Tom Kim menjadi pegolf pertama yang berhasil mempertahankan gelar Shriners Children’s Open sejak Jim Furyk (1998-1999).
Bintang golf Korea Tom Kim sukses mempertahankan gelar Shriners Children’s Open pada hari Minggu (15/10) kemarin setelah menuntaskan putaran final dengan skor 5-under 66 untuk unggul satu stroke atas pegolf Kanada Adam Hadwin. Keberhasilannya ini sekaligus menjadikan pegolf berusia 21 tahun itu sebagai pegolf pertama yang mempertahankan gelarnya dalam 24 tahun terakhir penyelenggaraan turnamen ini.
Kemenangan Kim ini tidak terlepas dari skor 62 yang ia torehkan pada hari Sabtu, yang melambungkan dirinya sebagai salah satu pemimpin klasemen bersama Hadwin dan Lanto Griffin. Ia melanjutkan penampilan solid itu ke hari terakhir dan menorehkan tujuh birdie dengan dua bogey, yang membantunya mengumpulkan skor total 20-under 264.
Jim Furyk menjadi pegolf terakhir yang sukses mempertahankan gelar pada turnamen ini (1998-1999).
Prestasi ini turut menempatkan Kim sebagai pegolf termuda keempat dalam sejarah PGA TOUR, yang berhasil memenangkan tiga trofi dalam usia 21 tahun, 2 bulan, dan 13 hari. Tiga nama lainnya ialah Gene Sarazen (20 tahun, 5 bulan, 23 hari), Horton Smith (20 tahun, 8 bulan, 19 hari), dan Tiger Woods (21 tahun, 13 hari).
”Sangat manis. Rasanya dua kemenangan terdahulu terjadi begitu cepat. Butuh lebih lama daripada kedua kemenangan itu sampai akhirnya bisa menjuarai gelar ketiga, tapi rasanya sangat manis,” tutur Kim. ”Kemenangan ini untuk tim saya. Secara pribadi saya berjuang keras, tapi tanpa bantuan mereka, saya takkan bisa mewujudkan gelar ketiga. Prestasi ini sungguh manis bagi kami.”
Hadwin, yang mengejar kemenangan pertamanya sejak Valspar Championship 2017, hanya bisa bermain dengan skor 67. Adapun pegolf Korea lainnya Lee Kyounghoon menorehkan skor 68, sekaligus mempertegas kualitas pegolf Asia di jajaran atas. Ia finis di posisi T7.
Keberhasilan Kim kali ini jelas sangat berkesan, mengingat ia tak dapat mempertahankan gelar Wyndham Championship bulan Agustus lalu lantaran cedera engkel.
”Sungguh sulit buat saya, pada pekan Wyndham itu, dan hanya bisa diam di rumah. Sungguh berat buat saya duduk di sofa dan tidak bisa melakukan apa-apa,” tutur Kim lagi. ”Secara pribadi masa-masa itu sungguh membuat frustrasi sebagai pemain karena turnamen itu merupakan yang pertama yang saya menangkan, dan saya sungguh ingin bisa kembali ke Shriners untuk setidaknya bisa kembali sehat dan setidaknya punya peluang menang sebagai juara bertahan.
”Menang pekan ini makin membuat saya merasa kehilangan pekan (Wyndham Championship) itu, yang merupakan kemenangan pertama saya. Tidak punya kesempatan untuk bersaing sebagai pemain di sana jelas berat. Namun, saya sungguh ingin, tentulah kemenangan ini didedikasikan untuk orang-orang yang ada di sini, tapi saya juga ingin mendedikasikannya kepada orang-orang di Wyndham.”
”Skor 5-under kelihatannya menjadi skor terburuk yang ia bukukan hari ini. Saya sudah tahu kalau harus main dengan putaran yang bagus untuk bisa bersaing dan menang.” — Adam Hadwin.
Momen kunci bagi Kim terjadi di hole 15 dengan birdie dari jarak 3,6 meter, yang menjadi birdie ketujuh baginya. Harapan Hadwin untuk menyaingi Kim harus pupus setelah bogey di hole 16 par 5, dan ia hanya bisa finis sendirian di tempat kedua.
”Sangat ketat antara saya dan Adam, dan rasanya hampir seperti match play begitu kami melewati hole 14. Antara saya yang menginginkannya atau dia, dan kami berdua sama-sama melihat apa yang terjadi,” sambung Kim. ”Mungkin itulah putaran final paling emosional yang pernah saya rasakan dari sisi kemenangan, satu setengah tahun lalu.”
Meski gagal mewujudkan kemenangan, Hadwin masih bisa memberi pujian bagi pesaingnya itu. ”Permainan Tom sangat meyakinkan. Agak mengejutkan juga dia bisa mendapat bogey di hole 5 dan 6. Permainannya sangat meyakinkan. Fairway dan green, dia hampir tak pernah kehilangan irama atau langkah,” tutur Hadwin. ”Skor 5-under kelihatannya menjadi skor terburuk yang ia bukukan hari ini. Saya sudah tahu kalau harus main dengan putaran yang bagus untuk bisa bersaing dan menang.”
Adapun Lee berhasil bangkit dari bogey di hole 1 dan 3 untuk kemudian mencatatkan lima birdie dan menorehkan sepuluh besar keempatnya musim ini. Kini ia berada di peringkat 76 pada klasemen FedExCup dan berniat untuk tampil lebih baik lagi dalam sisa turnamen musim gugur terakhir demi mendapatkan status yang lebih baik pada tahun 2024.
”Sangat disayangkan saya tak bisa memangkas ketertinggalan di lima hole terakhir ketika saya membutuhkannya. Akhirnya, saya harus tersingkir dari persaingan. Namun, secara keseluruhan pekan ini saya melihat banyak peningkatan. Saya mesti meningkatkan peringkat saya di sisa seri musim gugur supaya bisa bertanding pada turnamen-turnamen besar tahun depan. Musim ini belum berakhir buat saya. Saya ingin melanjutkan momentum yang bagus ini untuk sisa turnamen yang ada, mulai dari ZOZO CHAMPIONSHIP pekan ini, jadi saya bisa memberi tahu para penggemar Korea saya kalau saya meraih kemenangan sebelum akhir tahun ini,” tutur Lee.


