Keluarga dan ”Gandhi of Golf” berperan besar dalam kebangkitan An Byeonghun menjelang The Open Championship.
Dua pekan absen dari ajang Major tertua di dunia, An Byeonghun akhirnya akan kembali mengikuti The Open Championship. Partisipasinya pekan ini sekaligus menandakan kebangkitan kariernya yang terpicu oleh kehidupan berkeluarga dan pelatih swing, yang ia sebut sebagai ”Gandhinya dunia golf”.
An meraih tiketnya ke ajang Major pria terakhir tahun ini, yang kali ini digelar di Royal Liverpool, di Hoylake, Inggris. Ia memastikan partisipasinya ini setelah pada pekan lalu finis T3 pada ajang Genesis Scottish Open, yang diikuti banyak pemain bintang. T3 itu juga menjadi finis PGA TOUR terbaik baginya pada musim ini.
Pekan memukau di lapangan links Skotlandia itu juga diwarnai oleh penampilan cemerlang yang membuatnya memimpin klasemen pada hari pertama dengan skor 61. Penampilan tersebut seakan ingin mengingatkan bahwa An pernah berada di 25 besar dunia dan mewakili Tim Internasional pada Presidents Cup 2019, sebelum kehilangan kartu PGA TOUR pada tahun 2021.
Dari menempati peringkat 332 pada Official World Golf Ranking pada awal 2022, An telah bangkit dan menembus 100 besar pada pekan ini dan akan tampil untuk ke sembilan kalinya pada The Open sebagai pegolf peringkat 85 di dunia. Tidak mengherankan jika dalam waktu dekat ia bisa kembali menembus 25 besar bahkan lebih baik lagi.
”Kehidupan keluarga sangatlah luar biasa. Mereka bisa membuat Anda melupakan banyak tekanan dari golf.”
”Ini menjadi bonus, ajang Major, dan di sinilah seluruh pegolf terbaik berkumpul. Semoga saya bisa kembali menikmati finis yang bagus pekan ini,” ujar An. ”Dari kembali (ke PGA TOUR) dari tahun lalu saat kehilangan kartu saya, tahun ini rasanya saya sudah bermain jauh lebih baik, dan bermain golf dengan lebih siap. Rasanya saya bermain golf lebih baik lagi ketimbang tiga, empat tahun lalu.”
Keberhasilannya kembali ke permainan terbaik, di mana ia mengemas tiga kali di sepuluh besar dan tujuh kali masuk 25 besar, serta berada di peringkat 49 klasemen FedExCup berakar dari keberadaan keluarganya—dua anak dan Jamie, sang istri. Seperti kebanyakan mereka yang sudah berkeluarga, pulang ke kamar hotel atau ke rumahnya di Orlando dengan keluarga mudanya yang menunggu selepas kerja keras di lapangan memberinya sukacita yang luar biasa, sekaligus membantunya melepas tekanan berat dari lapangan. Dengan kedua orangtuanya yang merupakan atlet tenis meja Olimpiade, An juga mendapat dukungan yang sangat ia butuhkan untuk merangkak keluar dari keterpurukannya.
”Kehidupan keluarga sangatlah luar biasa. Mereka bisa membuat Anda melupakan banyak tekanan dari golf. Setelah turnamen, Anda bisa pulang dan bermain dengan anak-anak, tidak ada waktu lagi untuk golf. SUdah pasti ketika berada di lapangan golf, Anda ingin memikirkan golf, ingin berjuang keras. Namun, saat pulang, Anda berusaha bermain dengan keluarga. Senang bisa mendapat dukungan dari mereka,” jelas An.
”Untungnya, saya cukup serit melakukan perjalanan dengan keluarga tahun ini, yang terbukti menyenangkan. Setidaknya, saya bisa melihat anak-anak bertumbuh. Itulah pengalaman terbaiknya, layaknya kehidupan yang normal. Ketika ada keluarga di sekitar Anda, ada lebih banyak hal lagi yang bisa dilakukan. Anda bisa berjalan-jalan, main dengan anak-anak, atau apa pun. Semua itu mengalihkan pikiran dari golf, sangat membantu terutama ketika mengalami hari yang berat.”

