas mulai memengaruhi saya. Saya hanya berusaha agar bisa bermain dengan benar-benar solid hari ini. Pukulan saya jelas lebih baik di sembilan hole pertama dan di sembilan hole terakhir justru kurang bagus, tapi (untungnya) say bisa memasukkan putt yang lebih jauh,” jelasnya. ”Hasil yang diraih oleh para pegolf pria jelas berbeda dengan kaum wanita. Saya tidak pernah menganggapnya sama. Jadi, ketika melihat banyak putt yang masuk dan saya makin bermain under, rasanya sangat menyenangkan, tapi saya tak pernah memikirkan skor 10-under (yang dibukukan Sabbatini) itu.”

 

Emily Kristine Pedersen pada putaran kedua Olimpiade Tokyo 2020.
Rekan senegara Nanna Koerstz Madsen, Emily Kristinie Pedersen menjadi salah satu penghuni peringkat kedua berkat skor total 9-under 133, bersama pegolf India Aditi Ashok. Foto: Stan Badz/PGA TOUR/IGF.

 

Dengan permainan fenomenal putaran kedua, Korda memastikan berada di puncak klasemen sementara dengan skor total 13-under 129. Posisinya tampak sangat aman dan memiliki keunggulan hingga empat stroke dari tiga pegolf lain yang sama-sama menorehkan skor total 9-under 133. Pegolf Denmark Nanna Koerstz Madsen dan Emily Kristine Pedersen, serta pegolf India Aditi Ashok, meramaikan persaingan perebutan medali, setelah masing-masing membukukan skor 64, 63, dan 66.

”Saya menikmati rangkaian hole yang bagus di sembilan hole pertama. Entah ya, saya sepertinya membuat tiga birdie dan sebuah eagle secara beturut-turut sehingga bisa 6-under dalam delapan hole. Lalu di sembilan hole terakhir saya masih bermain dengan baik, hanya saja tidak menciptakan cukup peluang. Namun, saya masih senang dengan permainan saya. Senang juga melihat kami berdua dari Denmark (dengan Pedersen). Kami tidak begitu cocok, namun pekan ini kami tinggal bersama,” tutur Koerstz Madsen, yang mencatatkan enam birdie, satu eagle, dan satu bogey.

”Sungguh luar biasa melihat dua pemain Denmark di jajaran atas. Saya pikir kondisi ini menjadi pertunjukan yang bagus bagi Denmark dan golf wanita di Denmark. Saya sungguh sangat senang kami berdua ada di jajaran atas,” timpal Pedersen. Pedersen sendiri memosisikan dirinya di jajaran atas itu berkat torehan delapan birdie, sebuah eagle dan dua bogey.

Permainan yang lebih baik juga berhasil ditampilkan oleh Aditi Ashok, yang kali ini bermain tanpa bogey. Dengan lima birdie pada putaran kedua, ia kini hanya terpaut empat stroke dari Nelly Korda.

Sementara itu, peraih medali emas Rio 2016 Park Inbee harus puas bermain dengan skor 70, yang membuat posisinya melorot ke peringkat T24 dengan 3-under 139. Adapun peraih medali perak lima tahun lalu Lydia Ko sukses memperbaiki permainanya dengan skor 67 sehingga kini ada di posisi T9 dengan 5-under 137. Harapan Feng Shanshan untuk kembali naik podium, setelah meraih medali perunggu di Rio, kembali terbuka setelah menorehkan skor 64 untuk berada di posisi T11.