Mengapa kemenangan di Bali mempertegas posisi Jonathan Wijono sebagai pegolf terbaik Indonesia saat ini?
Tahun 2023 ini benar-benar menjadi tahunnya Jonathan Wijono. Pegolf asal Surabaya, Jawa Timur ini kian mendominasi sirkuit lokal. Kemenangannya di Bali National Golf Club kemarin (7/9) memperkukuh statusnya sebagai pegolf profesional No.1 Indonesia saat ini.
Namun, kompetisi yang terus-menerus mulai membuatnya mengalami kepenatan. Sejak kompetisi bergulir secara rutin per Maret 2023, ia hampir tidak pernah rehat. Dan, seperti halnya berbagai hal dalam kehidupan, kepenatan akan berpengaruh pada performa.
Sebelum kemenangannya di Bali, Jonathan telah menorehkan dua skor kemenangan dengan skor under satu digit. Yang pertama tercipta pada Seri I di Gading Raya Padang Golf dan Klub pada bulan Maret 2023. Skor total 7-under 209 itu, bagi kalangan umum, lumrah dilihat sebagai catatan yang sangat baik lantaran kompetisi benar-benar baru dimulai.
Lalu ketika ia memenangkan gelar ketiganya di Damai Indah Golf BSD Course, untuk pertama kalinya pula ia memulai dua putaran pertamanya dengan skor 70-an. Hanya karena birdie yang ia torehkan di hole ke-54 itulah yang menghindarinya dari play-off dengan George Gandranata, sekaligus mencatatkan kemenangan dengan skor terbesarnya, setidaknya dalam sepuluh seri pertama.
Tentu saja kita patut menyoroti dominasinya di Taman Dayu Golf Club, ketika ia mencatatkan skor kemenangan terendah, sekaligus selisih kemenangan terbesar pada musim ini. Dari tiga hari kompetisi ia menorehkan skor 63-67-67 untuk total 197, 13 stroke lebih baik daripada Benita Yuniarto Kasiadi.

Demikian pula pada Seri ke-8 di Jatinangor Golf Resort (dulu bernama Bandung Giri Gahana), ketika ia tak tergoyahkan di puncak klasemen sejak hari pertama. Skor total 12-under itu memberinya skor under dengan dua digit ketiganya pada musim ini.
Catatan fenomenal lain, yang mempertegas alasan mengapa ia menjadi pegolf terbaik Indonesia saat ini terlihat dari penampilannya, bahkan ketika tidak menang. Pertama, ia tidak pernah tidak bermain under, bahkan ketika gagal memenangkan sebuah turnamen. Sebelum seri di Bali, skor terburuknya ialah ketika ia hanya bisa mencatatkan 1-under 215 pada Seri ke-3. Kala itu ia finis di posisi T5, tiga stroke di belakang Nasin Surachman yang menjadi juara.
Mengingat catatan bagusnya ketika bermain di lapangan-lapangan skala kejuaraan, seperti Taman Dayu (19-under), Jababeka (16-under), maupun Damai Indah Golf PIK Course (12-under) kelihatannya Jonathan bakal siap bersaing di level yang lebih tinggi, yang kerap dimainkan di lapangan premium.
Ketika kembali bermain penuh pada gelaran Mandiri Indonesia Open tahun ini, Jonathan tak hanya menunjukkan kapasitasnya, tapi juga finis satu posisi lebih baik, T33, ketimbang tahun 2022 (T34). Hanya skor 73 pada hari pertama dan 75 pada hari ketiga saja yang mencegahnya untuk finis lebih baik lagi. Skor 75 kala itu juga menjadi skor 75 ketiga yang ia torehkan pada musim ini (ITGPS 3 putaran kedua, ITGPS 10 putaran final).
Meski berhasil memperbaiki catatan skornya ketika bertolak ke ajang Asian Development Tour (ADT) pertama di Indonesia, The Indonesia Pro-Am presented by Combiphar & Nomura (70-72-67) dan finis T15, kepenatan itu mulai terasa. Sejak bulan Maret, ia hanya sekali absen dari ITGPS, yaitu pada Seri ke-11, persis setelah Mandiri Indonesia Open.