Mantan juara U.S. Amateur ini juga memuji peran pelatih swing-nya Sean Foley, yang juga pernah melatih Tiger Woods dan Justin Rose. Menariknya, tahun ketika An mulai berlatih dengan Foley awal 2021, ia mengalami periode buruk dengan kehilangan kartu PGA TOUR, sebelum akhirnya bisa kembali dengan melewati Korn Ferry Tour, di antaranya, dengan satu kemenangan.
”Sangat besar … ia menjadi anggota tim yang sangat penting,” ujar An mengenai Foley. ”Selain golf, ia membantu banyak hal di luar golf. Ia membahas hal-hal lain, dan tidak sekadar cara bermain. Ada beberapa hal yang tidak bisa disentuh orang lain, dan dia justru banyak membantu.
”Saya berlatih dengannya dua kali seminggu di Lake Nona dan kami memukul bola selama dua jam dan mungkin memukul hanya 100 bola, dan kami mengobrol sejam setengah tentang hal-hal lain, seperti pola pikir. Golf adalah olahraga mental dan sangat rumit, olahraga yang sulit dan kami ingin memiliki mental yang sangat kuat. Dia sangat unik.
”Ketika menjuarai LECOM Classic (pada Korn Ferry Tour tahun 2022), ia menelepon saya tiap malam dan membahas hal-hal seperti, ’Hey Ben, jangan lupa untuk tiap pukulan … satu demi satu pukulan saja. Jangan pikirkan hole berikutnya, jangan pikirkan hole terakhir. Fokus pada saat ini saja.’ Dia hampir seperti Gandhinya dunia golf. Pola pikirnya sangat kuat dan saya menyukainya. Dia suka menonton video-video motivasi dan membaca buku-buku dan dia akan mengirimi saya video, yang tidak pernah soal swing golf orang lain, tapi kutipan-kutipan motivasi dan hal-hal dengan perspektif dalam kehidupan. Saya selalu membaca semua itu.”
Saya senang melihat arah saat ini, dan bagaimana saya menjalaninya dan bisa mencapai hasil yang lebih baik adalah target utama saya.”
Saat ini ia sudah hampir pasti mengikuti rangkaian FedExCup Playoff bulan depan dan akan terus mengejar mimpi meraih gelar PGA TOUR perdananya. Bisa kembali ke 50 besar dunia menjadi target yang memungkinkan, meskipun ia sadar bahwa ia hanya perlu melakukan setahap demi setahap.
”Memang tidak mudah (untuk menjuarai ajang PGA TOUR). Sudah pasti, sangat kompetitif dan kalau melihat ke belakang, saya pernah menang pada Korean Tour, Challenge Tour, Korn Ferry Tour, dan European Tour (DP World Tour). Mungkin ada lebih banyak tekanan, tapi sensasi kemenangan itu luar biasa dan terjadi dengan permainan golf yang bagus. Anda juga mesti sangat beruntung. Finis di sepuluh besar, lima besar, semua itu menuntut permainan golf yang bagus, tapi untuk menang Anda mesti bermain dengan baik atau juga menjadi benar-benar beruntung. Siapa tahu saya beruntung dalam tahun-tahun ke depan, tapi kalau sering finis di lima besar, sepuluh besar, semua itu masih menjadi permainan golf yang bagus,” jelasnya.
”Saya hanya ingin main sedikit lebih baik dan mengikuti TOUR Championship. Masuk 50 besar di dunia itu susah karena ada banyak pemain tangguh. Saya pikir semua itu akan mengikuti ketika bisa main golf dengan konsisten pada turnamen-turnamen besar. Saya senang melihat arah saat ini, dan bagaimana saya menjalaninya dan bisa mencapai hasil yang lebih baik adalah target utama saya.
”Saya ingin menjadi pemain seterbaik yang saya bisa. Mungkin 50 besar di dunia, mungkin seratus besar di dunia. Kita tidak pernah tahu. Saya tak ingin membuat patokan. Kenapa juga mesti membuat batasan ketika saya sendiri tak tahu apa batasannya? Entah semahir apa saya nantinya.”


