Setelah lebih dari lima tahun, pegolf Australia Jason Day kembali ke lingkaran para juara di kancah PGA TOUR lewat ajang AT&T Byron Nelson. Mantan pegolf No.1 Dunia berusia 35 tahun ini menjalani masa-masa berat dalam beberapa tahun terakhir akibat cedera punggung yang melumpuhkan dan kehilangan ibunya, Adenil, yang melawan kanker hingga akhir hayatnya pada tahun lalu. Kemenangan yang ia raih kali ini sangatlah emosional lantaran terjadi pada Hari Ibu di AS dan juga di hadapan istri dan anak-anaknya.
Oleh Jason Day.
Memenangkan gelar PGA TOUR ke-13 dengan keluarga di sekitar saya sangatlah spesial. Sudah lebih dari lima tahun berlalu sejak terakhir saya menang dan keluarga kami pun bertumbuh menjadi empat anak dan bersiap menyambut yang kelima. Kemenangan ini juga menjadi lebih istimewa lagi di hadapan istri saya Ellie dan anak-anak. Dan bisa menang pada Hari Ibu dan bisa menempatkan nama ibu saya di rompi kedi, jelas membuat saya sangat bahagia.
Saya sedikit meneteskan air mata setelah sadar saya memenangkan AT&T Byron Nelson. Mengingat apa yang ibu saya, Adenil, alami mulai tahun 2017 hingga meninggal tahun lalu karena kanker, rasanya sangat emosional. Belum lagi saya mengalami cedera punggung.
Sejujurnya, saya hampir memutuskan berhenti dari golf beberapa tahun lalu. Ada masa ketika saya memikirkan berhenti bermain golf karena tekanan yang saya alami dan dampaknya bagi kesehatan saya. Secara mental, saya tidak kuat dan tidak merasa percaya diri. Sejujurnya, rasanya saya tidak punya permainan (yang kuat) dan mungkin saya menjadi salah satu dari mereka yang menjalani karier yang bagus lalu cedera mulai menghantam.
Saya tidak memberi tahu Ellie sedikit pun dan saya merasa tidak apa-apa karena masa-masa itu menjadi masa-masa yang sangat menekan dalam hidup saya. Ellie tidak pernah berhenti mendorong saya untuk bisa kembali menang. Dia sellau mendorong saya untuk berusaha dan menjadi lebih baik. Saya juga harus berterima kasih banyak kepada tim saya karena orang-orang, seperti para pelatih kebugaran, kedi, dan pelatih saya Chris Como, mereka menerima beragam komentar pedas dan negatif dari saya. Mereka menjadi grup penopang yang saya butuhkan untuk mendorong saya melalui masa-masa sulit dan peran mereka sangatlah penting. Jika Anda tak mendapatkan orang-orang yang tepat, akan sangat sulit untuk bisa meraih sukses dalam golf. Saya tahu kalau ini olahraga individu, tapi Anda butuh tim yang tepat.
Rasanya aneh bisa mengangkat trofi lagi dan saya juga tidak bisa menjelaskannya. Bisa menjalani semua yang sudah saya lalui dan bisa kembali menang sungguh memuaskan, dan saya tahu ada kerja keras yang tidak sedikit di belakang layar yang tidak dilihat banyak orang. Begitulah bagian kompetisi dari perjalanan ini dan berusaha untuk berjuang menjadi lebih baik.
Saya senang bisa berlatih dengan Chris sejak beberapa tahun terakhir. Sebenarnya hubungan kami bermula ketiga Tiger (Woods) mengalami yip di chipping-nya, dan ia meminta saya berkunjung ke tempatnya sekadar membahas teknik-teknik chipping. Chris sedang melati h Tiger dan ia telah melihat begitu banyak pengujian bio 3D dari chipping saya dan mereka ingin mengetahui pemikiran saya soal hal tersebut.
Setelah pertemuan itu, saya bisa bilang kalau Chris tahu banyak soal golf dan memahaminya secara mendalam terkait tentang bagaimana cara kerja badan dan bagaimana pemikirannya soal apa yang mestinya sebuah club lakukan. Dia sangat mencerahkan. Terkadang saya bisa bangun jam 2 pagi dan memikirkan swing golf saya, lalu saya menelepon Chris dan meminta pendapatnya. Pada hari berikutnya, saya akan berlatih di lapangan. Satu setengah tahun pertama, kami hanya melatih gerakan tubuh untuk benar-benar mencoba dan melakukan swing dengan cara yang saya rasa bagus. Sekarang rasanya swing saya bergerak ke arah yang tepat pada titik di mana saya bisa mengayunkan sekeras yang saya inginkan.

Naik dan turun dalam olahraga golf memang menarik. Anda jelas belajar banyak tentang diri sendiri ketika berada di titik yang rendah, melebihi ketika berada di titik tertinggi. Saya belajar bahwa saya masih bisa menangani tekanan dan tetap fokus, dan bahwa saya masih punya (kualitas) permainan untuk bisa menang. Sebagian besar sukses saya pada ajang Byron Nelson ini didasarkan pada banyaknya latihan, enam bulan silam, setahun lalu, atau dua tahun lalu, yang membangun permainan saya untuk mencapai tahap yang sekarang, di mana saya bisa berhasil di level (tinggi) seperti ini. Saya tahu kalau rasa syukur yang belakangan mungkin menjadi perasaan terbaik sepanjang masa. Rasa syukur yang seketika memang bagus, tapi rasa syukur belakangan adalah yang terbaik.
Saya pikir bisa berkembang dari seorang pegolf yang mahir menjadi pegolf besar dan memenangkan kejuaraan-kejuaraan Major, jelas Anda perlu memenangkan lebih daripada satu Major. Saya jelas berpikir permainan saya cukup bagus untuk menang sekarang kapan pun itu dan bisa dominan, seperti Jon Rahm, Scottie Scheffler, atau Rory McIlroy. Saya hanya perlu membangun konsistensi itu.
Jiwa pesaing dalam diri saya ingin agar saya berusaha untuk terus berjuang. Pada titik ketika saya berbicara kepada seorang terapis karena telah mengalami banyak hal, saya terus membayangkan diri saya kembali ke lingkaran para juara, dan senang sekali bisa kembali menjadi juara.
CATATAN: Para penggemar di Indonesia kini bisa menyaksikan Jason Day dan bintang-bintang PGA TOUR lainnya melalui Mola TV.