Lalu untuk pertama kalinya ia gagal lolos cut dalam ajang ADT musim ini. Skor 72-72 yang ia torehkan pada BNI Ciputra Golfpreneur Tournament bukanlah skor terburuk baginya, tapi bermain even par terbukti tidak cukup membawanya ke dua putaran final.
Kesempatan untuk berada dalam rombongan Indonesia dalam kampanye ke Vietnam jelas menjadi nostalgia tersendiri. Bersama Naraajie Emerald Ramadhan Putra, Fadhli Rahman Soetarso, Kevin Caesario Akbar (yang menjuarai The Indonesia Pro-Am), Peter Gunawan, dan Joshua Andrew Wirawan, Jonathan melakukan debutnya pada ajang ADT di luar Indonesia.
Sayangnya, kepenatan yang terakumulasi oleh jadwal kompetisi yang belakangan makin padat mulai berdampak pada penampilannya. Ia gagal lolos cut setelah bermain dengan skor 74-78.
Menariknya, dalam posisi demikian, ia bertolak ke Bali National dan tampaknya berhasil menyingkirkan penatnya kompetisi dengan torehan even par 71. Skor 76 pada hari kedua tampaknya akan membuatnya kembali melepas kemenangan.
Sampai pada hari terakhir, ketika ia seakan menarik kembali semua pengalamannya sepanjang tahun ini dan berusaha bangkit. Birdie di hole ke-54 sekali lagi menyelamatkannya. Meski tidak langsung memberinya kemenangan, ia berhasil memaksa Benita memainkan babak play-off.

Setelah keduanya bermain imbang dalam dua hole play-off yang dimainkan di hole 18, keduanya harus kembali memainkan hole tersebut. Hanya saja kali ini hole tersebut dimainkan dari tengah hingga memberi jarak layaknya par 3. Dan sekali lagi, Jonathan mencatatkan birdie untuk memastikan gelar keenam, sekaligus gelar kedua yang ia raih melalui play-off.
Skor 71-76-70 di lapangan yang dimainkan 71 par itu jelas bukan skor yang indah, namun dalam posisi tidak memiliki permainan terbaik, ia masih mampu meraih kemenangan. Karakter inilah yang kerap penting bagi tiap pegolf untuk tetap bisa bersaing.
”Rasanya sangat senang (bisa kembali menang). Hari ini (kemarin) permainan saya cukup oke dibandingkan hari sebelumnya, terutama hari kedua, tapi jelas saya membutuhkan istirahat,” akunya.
Sejauh ini prestasinya merajai ITGPS memang belum ia terjemahkan ke panggung regional-internasional. Dengan kepenatan yang memuncak, tidak mengherankan jika penampilan Jonathan di Vietnam jauh dari standardnya.
”(Turnamen di) Vietnam itu lebih ke burnout saja,” akunya, ”saya butuh istirahat dan berlatih lagi.”

Selain faktor kepenatan itu, patut diingat juga bahwa dalam kompetisi ITGPS, pengaturan lapangan sulit disamakan dengan standar kompetisi skala ADT, bahkan Asian Tour yang menuntut persiapan lapangan bisa mencapai beberapa bulan sebelum menjadi panggung ujian. Sementara dengan beban biaya lapangan yang tinggi, ITGPS masih belum bisa menyuguhkan ujian yang serupa.
Seperti kebanyakan rekan seprofesinya, Jonathan juga mengakui ITGPS menjadi panggung persiapan yang penting untuk kompetisi skala ADT dan Asian Tour.
”Pastinya begitu, (tapi) menurut saya hanya perlu memilah-milah turnamen dan mengatur jadwal sehingga ketika bermain tetap berada pada kondisi terbaik. Jelas golf ini olahraga yang bisa dibilang lelahnya itu di mental atau pikiran. Jadi, menurut saya 2-3 minggu (berturut-turut) itu sudah mentok dan perlu istirahat,” jelasnya.
Terlepas dari kondisi demikian, enam kemenangan dari total 11 turnamen yang ia ikuti jelas menjadi catatan yang luar biasa. Dan kemenangan kali ini jelas menjadi salah satu alasan mengapa ia menjadi pegolf terbaik Indonesia saat ini.
Dengan tiga pekan menuju ajang ADT berikutnya di Indonesia, Jonathan punya waktu untuk mengambil rehat yang ia butuhkan. Artinya, kita bisa melihat sosok yang lebih segar ketika ia kembali ke Gunung Geulis Country Club untuk gelaran OB Golf Championship.

